
Perlulah kita merenung sejenak untuk hari ini. Sudah berapa kali hati kita telah benar-benar diam dan fokus hanya kepada Allah? Jika pikiran kita masih seperti browser dengan puluhan tab yang terbuka secara bersamaan, mungkinkah itu tanda bahwa hati kita belum dilibatkan berpuasa?
Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik
Selawe.com – “Puasa tingkat yang paling khusus adalah puasanya hati dari ambisi-ambisi yang rendah dan pikiran-pikiran duniawi, serta menahannya dari selain Allah Ta’ala secara totalitas.“ Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 305)
Memasuki hari keempat belas, kita hampir sampai di garis tengah bulan suci ini. Perut mungkin sudah mulai terbiasa, lisan pun sudah mulai terlatih.
Tapi, bagaimana dengan “ruang kendali” utama kita? Catatan hari ini kita akan mulai masuk ke lapisan terdalam dari syariat puasa yaitu puasanya hati.
Dari pengalaman selama Ramadan, ketika kita sedang shalat tarawih, mungkin pernah merasa melakukannya dengan khusyuk, namun di dalam kepala, kita sedang sibuk menghitung sisa saldo rekening, memikirkan deadline kantor besok pagi, atau membayangkan model baju lebaran apa yang akan dibeli.
Inilah sekelumit realita puasa batin kita yang masih sering bocor. Kita mampu mengunci mulut dari makanan, tapi kita membiarkan pintu hati kita terbuka lebar untuk hiruk-pikuk duniawi.
Kita merasa sudah saleh karena tidak makan, padahal di dalam hati, kita masih menyimpan rasa iri pada kesuksesan teman di medsos, dendam pada rekan kerja, atau ambisi-ambisi dunia yang membuat kita merasa gelisah sepanjang hari.
Kita berpuasa secara fisik, tapi mental kita tetap rakus melahap pikiran-pikiran yang menjauhkan kita dari ketenangan ruhani.
Hati yang Batal Puasanya
Pokok dari klasifikasi puasa tingkat tertinggi (Khusus al-Khusus) oleh Imam al-Ghazali bukan lagi soal menahan lapar atau menjaga panca indera, melainkan soal fokus. Beliau berpendapat bahwa puasa seseorang bisa dianggap batal di mata Tuhan jika ia membiarkan hatinya dikuasai oleh selain Allah.
Sebagai tahap awal, puasa di tingkatan umum dan khusus masih berkutat pada penjagaan fisik dan panca indera. Hal ini sebagai proses dan sudah bagus, karena bagi al-Ghazali ini merupakan persiapan menuju level selanjutnya.
Baru di tahap tertinggi, hati disadari sebagai sebuah singgasana yang tidak boleh diduduki oleh siapa pun kecuali Sang Pencipta.
Berpikir tentang urusan duniawi yang tidak mendesak dianggap sebagai gangguan bagi kesucian puasa. Mengapa? Karena hati yang penuh dengan dunia tidak akan menyisakan ruang bagi cahaya Ilahi.
Puasa adalah momen untuk meliburkan ambisi. Dunia perlu dikejar, tapi jangan kita biarkan ia menginap di dalam hati terutama saat kita sedang dalam madrasah spiritual Ramadan. Jika hati kita masih dipenuhi berisiknya urusan dunia, maka rasa lapar dari puasa tidak akan pernah berubah menjadi ketenangan.
Perapian Pikiran (Mental Decluttering)
Untuk meraih ketenangan dari rasa lapar, kita harus mulai melibatkan hati untuk benar-benar berpuasa dan tidak terjebak menjadikannya hanya sebagai penampung sampah pikiran duniawi.
Pertama, kita lakukan latihan hening sejenak. Sebelum memulai aktivitas atau setelah shalat, kita duduk diam selama 5 menit tanpa ponsel.
Mencoba menyadari pikiran-pikiran duniawi apa yang sedang menghantui kita. Sugesti pada diri sendiri bisa diterapkan dengan mengatakan, misal, “urusan ini penting, tapi sekarang bukan waktunya. Sekarang adalah waktu khusus untuk hatiku.”
Kedua, menyaring input hati. Kita kurangi paparan informasi yang memicu ambisi duniawi berlebih seperti, mengecek harga saham setiap jam, memantau likes media sosial, atau membaca berita gosip. Kita wajib memberi hati makanan ruhani berupa dzikir.
Bisa dimulai dengan dzikir-dzikir ringan yang artinya kita ketahui untuk kemudian diresapi maknanya semampu kita.
Ketiga, kita niatkan aktivitas duniawi sebagai ibadah. Ketika kita terpaksa memikirkan urusan dunia (pekerjaan, dll), ubah perspektifnya. Jangan diniatkan untuk ambisi pribadi, tapi sebagai amanah dari Allah.
Dengan begitu, pikiran tentang dunia pun berubah nilai menjadi ibadah, sehingga hati kita tidak akan terasa “tercemar”.
Perlulah kita merenung sejenak untuk hari ini. Sudah berapa kali hati kita telah benar-benar diam dan fokus hanya kepada Allah? Jika pikiran kita masih seperti browser dengan puluhan tab yang terbuka secara bersamaan, mungkinkah itu tanda bahwa hati kita belum dilibatkan berpuasa? (*)
Editor Ichwan Arif.












