Ngilmui Siyam

Membersihkan Hati Menuju Hari Kemenangan

59
×

Membersihkan Hati Menuju Hari Kemenangan

Sebarkan artikel ini
Idulfitri
Ilustrasi opini Membersihkan Hati Menuju Hari Kemenangan

Menuju hari kembalinya kesucian diri, Idulfitri, kita harus mulai persiapkan agar nantinya diri kita benar-benar fitri dengan latihan melepaskan beban.

Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.co, “Maksud sebenarnya puasa adalah menyucikan hati dan membebaskan pikiran demi Allah Ta’ala” Kitab Asrar al-Shaum (I: 311)

Kurang dari seminggu, Ramadan akan beralih ke Syawal. Hitung mundur menuju Idulfitri sudah dimulai. Menjelang Lebaran, kita sibuk mencuci rumah, mencuci mobil, dan membeli baju baru yang bersih. Kita ingin tampil tanpa noda di hari raya.

Namun, sering kali kita membiarkan lumpur dendam tetap mengendap di dasar hati. Kita masih menyimpan daftar kesalahan orang lain, mulai dari teman yang tidak membayar hutang, rekan kerja yang menusuk dari belakang, hingga anggota keluarga yang ucapannya menyakitkan.

Kita merasa berhak untuk marah. Kita merasa dendam adalah “hak” kita atas luka yang mereka lakukan. Padahal, memelihara dendam saat berpuasa itu ibarat meminum racun setiap hari tapi berharap orang lain yang mati.

Kita menahan lapar dan dahaga seharian untuk membersihkan jiwa, tapi kita mengotori jiwa kembali dengan memelihara kebencian yang mengendap.

Memaafkan adalah Memerdekakan Diri

Imam al-Ghazali memandang hati seperti sebuah bejana. Jika bejana itu penuh dengan kotoran dendam, maka air rahmat Allah tidak akan punya tempat untuk memenuhinya.

Secara karakter umum, manusia memaafkan hanya karena tradisi atau karena orang lain meminta maaf lebih dulu. Ini adalah jenis maaf yang transaksional. Dalam hatinya mungkin tersirat, “aku maafkan karena ini momen lebaran.”

Di luar kebiasaan umum, sudah ada yang memaafkan untuk menjaga kualitas ibadahnya. Ia sadar bahwa doanya tidak akan terangkat ke langit jika ia masih menyimpan permusuhan. Dirinya mampu memaafkan meskipun hatinya masih terasa sakit, sebagai bentuk kepatuhan pada perintah Allah.

Namun juga ada yang berhasil memandang siapa pun yang menyakitinya adalah “guru kesabaran” yang dikirim Tuhan. Ia tidak lagi melihat kesalahan orang tersebut, melainkan melihat takdir Allah yang sedang menguji kemuliaan hatinya. Ia memaafkan bahkan sebelum orang itu menyadari kesalahannya.

Ringkasnya, maaf dan memaafkan bukan berarti pembenaran atas tindakan buruk orang lain. Memberi maaf adalah wujud diri melepaskan beban di punggung agar kita bisa melangkah dengan ringan menuju Tuhan, Sang Maha Penerima kekhilafan hamba-Nya.

Pembersihan Hati

Menuju hari kembalinya kesucian diri, Idulfitri, kita harus mulai persiapkan agar nantinya diri kita benar-benar fitri dengan latihan melepaskan beban.

Pertama, jika diperlukan, ambil selembar kertas. Kita tuliskan nama orang-orang yang paling membuat diri sakit hati tahun ini beserta apa yang mereka lakukan. Dalam prosesnya, maknai rasanya marah, sedih, dan  kecewa.

Lalu, kita adukan dalam hati, Ya Allah, demi puasaku Engkau terima aku maafkan mereka agar Engkau memaafkanku.” Setelah itu, kita hancurkan atau buang kertasnya sebagai simbol bahwa masalah itu sudah selesai di hati.

Kedua, setelah mampu memaafkan, maka kita harus mendoakan kebaikan untuk orang yang paling kita “benci” agar ia diberi hidayah, rezeki, dan kebahagiaan.

Memang sulit, tapi saat kita bisa mendoakan kebaikan bagi orang yang menyakiti kita, di situlah egois diri bisa benar-benar terkontrol dan puasa kita mencapai intinya.

Ketiga, berhenti mencari siapa yang salah. Hari ini bisa berlatih berhenti memutar ulang kejadian yang menyakitkan diri. Setiap kali ingatan itu muncul, segera alihkan dengan istighfar dan memanggil Allah, yā Ghaffār (wahai Maha Pengampun).

Ini krusial karena Allah telah mengampuni ribuan bahkan dosa tak terhingga kita, maka siapakah kita yang enggan mengampuni satu kesalahan manusia?

Dari sini, manakah yang lebih berat, menahan lapar selama 14 jam atau melepaskan satu nama yang sudah lama kita simpan dalam daftar orang yang tidak akan pernah dimaafkan?

Jika ingin Allah menyambut kita dengan ampunan-Nya di hari raya, sudahkah kita memberikan ampunan yang sama kepada sesama? (*)

Editor Ichwan Arif.

Ilustrasi Opini Itikaf Hati 1
Blog

Jika i’tikaf adalah soal “pemutusan hubungan,” satu kesibukan…