
Tidak hanya guru, tapi semuanya yang ada dalam sekolah adalah pendidik. Baik itu satpam, pramubakti dan lainnya yang sesuai dengan tupoksi masing-masing.
Selawe.com – Bertajuk Internalizing Muhammadiyah Values, Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik mengadakan Pengajian Ramadan 1447 H.
Acara ini mengundang pembicara Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, MA., Sabtu (28/2/2026).
Dalam kegiatan ini, ada pengajian iftitah yang menjadi pembuka sebelum materi utama. Pengajian iftitah dalam kegiatan tersebut memilih narasumber dari Ketua Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik Fiqih Risalah, M.A., Ph.D.
Fiqih mengawali materinya dengan menyampaikan rasa syukur bisa bertemu dengan bulan Ramadan. “Dalam ramadan ini semua ibadah sebagai bentuk penghapusan kesalahan kita. Yang baik-baik bisa menghapus yang jelek-jelek,” ungkapnya.
Selanjutnya Fiqih menyampaikan bahwa kita ketahui zaman semakin maju sebagaimana proses perjalanan yang diaktualisasi. Terobosan baru juga bermunculan termasuk nilai-nilainya.
“Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa objeknya yaitu kita semua dan anak didik yang menjadi menuju kebenaran realitas Islam,” jelasnya.
Allah memberikan akal yang berbeda, maka kemajemukan berpikir pasti ada. Muhammadiyah selalu terbaik. Umat Islam harus mengambil spirit dari Nabi Muhammad bahwa kita tidak boleh mencela. Selain itu harus belajar lebih terkait Islam dan Muhammadiyah.
Ada empat pondasi yang harus dipegang saat bekerja di AUM Muhammadiyah. Pertama adalah nilai tauhid sebagai pemurnian akidah. Kedua nilai tajdid (pembaharuan), ketiga nilai Al Maun sebagai bentuk sosialisasi dan kemasyarakatan.
Terakhir nilai pendidikan dan berkemajuan yang menjadi ciri khusus dan amanah untuk Majelis Dikdasmen. Pastinya dalam hal ini umat Islam harus bisa bertanggung jawab kepada Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa semua lini menjadi bagian pendidik.
Tidak hanya guru, tapi semuanya yang ada dalam sekolah adalah pendidik. Baik itu satpam, pramubakti dan lainnya yang sesuai dengan tupoksi masing-masing.
Di akhir materinya, ustadz Fiqih mengajak semuanya untuk bisa mengambil hikmah sebagai pendidik. “Mari kita mengambil hikmah sedalam-dalamnya untuk menyadari suka tidak suka adalah sebagai pendidik, minimal untuk diri kita sendiri,” tandasnya. (*)
Penulis Yanita Intan Sariani. Editor Ichwan Arif.












