
Zakat adalah pembuktian bahwa puasa tidak membuat kita menjadi pribadi yang egois dan asyik dengan kesalehan diri sendiri, melainkan menjadikan diri semakin peka terhadap perut orang lain
Oleh *F. Risallah, Ph.D.*, Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik
Selawe.com – “Rasulullah SAW bersabda: Bayarkan zakat fitrah untuk sesiapa yang kamu nafkahi.” Kitab Asrar al-Zakah (I: 277)
Di tengah hiruk-pikuk persiapan mudik dan bayangan opor ayam, kita wajib mengingatkan diri bahwa ada satu kewajiban finansial yang sering kita anggap sebagai sekadar prosedur administratif menjelang Lebaran, yaitu Zakat Fitrah.
Sebagai salah satu pilar rukun Islam, ibadah ini adalah kunci penutup yang menentukan apakah puasa kita akan terbang ke langit atau tertahan di bumi.
Bagi kebanyakan dari kita di zaman sekarang, membayar zakat fitrah terkadang terasa seperti membayar tagihan bulanan atau iuran lingkungan. Kita datang ke ‘amil, menyerahkan sejumlah uang atau beras, menerima doa singkat, lalu pulang dengan perasaan lega.
Kita sering lupa bahwa zakat ini bukan sekadar tentang “memberi makan orang miskin”, tapi tentang mencuci kotoran yang menempel pada puasa kita selama sebulan penuh.
Bayangkan puasa kita seperti sebuah pakaian indah yang kita jahit selama sebulan. Selama proses menjahit, pasti ada benang yang terlepas (ucapan sia-sia), noda yang terciprat (pandangan yang tidak terjaga), atau jahitan yang miring (niat yang kurang ikhlas).
Zakat fitrah adalah proses finishing dan pencucian terakhir agar pakaian itu layak dipersembahkan kepada Allah di hari Idul Fitri nanti.
Jembatan Menuju Penerimaan
Mengenai kewajiban zakat fitrah, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa seorang hamba akan tergantung di antara langit dan bumi, dan tidak akan diangkat ke hadirat Allah kecuali dengan menunaikannya.
Sayangnya, sebagian besar Muslim membayar zakat karena takut berdosa atau karena tradisi keluarga. Fokusnya hanya pada takaran liter atau kilogram. Jika sudah bayar, mereka merasa urusan dengan Tuhan sudah selesai.
Ini berbeda bagi yang mampu memahami zakat sebagai penebus kesalahan. Imam al-Ghazali menekankan bahwa manusia tidak luput dari laghw (kesia-siaan) dan rafats (kata-kata tak pantas) selama puasa. Zakat fitrah dipandang sebagai tambal sulam atas robekan-robekan kecil pada pahala puasa mereka.
Sedangkan bagi yang memahami zakat sebagai bentuk kepedulian agung (solidaritas transendental), mereka melihat zakat bukan sebagai pemberian dari si kaya kepada si miskin, melainkan sebagai pembersihan diri agar bisa masuk ke hari raya dalam keadaan benar-benar suci.
Mereka memberikan yang terbaik, karena mereka sadar mereka sedang membeli kembali kesempurnaan puasa mereka sendiri.
Zakat adalah pembuktian bahwa puasa tidak membuat kita menjadi pribadi yang egois dan asyik dengan kesalehan diri sendiri, melainkan menjadikan diri semakin peka terhadap perut orang lain yang mungkin masih keroncongan atau kesedihan yang masih meliputi perasaan di hari kemenangan.
Mengeluarkan Zakat dengan “Hati”
Jika pelaksanaan zakat fitrah masih dianggap sekadar transaksi logistik, kita perlu memperbaiki pola fikir demikian dengan langkah batin berikut.
Pertama, kita bergegas membayar zakat tanpa perlu menunggu menit-menit akhir bahkan mungkin setelah Subuh menjelang shalat Id. Kemudian kita pilih kualitas beras atau nilai nominal yang terbaik yang kita mampu dengan niatan tulus, “Ya Allah, dengan zakat ini karuniakan ketaqwaan serta pembersihan diri bagi lisan dan hatiku yang kotor, terutama selama sebulan ini.”
Kedua, di saat menyerahkan zakat, kita waspada akan gerakan hati yang mendorong diri untuk merasa sedang lebih beruntung atau berjasa bagi orang miskin. Sebaliknya, kita wajib merasa bahwa keberadaan mereka bisa menjadi alasan agar puasa kita diterima oleh Allah. Bisa jadi tanpa kehadiran mereka untuk menerima zakat, posisi kebersihan jiwa dari puasa kita mungkin tidak bisa terdeteksi.
Ketiga, setelah membayar zakat, kita perlu merenung sejenak. Kita ingat kembali momen-momen saat marah, berbohong, atau lalai selama Ramadhan ini. Kemudian kita mohonkan agar zakat yang baru saja dikeluarkan benar-benar menjadi penghapus bagi noda-noda tersebut.
Satu pertanyaan yang tersisa, jika kita biasanya sangat perhatian dengan penampilan luaran untuk Lebaran, mengapa kita masih “seadanya” dalam menyiapkan pembersih batin kita? (*)
Editor Ichwan Arif.












