Ngilmui Siyam

Mengawal Akhir Ramadan

47
×

Mengawal Akhir Ramadan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Mengawal Akhir Ramadan
Ilustrasi opini Mengawal Akhir Ramadan (Al)

Riya sebagai sesuatu yang lebih halus daripada langkah kaki semut hitam di atas batu hitam di tengah malam yang gelap.

Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com – “Memulai dengan kesungguhan seorang hamba dan balasannya adalah hidayah dari Allah Ta’ala ” Kitab Asrar al-Shaum (I: 303)

Hari ini kita sudah mencapai lima perenam dari Ramadan. Ramadan akan segera berakhir, dan tabungan pahala kita mungkin sudah terlihat gemuk di catatan malaikat.

Namun, hari ini kita harus dan tetap waspada terhadap satu “pencuri” yang sangat halus, yang bisa menguras habis seluruh isi tabungan tersebut tanpa kita sadari.

Di tahun 2026 ini, godaan untuk pamer sudah mencapai level semakin akut. Kita hidup di era di mana sebuah ibadah terasa belum sah jika tidak ada buktinya di medsos.

Ini bisa kita deteksi seperti, foto sedang tadarus, status tentang heningya shalat malam, atau sekadar memamerkan tanda kalau kita puasa hari ini.

Seringkali riya’ atau pamer muncul dengan sangat halus, meskipun diri sendiri sebenarnya tidak bisa mengelaknya.

Kita tidak pamer langsung, tapi kita membiarkan wajah kita terlihat sengaja lemas agar orang bertanya, “Wah, kamu beneran puasa ya..” Tersirat diri terdorong untuk mendapatkan validasi atas kesalehan.

Benar kita menahan lapar demi Allah, tapi di saat yang sama kita tak sadar mengemis pujian dari manusia. Ini ibarat gelembung sabun yang terlihat indah sesaat, lalu pecah dan tak meninggalkan apa-apa.

Semut Hitam di Atas Batu Hitam

Jika boleh dideskripsikan riya sebagai sesuatu yang lebih halus daripada langkah kaki semut hitam di atas batu hitam di tengah malam yang gelap.

Sangat sulit dideteksi kecuali oleh mereka yang benar-benar waspada. Bagi kebanyakan orang yang biasa pamer secara terang-terangan, beribadah memang ditujukan murni agar dilihat orang.

Jika tanpa penonton, mereka tidak akan melakukan ibadah tersebut. Ini adalah kondisi yang paling merusak sebuah amal.

Di atas mereka, ada yang beribadah karena Allah, tapi merasa senang dan bertambah semangat ketika ada orang lain yang melihat atau memuji.

Imam al-Ghazali memperingatkan bahwa kesenangan batin atas pujian adalah benih riya yang bisa membatalkan ketulusan amal.

Meskipun demikian, ada segelintir orang yang merasa terganggu jika amalnya diketahui orang lain. Mereka menjaga ibadah seperti menjaga aibnya. Bagi mereka, rahasia antara mereka dan Tuhan adalah harta karun yang tidak boleh bocor ke publik.

Jadi jika seseoarang berusaha terlihat sholih di mata manusia untuk mendapatkan kedudukan adalah bentuk kebodohan.

Sebab, manusia yang kita harapkan pujian itu sendiri adalah makhluk lemah yang tidak bisa memberi manfaat apa-apa bagi kita di akhirat kelak.

Membersihkan Niat

Menjaga keutuhan niat sampai tuntas diperlukan strategi agar amal kita selama sebulan ini tidak hangus terbakar oleh riya’.

Kita perlu latihan pembersihan niat mulai sekarang. Pertama, hari ini, kita bisa coba lakukan satu kebaikan yang benar-benar tidak diketahui siapa pun.

Jangan diceritakan kepada pasangan, orang tua, apalagi medsos. Biarkan itu menjadi simpanan rahasia diri kita yang hanya akan dibuka kelak di hari kiamat.

Kedua, sebelum kita mengunggah apa pun yang berkaitan dengan aktivitas Ramadhan atau bahkan kutipan agama sekalipun, tanyakan pada diri sendiri, “Jika postingan ini tidak mendapatkan satu pun ‘like’ atau komentar, apakah aku akan tetap mengunggahnya?” Jika jawabannya tidak, urungkan niat tersebut.

Ketiga, jika seseorang memuji kita seperti, “Wah, rajin bener kamu ya..,” segera ucapkan istighfar di dalam hati. Segera kita berucap, “Aa Allah, ampuni aku atas apa yang tidak mereka ketahui tentang diriku, dan jadikan aku lebih baik dari apa yang mereka sangka.” Sederhananya, kita harus biasakan mengalihkan segala pujian kembali kepada Sang Pemilik Kekuatan.

Mana yang lebih memuaskan bagi diri kita saat ini, cukup Allah tahu kita sedang berusaha atau orang lain, bahkan yang tidak dikenal di medsos, harus tahu bahwa kita sedang berjuang?

Jika kita masih merasa gelisah ketika amal baik kita tidak diketahui orang lain, mungkinkah kita selama ini sedang menghamba penilaian manusia, bukan menyembah Allah? (*)

Editor Ichwan Arif