
Oleh Muhammad Zakariyal Anshor, SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School)
Ketika berat badan turun, apakah tubuh benar-benar lebih sehat?
Selawe.com – Setiap Ramadan, banyak orang merasa menemukan cara alami untuk menurunkan berat badan. Puasa di bulan suci Ramadan kerap kali menjadi kali menjadi side quest bagi banyak khalayak umum untuk melakukan “detoks” sekaligus menurunkan berat badan yang sudah melebihi ambang ideal.
Selain menimba begitu banyak pahala serta mendapatkan berbagai keutamaan dari Allah SWT, kita juga sangat dianjurkan menjaga kualitas fisik. Hal ini selaras dengan salah satu hadis yang berbunyi: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah, jangan engkau lemah…” (HR. Muslim No. 2664).
Namun, faktanya, aktivitas fisik kaum muslimin pada bulan Ramadan justru sering kali mengalami penurunan drastis. Dengan berbagai alasan, banyak di antara kita yang justru melakukan kebiasaan yang membuat badan semakin lemah.
Kondisi ini diperparah ketika memasuki 1 Syawal, di mana asupan kalori yang masuk jauh melebihi kebutuhan tubuh. Akibatnya, ancaman obesitas maupun pengecilan massa otot bukanlah sekadar angan-angan belaka, melainkan risiko nyata yang mengintai di balik euforia hari kemenangan.
Pengecilan otot di sini bermakna bahwa sebagian orang mungkin berhasil menurunkan angka di timbangan, namun gagal mencapai tingkat kebugaran yang sebenarnya. Hal ini terjadi karena mereka hanya melakukan puasa dan defisit kalori tanpa disertai aktivitas fisik yang memadai.
Penurunan berat badan tersebut sering kali menipu; angka yang menyusut bukan hanya berasal dari lemak, melainkan juga massa otot dan kadar air. Secara ilmiah, penurunan berat badan yang hanya mengandalkan pengurangan makan tanpa olahraga terbukti tidak akan meningkatkan derajat kebugaran seseorang secara signifikan.
Strategi Bugar Teladan Stamina Rasululla
Oleh karena itu, kunci untuk menjaga agar tubuh tetap bugar—bukan sekadar kurus—terletak pada keseimbangan antara asupan nutrisi dan gerak tubuh. Mengingat jendela makan yang terbatas selama kurang lebih 14 jam, olahraga menjadi penyempurna untuk mengembalikan proporsi tubuh ideal.
Untuk menyiasati waktu yang sempit, kita dapat memilih waktu 30–60 menit menjelang berbuka (ngabuburit) untuk olahraga intensitas rendah hingga sedang, agar cairan yang hilang bisa segera terganti. Alternatif lainnya adalah melakukan latihan beban setelah salat Tarawih saat energi tubuh telah terisi kembali.
Semangat menjaga ketangguhan fisik ini sebenarnya merupakan bagian dari sunah. Rasulullah SAW bersabda: “Berlatihlah memanah dan berkuda. Dan jika kalian memanah, itu lebih aku sukai daripada kalian berkuda.” (HR. Tirmidzi).
Bukti kebugaran beliau juga terekam dalam riwayat dari Aisyah r.a. yang pernah lomba lari dengan Nabi ﷺ. Bahkan saat usia beliau sudah terpaut jauh dengan Aisyah, Rasulullah tetap mampu memenangkan perlombaan tersebut. Kekuatan fisik beliau pun diakui para sahabat; Ali bin Abi Thalib r.a. mengisahkan bahwa pada Perang Badar, Rasulullah adalah orang yang paling dekat dengan musuh dan yang paling kuat (asyadduun naas) di medan tempur.
Teladan Stamina Rasulullah
Berdasarkan berbagai riwayat tersebut, kita dapat menarik kesimpulan logis bahwa Rasulullah ﷺ memiliki stamina dan kekuatan fisik yang luar biasa. Ketangguhan beliau di medan perang serta ketangkasannya dalam berolahraga menunjukkan komposisi fisik yang sangat prima.
Hal ini patut kita jadikan pedoman untuk senantiasa menjaga kualitas fisik di bulan Ramadan. Dengan tubuh yang bugar, kita tidak hanya mendapatkan kesehatan lahiriah, tetapi juga memiliki energi yang lebih besar untuk memperteguh ketaqwaan dan memaksimalkan ibadah kepada Allah SWT.
Tanpa aktivitas fisik, penurunan berat badan selama Ramadan bisa menjadi sekadar ilusi kebugaran—sebuah keberhasilan semu yang hanya terlihat dari angka, tetapi tidak benar-benar memperkuat tubuh. Sebaliknya, ketika puasa disertai gerak yang cukup dan disiplin hidup yang baik, Ramadan dapat menjadi titik awal bagi terbentuknya tubuh yang lebih sehat sekaligus jiwa yang lebih kuat.
Sebab pada akhirnya, mukmin yang kuat bukan hanya mereka yang mampu menahan lapar sepanjang hari, tetapi juga mereka yang mampu menjaga tubuhnya tetap sehat, aktif, dan bermanfaat bagi kehidupan. (*)
Editor: Sayyidah Nuriyah












