Ngilmui Siyam

Antara Syukur dan Tangis Perpisahan

9
×

Antara Syukur dan Tangis Perpisahan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Antara Syukur dan Tangis Perpisahan
Ilustrasi opini Antara Syukur dan Tangis Perpisahan (Al)

Kita akhirnya harus menyiapkan hati mengakhiri Ramadan dan memasuki Syawal. Malam terakhir tidak boleh merusak ikhtiar ibadah kita selama sebulan.

Oleh *F. Risallah, Ph.D.*, Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com –  “Rasulullah bersabda: hendaklah kalian (beramal) yang menjadikan lisan berdzikir dan hati bersyukur.” Kitab al-Sabr wa al-Syukr (4: 103)

Suara tabuhan bedug dan gema takbir akan memenuhi angkasa sejenak setelah ifthor di hari terakhir. Bagi sebagian orang, ini adalah bunyi “kebebasan”, namun bagi jiwa yang telah menemukan kemanisan dalam lapar dan sujud selama Ramadan, takbir ini membawa getaran yang campur aduk.

Malam takbiran sering kali menjadi momen paling berbahaya bagi spiritualitas kita. Setelah sebulan penuh disiplin, kita tiba-tiba merasa memiliki lisensi untuk melakukan apa saja.

Jalanan seringkali dipenuhi oleh konvoi, kembang api bersahutan, dan pusat perbelanjaan penuh. Ironisnya, malam yang seharusnya dipenuhi zikir keagungan Allah, banyak orang justru meninggalkan shalat berjamaah atau mengabaikan dzikir karena sibuk menyiapkan momen lebaran esok hari. Ada fenomena euphoria syukur yang melalaikan.

Kita berpindah secara ekstrim dari kutub “menahan diri” ke kutub “melepaskan diri.” Sehingga, kita melewatkan salah satu momen waktu di mana doa sangat mustajab, yaitu malam hari raya.

Syukur kita sering kali hanya sebatas di tenggorokan dan kemeriahan fisik, sementara hati kita justru mulai menjauh dari Sang Pemilik Ramadan tepat saat kita menyatakan kemenangan.

Syukur yang Bergetar

Imam al-Ghazali mengajarkan bahwa setiap akhir ibadah besar harus ditutup dengan dua perasaan yang menyatu, yaitu syukur atas taufik-Nya dan istighfar atas segala kekurangan kita.

Dalam rangka mengakhiri Ramadan dan mengawali Syawal, masih banyak dari kita yang merayakan takbiran sebagai pesta. Takbir hanya menjadi musik latar untuk kegembiraan duniawi. Mereka merasa menang karena berhasil melewati lapar, bukan menang melawan ego.

Di kesempatan lain, masih ada yang menghidupkan malam takbiran dengan ibadah. Sebagaimana anjuran imam al-Ghazali untuk menghidupkan malam dua hari raya agar agar hati tidak tiba-tiba mati, mereka tetap menjaga ritme bersyukur dengan lisan dan amal-shalih.

Mereka berusaha menjaga agar cahaya Ramadan tidak langsung redup saat hilal Syawal terdeteksi.Bagi yang mendapatkan ma’rifatullah, mendengarkan lantunan takbir sudah membuat mereka merasa gemetar.

Kalimat Allahu Akbar memunculkan di hati mereka pertanyaan, “Benarkah Allah yang paling besar di hatiku, atau besok aku akan kembali membesarkan dunia?” Mereka menangis karena Ramadhan akan benar-benar melangkah pergi meninggalkan mereka sendirian dalam menghadapi badai sebelas bulan ke depan. Takbir adalah wujud syukur mengakui kebesaran Allah agar kita tidak lagi merasa besar diri setelah menganggap shalih sebulan.

Mengunci Cahaya di Malam Terakhir

Potensi Ramadan kita bocor di fase akhir sangat besar. Langkah-langkah berikut bisa diterapkan dalam rangka menutup kebocoran pahala sekaligus menyelamatkannya.

Pertama, di tengah keriuhan suara takbir dari luar, duduklah sebentar menyendiri di kamar. Perkenankan kalimat takbir tersebut masuk ke dalam pori-pori jiwa, bukan sekadar lewat di telinga.

Resapi makna Allahu Akbar walillahil ḥamd. Kita harus akui bahwa tanpa pertolongan-Nya, bahkan puasa sehari pun sebenarnya kita tidak kuat.

Kedua, setelah bertahmid, kita tutup setiap amalan dengan istighfar. Kita bisa membayangkan hal ini seperti sedang menyodorkan buku laporan puasa Anda yang penuh coretan dan noda kepada Allah, kemudian mengadukan, “ya Allah, terimalah yang sedikit ini dan ampunilah segala khilafku yang tak terhitung.”

Ketiga, kita akhirnya harus menyiapkan hati mengakhiri Ramadan dan memasuki Syawal. Malam terakhir tidak boleh merusak ikhtiar ibadah kita selama sebulan.

Tidak perlu kita begadang tanpa istirahat. Sebelum nantinya sholat Id, kita niatkan bangun subuh dengan kondisi hati yang terjaga. Jangan sampai hari kemenangan ternodai oleh rasa kantuk yang mengganggu momen-momen sakral Syawal.

Akhir Ramadan bukanlah perpisahan dan Syawal bukanlah bulan untuk melupakannya. Sebaliknya, ia adalah awal ujian, apakah Ramadan telah memperbaiki kualitas diri kita atau tidak, untuk perjalanan selama sebelas bulan ke depan? (*)

Editor Ichwan Arif