Ngilmui Siyam

Lahirnya Empati

44
×

Lahirnya Empati

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Lahirnya Empati
Ilustrasi opini Lahirnya Empati (AI)

Jika kita masih lebih sibuk memikirkan menu apa nanti untuk berbukaku daripada bagaimana saudara-saudaraku yang tidak punya, mereka berbuka apa, mungkinkah hati kita masih membatu meski perut sudah layu?

Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com – “Bahwa tujuan (laparnya) puasa adalah melembutkan dan menjernihkan hati… Sesungguhnya (kekenyangan) itu mengeraskan hati dan melahirkan kebiasaan yang buruk. Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 311)

Salah satu alasan paling klasik mengapa kita berpuasa adalah empati. Namun sering kali hal ini hanya berhenti di tatanan kata-kata. Apakah rasa lapar kita sudah benar-benar terhubung dengan mereka yang kelaparan setiap hari? Jangan-jangan empati kita hanya berhenti sampai adzan maghrib.

Kita sering mendengar ceramah bahwa tujuan puasa adalah agar merasakan penderitaan fakir miskin. Namun, kalua kita boleh jujur, penderitaan kita sangatlah terjadwal.

Kita tahu persis pukul berapa rasa lapar ini akan berakhir. Kita menahan lapar sambil membayangkan es buah, gorengan, dan lauk yang sudah menunggu di meja makan.

Bagi kaum dhuafa’, lapar bukanlah sebuah pilihan ibadah yang berakhir saat azan berkumandang. Lapar bagi mereka adalah tamu tak diundang yang sering kali menginap hingga keesokan harinya.

Perbedaan besar ini sering kali membuat empati kita menjadi dangkal. Kita merasa sudah “senasib” hanya karena perut keroncongan puasa beberapa jam, lalu kembali menjadi pribadi yang konsumtif dan tidak peduli begitu kenyang melanda.

Ini menyisakan tanda tanya, jika lapar tidak membuat kita lebih dermawan, bisa jadi puasa kita ibarat “simulasi lapar” tanpa melibatkan perasaan?

Melembutkan Kerak di Hati

Imam al-Ghazali berpesan bahwa perut yang kenyang adalah penghalang terbesar bagi kelembutan jiwa. Orang yang selalu kenyang cenderung memiliki hati yang keras (qaswatul qalb), sulit merasa iba, dan sulit menangkap penderitaan orang lain karena ia terlalu sibuk dengan kenikmatan dirinya sendiri.

Bagi kebanyakan orang, merasakan lapar sama dengan membebani fisik. Mereka sebenarnya mengasihani diri sendiri karena lapar. Bukannya jadi empati pada orang lain, justru menjadi semakin egois dan ingin dilayani saat berbuka.

Namun tidak sedikit juga yang menggunakan rasa lapar untuk menghancurkan kesombongan. Mereka berprinsip bahwa saat lapar, ego melemah. Di saat itulah, sekat antara “si kaya” dan “si miskin” mulai runtuh. Mereka mulai sadar bahwa tanpa makanan, mereka bisa merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang sedang ditaqdir kelaparan.

Bagi yang kesadarannya meningkat, rasa lapar dipandang sebagai pembersih cermin hati. Hati yang bersih akan sangat sensitif. Mereka tidak perlu melihat orang menangis untuk merasa iba. Mereka sudah bisa merasakan getaran penderitaan orang lain karena jiwa mereka sudah selaras dengan frekuensi kemanusiaan yang rendah hati.

Poin utamanya adalah kelembutan. Jika puasa kita tidak membuat diri lebih mudah tersentuh oleh kesulitan orang lain, berarti hati kita masih tertutup oleh sisa-sisa “lemak” kekenyangan masa lalu.

Dari Lapar Menjadi Uluran Tangan

Puasa mengajarkan agar rasa lapar bisa merubah diri menjadi manusia yang berempati. Hari ini kita perlu mencoba menu berbuka yang paling sederhana. Kita hindari segala yang berlebihan, sehingga muncul sensasi masih lapar sedikit meskipun sudah berbuka.

Jika memungkinkan, gunakan sisa uang yang biasanya dihabiskan untuk takjil, diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

Selanjutnya, mencari kesempatan untuk bersedekan tanpa konten. Kita memberi secara langsung kepada ke siapa yang membutuhkan dengan menatap langsung mereka dan memberikan senyum yang tulus. Sehingga, kita akan merasakan koneksi antarmanusia tanpa perlu divalidasi oleh kamera ponsel.

Lebih bersifat privat, saat momen di mana doa sangat mustajab menjelang berbuka, jangan hanya meminta surga atau rezeki untuk diri sendiri. Kita wajib mendoakan mereka yang hari ini tidak tahu harus berbuka dengan apa. Kita bersedekah dengan lapar kita sebagai “jembatan” doa bagi mereka.

Sebagai bahan renungan di akhir dua pertiga Ramadhan ini, jika kita masih lebih sibuk memikirkan menu apa nanti untuk berbukaku daripada bagaimana saudara-saudaraku yang tidak punya, mereka berbuka apa, mungkinkah hati kita masih membatu meski perut sudah layu?

Empati kebersyukuran kita masih perlu terus diasah. (*)

Editor Ichwan Arif