Ngilmui Siyam

Membangun Karakter Leadership dan Integritas Siswa lewat Tadabbur Makna Al-Qur’an

19
×

Membangun Karakter Leadership dan Integritas Siswa lewat Tadabbur Makna Al-Qur’an

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Membangun Karakter Leadership dan Integritas Siswa lewat Tadabbur Makna Al-Qur’an

Ilustrasi opini Membangun Karakter Leadership dan Integritas Siswa lewat Tadabbur Makna Al-Qur’an (Al)

Ramadan seharusnya menjadi momentum literasi maknawi, yaitu saat Al-Qur’an “diturunkan kembali” ke dalam hati dan pikiran siswa melalui pemahaman terjemahan yang membumi.

Oleh Anita Firlyando, S.Pd., guru SD Muhammadiyah GKB 2 Gresik (Berlian Primary School)

Selawe.com –  Ketika seseorang pertama kali berkunjung, melangkahkan kaki, dan memandang bangunan fisik sekolah kami dari depan, mungkin akan timbul rasa penasaran.

Di bagian atas bangunan yang kokoh dengan dominasi warna merah dan biru, terpampang jelas sebuah tulisan besar. Bukan nama sekolah yang ditulis paling menonjol di bagian depan bangunan, melainkan sebuah tagline: “Leadership School.”

Tagline “Leadership School” tersebut dapat dikatakan sebagai mandat yang berat bagi para pendidik dalam upaya mewujudkan harapan untuk mencetak generasi calon pemimpin masa depan.

Namun, jika kita melihat kondisi saat ini, masyarakat tengah mengalami krisis kepercayaan terhadap figur pemimpin. Integritas sering kali kalah oleh popularitas.

Sebagai contoh, tidak sedikit pemimpin yang terpilih menjadi anggota DPR RI berasal dari kalangan artis yang populer.

Namun, jika ditelisik lebih jauh, sebagian dari mereka tidak memiliki pengalaman memadai atau latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang yang didudukinya.

Contoh lain, banyak pemimpin yang terbukti bergaya hidup mewah dan memperkaya diri, tetapi tidak peka terhadap kondisi masyarakat yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan, tidak jarang kebijakan yang dibuat justru tidak menguntungkan rakyat.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Ada apa dengan pemimpin kita? Apa yang salah dalam sistem kepemimpinan di negara ini? Kompas moral apa yang kita berikan kepada siswa kita agar kelak mereka menjadi pemimpin yang amanah?

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 30 disebutkan bahwa manusia sejatinya diciptakan sebagai pemimpin.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

Ayat ini menegaskan bahwa manusia memiliki peran sebagai pemimpin dan pengelola kehidupan di bumi.

Bagi seorang Muslim, Al-Qur’an adalah “konstitusi” tertinggi—sebuah pedoman hidup yang komprehensif yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari akidah, ibadah, muamalah, hingga hukum, guna mencapai keselamatan dunia dan akhirat.

Al-Qur’an menjelaskan tujuan penciptaan manusia, aturan perilaku, serta memberikan petunjuk langsung dari Allah SWT bagi umat manusia.

Namun, bagaimana mungkin calon-calon pemimpin yang menempuh pendidikan di SD Muhammadiyah dengan tagline Leadership School dapat menjalankan “konstitusi” tersebut jika mereka hanya akrab dengan bunyinya, tetapi asing dengan maknanya?

Ramadan seharusnya menjadi momentum literasi maknawi, yaitu saat Al-Qur’an “diturunkan kembali” ke dalam hati dan pikiran siswa melalui pemahaman terjemahan yang membumi.

Memang, pendidikan Islami—terutama pada bulan Ramadan—telah dilaksanakan di hampir setiap sekolah, khususnya sekolah dasar Islam.

Namun, sebuah paradoks sering terjadi dalam dunia pendidikan kita. Banyak anak fasih melafalkan ayat dengan tajwid yang indah, tetapi tidak mengetahui pesan dan makna di dalamnya.

Al-Qur’an sering kali hanya berhenti sebagai “suara” di tenggorokan, belum menjadi “cahaya” di hati dan pikiran. Padahal, kepemimpinan yang autentik lahir dari pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai wahyu.

Spirit Ahmad Dahlan

Literasi bukan sekadar kemampuan mengeja teks. Kita diingatkan pada kisah ketika K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan Surah Al-Ma’un kepada para santrinya.

