Ngilmui Siyam

Dari Lapar ke Sabar: Kurikulum Tersembunyi di Ramadan

18
×

Dari Lapar ke Sabar: Kurikulum Tersembunyi di Ramadan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Oleh Desy Suryani, S.Pd., Guru SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik

Ramadan menghadirkan kurikulum tersembunyi di sekolah: melatih resiliensi, pengendalian diri, dan empati. Dari lapar menuju sabar, siswa belajar karakter melalui pengalaman sehari-hari di kelas.

Selawe.com – Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Di sekolah, salah satu hal yang paling terasa adalah perubahan ritme belajar. Jam pelajaran biasanya lebih pendek.

Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar seperti pengurangan waktu belajar. Namun sebenarnya, kebijakan ini lebih merupakan bentuk penyesuaian energi agar proses pembelajaran tetap berjalan efektif di tengah kondisi berpuasa.

Sebagai guru, saya pernah memiliki bayangan klasik tentang suasana kelas di bulan Ramadan. Saya membayangkan siswa akan terlihat lebih lemas, konsentrasinya menurun, dan kelopak matanya berat menahan kantuk. Saya berpikir bahwa lapar dan haus pasti membuat mereka sulit mengikuti pelajaran dengan baik.

Namun, bayangan itu perlahan berubah ketika saya berbincang dengan para siswa di kelas. Suatu hari saya bertanya, “Apa yang paling berat saat berpuasa?”

Seorang siswa menjawab, “Menahan haus, Bu.”

Belum sempat saya menanggapi, siswa lain menyela, “Yang sulit itu menahan emosi, Bu, kalau teman lagi menyebalkan.”

Seketika kelas penuh tawa. Jawaban itu terdengar sederhana, bahkan lucu. Tetapi dari percakapan singkat tersebut saya menyadari sesuatu: di balik pengalaman berpuasa, ada pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar menahan lapar dan haus.

Di situlah saya mulai melihat Ramadan dari sudut pandang yang berbeda. Ternyata bulan ini tidak hanya mengubah jadwal makan, tetapi juga diam-diam menghadirkan proses pembelajaran yang tidak tertulis dalam buku pelajaran.

Ramadan dan Kurikulum Tidak Tertulis

Selama ini Ramadan sering dipahami sebagai bulan untuk menahan lapar dan haus. Padahal, makna puasa jauh melampaui itu. Inti dari puasa adalah latihan menahan diri. Menahan diri untuk tidak mudah marah, dari perkataan yang menyakiti orang lain, dan dari kebiasaan buruk yang sering dilakukan tanpa disadari.

Jika dilihat dari perspektif pendidikan, proses ini sebenarnya merupakan bagian dari apa yang dikenal sebagai kurikulum tersembunyi. Kurikulum ini tidak tertulis dalam modul ajar, tidak tercantum dalam jadwal pelajaran, tetapi hadir dalam pengalaman sehari-hari siswa.

Ketika siswa tetap berusaha fokus di kelas meskipun sedang lapar dan haus, mereka sedang belajar resiliensi. Mereka berlatih bertahan dalam kondisi yang tidak sepenuhnya nyaman.

Ketika mereka menahan emosi saat menghadapi teman yang menjengkelkan, mereka sedang belajar pengendalian diri. Ketika mereka berbagi makanan saat berbuka puasa atau ikut kegiatan berbagi takjil, mereka sedang belajar empati sosial.

Menariknya, semua pelajaran itu terjadi secara alami. Guru tidak perlu menuliskannya di papan tulis. Ramadan seolah menghadirkan ruang latihan karakter yang berlangsung secara kolektif.

Dalam situasi seperti ini, sekolah bukan hanya tempat transfer pengetahuan. Sekolah menjadi ruang di mana siswa belajar memahami diri sendiri dan orang lain.

Ramadan Ruang Pendidikan Karakter

Pengalaman mengajar di bulan Ramadan mengajarkan saya satu hal penting: pendidikan tidak selalu hadir dalam bentuk materi pelajaran. Terkadang, pendidikan justru muncul dari pengalaman hidup yang dijalani bersama.

Bulan Ramadan menciptakan suasana belajar yang unik. Siswa tetap datang ke sekolah, tetap mengikuti pelajaran, tetapi mereka juga sedang menjalani latihan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kondisi seperti ini, siswa belajar mengelola diri mereka sendiri. Mereka belajar mengatur energi, mengendalikan emosi, dan tetap menjalankan tanggung jawab sebagai pelajar. Proses inilah yang sebenarnya menjadi inti pendidikan karakter.

Saya teringat pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menyatakan bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Ramadan seakan memberikan ruang bagi proses penuntunan itu. Dalam suasana yang lebih tenang dan reflektif, siswa belajar memahami nilai kesabaran, pengendalian diri, serta kepedulian terhadap sesama.

Pada akhirnya, Ramadan tidak hanya mengajarkan bagaimana menahan lapar. Ramadan mengajarkan bagaimana seseorang mengubah rasa lapar menjadi kesabaran.

Dan mungkin di situlah letak pelajaran paling pentingnya: pendidikan sejati tidak selalu datang dari buku pelajaran, tetapi dari pengalaman hidup yang membentuk karakter manusia. (*)

Editor: Sayyidah Nuriyah