Ngilmui Siyam

Menemukan “Seperempat Iman”

26
×

Menemukan “Seperempat Iman”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Menemukan “Seperempat Iman”
Ilustrasi opini Menemukan “Seperempat Iman” (AI)

Sabar adalah keteguhan hati untuk tetap diam dalam “hadirat Allah” meskipun dunia sedang menawarkan sejuta godaan.

Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.comSabar itu adalah setengah dari iman, dan puasa itu adalah setengah dari kesabaran ” Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 301)

Bagi sebagian besar dari kita, puasa sering kali dianggap sebagai “ujian ketahanan”. Yang umum kita jumpai adalah celotehan hitung mundur seperti berapa jam lagi akan azan? atau lebaran berapa hari lagi?

Di tengah rasa lapar yang menyengat, kita sering kali kehilangan fokus pada apa yang sebenarnya sedang kita bangun untuk jiwa.

Dalam menahan rasa lapar, seolah-olah kita merasa menjadi korban dari sebuah kewajiban, padahal di balik rasa perih di lambung itu, ada sebuah mesin besar bernama “Iman” yang sedang diuji eksistensinya.

Kita sering lupa bahwa tanpa kesabaran yang bermakna, lapar hanyalah penyiksaan diri yang tak berbekas. Puasa yang seharusnya dinikmati sebagai ibadah, bertukar sekedar menahan tidak makan-minum.

Matematika Spiritual

Imam al-Ghazali menyodorkan sebuah “matematika spiritual” yang sangat menarik dalam Ihya’ Ulumuddin. Beliau mengutip hadis yang menyatakan bahwa puasa adalah setengah dari kesabaran dan kesabaran adalah setengah dari iman.

Jika kita tarik garis lurus, maka puasa sejatinya adalah seperempat dari iman. Mengapa demikian? Bagi beliau, iman bukan sekadar pengakuan lisan, melainkan struktur yang dibangun di atas dua pilar besar yaitu syukur dan sabar.

Secara dzohirnya, puasa melatih diri akan kesabaran namun tanpa disadari ia sekaligus menuntut kebersyukuran diri. Dalam kacamata al-Ghazali, sabar bukan sekadar “diam saat menderita”.

Bagi yang puasa di koridor umum, sabar di sini bermakna menahan diri dari kebutuhan jasmani (makan/minum) karena takut akan dosa. Ini adalah sabar tingkat paling dasar. Untuk koridor selanjutnya, puasa spesial, sabar berubah menjadi kekuatan untuk mengendalikan keinginan anggota tubuh.

Di sini, rasa lapar menjadi pelatih bagi lisan untuk tidak berucap tajam dan bagi hati untuk tidak merasa sombong.

Inilah kesabaran yang mulai “bernyawa”. Sampai di koridor tertinggi bagi puasa yang istimewa, sabar adalah keteguhan hati untuk tetap diam dalam “hadirat Allah” meskipun dunia sedang menawarkan sejuta godaan.

Rasa lapar tidak lagi dirasakan sebagai beban, melainkan sebagai halawat (kemanisan) karena ia menjadi bukti bahwa ruh sedang memenangkan pertempuran melawan jasad. Di sinilah “seperempat iman” itu benar-benar teruji.

Mengaktifkan Mesin Sabar

Agar lapar kita hari ini bertransformasi menjadi seperempat iman yang kokoh, praktik batin berikut perlu dicoba.

Pertama, re-framing rasa lapar. Mulai hari ini, setiap kali perut terasa perih, kita ubah narasinya dalam batin kita. Jangan katakan “aku sedang lapar,” tapi katakan, “imanku sedang membangun fondasi sabar.” Rasa lapar perlu dilihat sebagai proses konstruksi jiwa, bukan sebagai penderitaan.

Kedua, melatih sabar aktif. Saat ada hal yang memancing emosi kita hari ini: entah itu kemacetan, pekerjaan yang menumpuk, atau perilaku orang lain yang menyebalkan, kita gunakan “kekosongan perut” sebagai pengingat.

Katakan pada diri: “Jika aku mampu bersabar menahan yang halal (makan/minum), tentu aku lebih mampu bersabar menahan yang haram (marah/mencaci).”

Ketiga, menikmati proses. Kita tidak perlu terus-menerus melihat jam. Cobalah untuk benar-benar hadir di momen saat ini. Menikmati kesunyian yang dibawa oleh rasa lapar menjadi keharusan, karena dalam kesunyian itulah suara iman biasanya terdengar lebih jelas.

Dari poin ini, Imam al-Ghazali mengajarkan bahwa tanpa sabar, puasa kehilangan ruhnya. Jika hari ini kita masih merasa sangat gelisah menunggu waktu berbuka, mungkinkah itu pertanda bahwa pilar “sabar” dalam iman kita masih perlu diperbaiki pondasinya?

Sudahkah rasa lapar hari ini membantu kita menjadi orang yang lebih tenang? (*)

Editor Ichwan Arif