Beliau tidak bertanya, “Sudahkah kalian hafal?” melainkan “Sudahkah kalian paham artinya?” dan yang lebih tajam lagi, “Sudahkah kalian mengamalkannya?”

Inilah inti dari literasi Al-Qur’an yang perlu kita bumikan kembali di sekolah, terutama pada momentum Ramadan.

Jangan sampai Ramadan hanya menjadi momen di mana siswa dihadapkan pada materi keislaman tambahan, penyesuaian jadwal belajar, kegiatan pesantren kilat, serta pengisian buku Ramadan yang kemudian diperiksa melalui tanda tangan orang tua dan imam.

Jika tidak dimaknai secara mendalam, semua itu berpotensi menjadi ritual tahunan yang tidak memberikan dampak nyata terhadap akhlak, ketakwaan, dan perilaku anak-anak kita.

Bagi anak usia sekolah dasar yang berada pada masa keemasan pembentukan karakter dan tahap belajar yang masih konkret, memahami terjemahan Al-Qur’an merupakan langkah awal dalam membangun “konstitusi diri.”

Mereka perlu memahami bahwa nilai-nilai seperti kejujuran, keberanian, dan empati bukan sekadar nasihat yang sering disampaikan oleh guru, melainkan perintah langsung dari Sang Pencipta.

Lalu, bagaimana sekolah dapat mentransformasi Ramadhan menjadi laboratorium literasi Al-Qur’an yang hidup?

Berikut beberapa contoh upaya yang dapat dilakukan oleh para pendidik.

  1. Dari Hafalan ke Pemahaman (The Meaningful Journey)

Target khatam Al-Qur’an di bulan Ramadhan tetap penting, karena Allah melipatgandakan pahala bagi orang yang membaca Al-Qur’an pada bulan ini. Namun, kita juga dapat menambahkan target “khatam makna.”

Misalnya melalui program One Day One Verse, One Action. Siswa mempelajari satu ayat tentang akhlak kepemimpinan—seperti QS. Al-Hujurat ayat 11 tentang larangan merendahkan orang lain—memahami terjemahannya, lalu mempraktikkannya dalam interaksi sehari-hari di kelas.

  1. Literasi Role Model Qur’ani

Anak-anak sekolah dasar membutuhkan sosok teladan yang nyata. Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk mengenalkan profil pemimpin dalam Al-Qur’an.

Siswa dapat mempelajari sifat kepemimpinan para nabi, misalnya bagaimana Nabi Yusuf mengelola krisis pangan dengan integritas atau bagaimana Nabi Musa memimpin dengan keberanian. Dengan demikian, literasi tokoh mereka tidak hanya berasal dari tokoh fiksi, tetapi juga dari teladan nyata yang terdapat dalam Al-Qur’an.

  1. Visualisasi Wahyu

Mengingat karakteristik psikologis anak SD yang cenderung visual, tugas merangkum terjemahan ayat ke dalam bentuk gambar atau poster kreatif dapat membantu mereka memahami makna Al-Qur’an secara lebih mendalam.

Dengan pendekatan ini, Al-Qur’an tidak lagi terasa sebagai kitab yang “berat”, melainkan pedoman hidup yang aplikatif dan menyenangkan.

Mencetak Pemimpin Berkemajuan

Jika literasi Al-Qur’an ini berhasil kita tanamkan, maka kita tidak sekadar mencetak penghafal teks, melainkan calon pemimpin yang memiliki daya kritis dan prinsip yang kokoh. Mereka akan tumbuh menjadi pemimpin yang tidak mudah goyah oleh arus zaman, karena memiliki “buku panduan” yang telah meresap dalam jiwa.

Ramadan di sekolah dasar harus menjadi titik balik. Mari kita hantarkan siswa-siswi kita untuk tidak hanya mencintai lantunan ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga jatuh cinta pada makna dan pesan yang terkandung di dalamnya.

Sebab sejatinya, tugas utama sebuah Leadership School bukan hanya mengembangkan karakter kepemimpinan melalui berbagai pelatihan formal, melainkan memastikan bahwa setiap siswa memiliki Al-Qur’an yang hidup dalam hati, pikiran, dan pengamalannya. (*)

Editor Ichwan Arif