Liputan

Bunda Daniek Ajak Siswa Jadi Pahlawan Masa Kini

78
×

Bunda Daniek Ajak Siswa Jadi Pahlawan Masa Kini

Sebarkan artikel ini

Selawe.com – Riuh renyah tawa dan semangat memenuhi Perpustakaan Al Hikmah Mugeb Primary School pada Kamis (13/11/2025). Seluruh siswa kelas I SD Muhammadiyah 1 GKB (Mugeb Primary School/Mugeb PS) menyimak antusias kegiatan Guest Teacher yang mengusung tema “Be Brave, Be Kind, Be a Hero”.

​Untuk memandu acara inspiratif ini, sekolah menghadirkan pendongeng Daniek Pujiarti, seorang anggota dari Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI).

​Dalam sambutannya sebelum dongeng dimulai, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Siti Latifah, S.Pd., berpesan agar para siswa menyimak dengan saksama.

​”Anak-anak, saat dongeng berlangsung harus didengarkan dengan baik ya, karena nantinya apa yang disampaikan pasti banyak pelajaran yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

​Membangun Fokus dengan Aksi Atraktif

​Daniek Pujiarti membuka dongengnya dengan cara yang sangat atraktif. Ia sengaja memegang mikrofon dengan tangan kiri secara tidak wajar, memancing interaksi siswa.

​”Anak kok tidak ada suaranya ya?” tanyanya.

​”Salah pegangnya, harus dibalik dulu!” jawab para siswa serempak. Mereka pun bersemangat membantu membenarkan cara memegang mikrofon yang tepat.

​Antusiasme siswa makin memuncak ketika Bunda Daniek, sapaan akrabnya, memperkenalkan “sahabatnya”, sebuah boneka tangan yang ia keluarkan dari tasnya. Ditemani bonekanya, Daniek mengajak siswa melakukan ice breaking untuk melatih fokus.

​“Siapa yang sudah mandi?” tanya Daniek. Para siswa kompak mengacungkan jari sambil berteriak, ‘Saya!’

​Namun, saat pertanyaan diulang, Daniek memberikan pertanyaan jebakan, “Siapa yang mandi bersama sapi?” Sontak, beberapa siswa yang kurang fokus ikut mengacungkan jari, mengundang gelak tawa dari teman-temannya yang lain.

​Setelah suasana cair, Daniek mulai mengisahkan dongeng utamanya tentang pahlawan.

​”Pada suatu hari, siswa kelas 1 berperan menjadi pahlawan yang menyerang penjajah. Ada seorang anak bernama Ali yang terlihat sedih sekali berdiam diri di bangkunya,” kisahnya.

​”Lalu Ustazah,” lanjutnya, “menghampiri Ali. Ustazah mengelus-elus Ali sambil bertanya, ‘Kenapa Ali kok sedih?'”

​Daniek menceritakan, Ali yang awalnya menutup wajah, akhirnya bercerita bahwa ia marah. “Ali marah karena hari ini dia seharusnya berperan sebagai Pangeran Diponegoro, tetapi pedang yang dibawakan ibunya loyo, kan seharusnya pedangnya kuat agar bisa melawan para penjajah,” tutur Daniek.

​”Lalu, Ustazah meminjamkan pedangnya yang panjang. Ali pun kembali senang dan bahagia,” tambahnya.

​Pahlawan Sejati Itu Berjuang dan Mengasihi

​Melalui cerita tersebut, Daniek menjelaskan makna pahlawan yang lebih luas.

​”Pahlawan adalah pejuang. Pahlawan tidak harus melawan penjajah, tetapi pahlawan itu yang berjuang menegakkan keadilan, yang berjuang menebarkan kasih sayang sesama manusia,” jelasnya.

​Sambil berinteraksi aktif dengan berkeliling, Daniek melontarkan pertanyaan reflektif kepada siswa. “Siapa yang menjadi pahlawan masa kini?”

​Secara bergantian, siswa maju dan menjawab dengan percaya diri. Jawaban mereka beragam, mulai dari dokter yang mengobati orang tua, koki, guru, orang tua, hingga tukang kebersihan.

​Daniek mengapresiasi semua jawaban tersebut. “Pahlawan di zaman sekarang adalah dokter, guru, TNI, polisi, tukang bersih-bersih, dan lain-lain,” ujarnya.

​”Anak-anak, orang tua juga pahlawan kita karena Ayah dan Bunda sudah bekerja keras untuk kita, bekerja dari pagi sampai malam,” imbuhnya.

​Di akhir ceritanya, Daniek berpesan agar para siswa menyampaikan “saranghaeyo” (ucapan cinta atau terima kasih) kepada kedua orang tua dan guru.

​Siswa dan Daniek mengakhiri kegiatan dengan membuat boneka tangan bersama-sama. (*)

Penulis Novita Zahiroh Editor Sayyidah Nuriyah