
Perjalanan 30 hari kita telah usai. Ramadan pergi, namun Allah yang kita sembah di bulan Ramadan tetap ada di 11 bulan berikutnya. Mulai Syawal ini, kita bertekad untuk tidak membiarkan kesalehan kita menjadi barang musiman.
Oleh *F. Risallah, Ph.D.*, Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik
Selawe.com – “Bersabda Rasulullah: Allah membanggakan di depan para Malaikat-Nya tentang hamba-Nya yang berpuasa, wahai para Malaikat-Ku lihatlah ke hamba-Ku yang telah meninggalkan syahwatnya, kesenangannya, makanannya, dan minumannya demi Aku….Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala yang tak terhingga.” Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 307)
Kita sampai di garis finis. Gema takbir menandakan proklamasi siklus perjuangan khusus sebulan telah genap. Tibalah hari kemenangan, di mana kita tidak hanya merayakan selesainya rasa lapar, tapi merayakan lahirnya diri kita yang kembali bersih.
Di hari Lebaran, kita semua tampak indah. Mulai dari baju baru, wangi parfum, sampai senyum yang mengembang. Kita menyebutnya Idulfitri, kembali suci. Namun, ada sebuah sebuah ironi di alam pikiran sebagian orang.
Banyak yang masih merasa karena dirinya sudah “suci” dan dosanya telah “dihapus,” seakan-akan memiliki saldo nol untuk kembali berbuat dosa.
Kita sering memperlakukan Idulfitri seperti tombol reset pada mesin yang rusak. Kita senang mesinnya kembali bersih, tapi kita tidak merawatnya.
Justru kita merasa aman dan segera menjalankan program-program lama yang mengotorinya atau bahkan merusaknya kembali.
Jika besok lisan kita kembali menajam, hati kita kembali menyombong, dan shalat kita kembali berlubang, maka Lebaran kita hanyalah sebuah seremoni tentang kostum baru, bukan transformasi jiwa.
Menguak Hakikat Fitrah
Fitrah bukanlah sekadar kembali suci seperti bayi, melainkan kembalinya manusia kepada fungsi aslinya sebagai hamba Allah yang tidak diperbudak oleh dunianya. Setting-an aslinya adalah hidup untuk menghamba kepada Pemiliknya, sebagaimana yang dilakukannya selama Ramadan.
Namun bagi kebanyakan, Fitrah dirayakan sebagai kemenangan fisik. Mereka menandai Idulfitri sebagai akhir dari larangan, merasa menang karena bisa makan lagi di siang hari. Menurut imam al-Ghazali, inilah kemenangan yang paling rendah.
Bagi sebagian yang merasa bahagia akan ampunan Allah, mereka merayakan Idulfitri dengan rasa takut sekaligus harap (Khauf wa Raja’).
Mereka berusaha menjaga agar pakaian jiwanya yang sudah dicuci selama 30 hari tidak terkena percikan lumpur lagi di hari pertama Syawal.
Id sejati yaitu kembalinya hati kepada Allah secara total adalah keniscayaan. Bagi mereka yang telah menemukannya, setiap hari di mana diri mereka terjaga dari maksiat adalah Idulfitri yang sejati. Mereka tidak butuh kemeriahan eksternal karena di dalam dada mereka telah menyala lentera kecintaan kepada Allah, yang tidak akan padam hanya karena Ramadan berakhir.
Imam al-Ghazali mengingatkan kita bahwa tanda diterimanya puasa seseorang adalah ia menjadi lebih baik setelah puasanya berakhir. Jika kita tetap sama, maka sejatinya tidak sedang merayakan kemenangan, justru sedang merayakan kegagalan yang tersamarkan oleh pakaian baru.
Menjaga Cahaya di Bulan Syawal
Agar cahaya yang kumpulkan selama 30 hari tidak padam ditelan opor-rendang dan saling berkunjung, kita perlukan kontrak batin di hari pamungkas Ramadhan.
Pertama, kita pertahankan minimal satu ritual kecil. jangan semuanya langsung dilepas. Jika terbiasa tadarus, tetaplah membaca meski hanya satu ayat sehari. Ketika terbangun malam, tetaplah shalat meski hanya dua rakaat. Ini adalah cara memberitahu nafsu bahwa kita tetaplah tuan atas diri kita sendiri.
Kedua, kita jadikan silaturahmi tanpa ghibah. Ketika bertemu banyak orang, kita tantang lisan kita meskipun mengobrol berjam-jam tapi tanpa sekalipun merendahkan orang lain atau membicarakan aib orang.
Ketiga, kita meneruskan tradisi Ramadan dengan puasa Syawal sebagai tanda syukur dan transisi agar mental tidak kaget. Ini adalah booster agar disiplin mental yang sudah dibangun tidak langsung runtuh.
Perjalanan 30 hari kita telah usai. Ramadan pergi, namun Allah yang kita sembah di bulan Ramadan tetap ada di 11 bulan berikutnya. Mulai Syawal ini, kita bertekad untuk tidak membiarkan kesalehan kita menjadi barang musiman.
Semoga tiap secuil makanan yang kita tahan dan air mata yang menetes, menjadi saksi yang akan membela kita di hadapan-Nya kelak.
Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin. (*)
Editor Ichwan Arif












