Liputan

Smamio Jadi Rujukan 25 SMA Gresik dalam Gerakan Sekolah Resik

23
×

Smamio Jadi Rujukan 25 SMA Gresik dalam Gerakan Sekolah Resik

Sebarkan artikel ini
Smamio

Study tiru 25 SMA se-Kabupaten Gresik terkait program Gresik Sekolah Resik yang menjadikan SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik

Selawe.com – Menjaga sekolah tetap bersih bukan sekadar tentang halaman yang bebas sampah atau ruangan yang tertata rapi. Lebih dari itu, sekolah resik adalah tentang membangun kebiasaan, kepedulian, dan karakter yang tumbuh dari seluruh warga sekolah.

Semangat tersebut terasa dalam kegiatan study tiru 25 SMA se-Kabupaten Gresik terkait program Gresik Sekolah Resik yang menjadikan SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik sebagai salah satu rujukan praktik baik.

Kegiatan ini menjadi ruang untuk saling belajar, berbagi pengalaman, sekaligus melihat secara langsung bagaimana budaya sekolah resik dibangun dan dijaga secara berkelanjutan. Kegiatan tersebut berlangsung, Selasa (29/9/2026).

Sebagai salah satu pilot project Gresik Sekolah Resik, Smamio tidak hanya menunjukkan kondisi lingkungan sekolah yang bersih dan tertata, tetapi juga berbagai kebiasaan dan sistem yang dibangun untuk menumbuhkan kesadaran bersama.

Mulai dari kebersihan, kerapian, kesehatan, ketertiban, hingga kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari budaya sekolah sehari-hari.

Kegiatan study tiru ini juga menjadi momentum bertemunya 25 SMA untuk saling bertukar pengalaman. Para peserta tidak sekadar datang untuk melihat, tetapi juga berdiskusi dan menggali praktik-praktik yang dapat dikembangkan di sekolah masing-masing sesuai dengan karakter dan kebutuhannya.

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Gresik, Eko Agus Suwandi, S.Pd., M.M., menyampaikan apresiasi atas komitmen Smamio dalam menjalankan program Gresik Sekolah Resik.

“Sekolah resik bukan hanya berbicara tentang lingkungan yang terlihat bersih. Yang lebih penting adalah bagaimana kebersihan, kerapian, kesehatan, dan ketertiban menjadi budaya yang tumbuh dari kesadaran seluruh warga sekolah. Praktik baik yang dilakukan Smamio ini diharapkan dapat menginspirasi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Gresik,” ujarnya.

Pilot Project

Kepala Smamio, Ulyatun Nikmah, M.Pd., mengatakan bahwa kepercayaan sebagai salah satu pilot project merupakan amanah sekaligus kesempatan bagi sekolah untuk terus berbenah.

“Bagi kami, menjadi tempat study tiru bukan berarti kami sudah paling baik. Justru ini menjadi kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Apa yang kami lakukan mungkin dimulai dari hal-hal sederhana, tetapi ketika dilakukan bersama dan konsisten, akhirnya menjadi sebuah kebiasaan,” tuturnya.

Menurut Ulyatun, keberhasilan program sekolah resik tidak semata-mata diukur dari tampilan fisik lingkungan sekolah. Yang lebih penting adalah munculnya kesadaran dari setiap individu untuk menjaga lingkungan tanpa harus selalu diperintah atau diingatkan.

“Ketika siswa sudah terbiasa membuang sampah pada tempatnya, menjaga kerapian, peduli terhadap lingkungan, dan guru serta tenaga kependidikan memberikan teladan, maka sekolah resik tidak lagi terasa sebagai sebuah program. Ia sudah menjadi bagian dari karakter sekolah,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Sekolah Resik Smamio, Sa’roni, M.Pd., menjelaskan bahwa membangun budaya sekolah resik membutuhkan proses yang dilakukan secara konsisten.

“Sekolah resik bukan pekerjaan satu atau dua orang. Ini gerakan bersama. Karena itu, seluruh warga sekolah dilibatkan. Ada pembiasaan, pembagian tanggung jawab, pengawasan, dan evaluasi. Yang kami harapkan bukan sekolah yang hanya terlihat bersih ketika ada kunjungan atau penilaian, tetapi lingkungan yang memang terjaga setiap hari,” jelasnya.

Menurut Sa’roni, keterlibatan seluruh warga sekolah menjadi kunci agar program tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ketika setiap orang merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap lingkungan sekolah, budaya resik akan tumbuh secara lebih kuat dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, Smamio berharap praktik baik yang telah dibangun dapat memberikan inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Gresik. Setiap sekolah tentu memiliki karakter dan tantangan yang berbeda, tetapi semangat untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, nyaman, tertib, dan menyenangkan dapat terus dibangun bersama.

Bagi Smamio, tambahnya, menjadi bagian dari Gresik Sekolah Resik bukan sekadar tentang menjadi sekolah rujukan. Lebih dari itu, ini adalah tentang menjaga kebiasaan baik agar terus hidup dan menjadi bagian dari keseharian seluruh warga sekolah.

“Sebab, sekolah yang resik tidak lahir dalam satu hari. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan bersama, terus-menerus, hingga akhirnya menjadi budaya dan karakter. Dari Gresik, untuk sekolah yang lebih resik, sehat, nyaman, dan berkarakter,” tegasnya. (*)

Penulis Khinanjar Widiartama. Editor Ichwan Arif.