
Jika marah saat berdiri, kita langsung ambil posisi duduk. Jika marah saat duduk, maka kita pindah posisi berbaring. Kita gunakan kelemahan fisik saat lapar sebagai alasan untuk tidak bersikap agresif.
Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik
Selawe.com – “Amarah adalah monster bagi akal… Dan puasa itu adalah perisai. Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berucap kotor dan janganlah ia berteriak-teriak (marah).” Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 306)
Mari kita potret realita di jalanan, di kantor, atau bahkan di pelataran masjid menjelang jam berbuka. Adakalanya kita melihat orang-orang yang biasanya ramah mendadak jadi sangat temperamental.
Klakson yang bersahut-sahutan karena macet, emosi yang meledak karena antrean takjil diserobot, atau sekadar sindiran tajam di grup WA karena perbedaan pendapat.
Ironisnya, sering kali kalimat yang keluar adalah kalimat religius, jangan pancing emosi saya, saya lagi puasa! Kalimat ini seolah menjadikan puasa sebagai “kartu As” untuk menjadi galak, padahal puasa seharusnya menjadi “rem” bagi amarah.
Kita merasa berhak marah karena sedang berkorban menahan lapar, padahal energi negatif dari amarah itu sebenarnya lebih cepat menghanguskan pahala puasa kita daripada seteguk air. Mengapa lapar sering kali justru memunculkan sisi “singa” dalam diri kita dan bagaimana menjinakkannya?
Lapar Pemadam Api
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa amarah (ghadhab) bersumber dari “api” yang bergejolak di dalam darah. Nafsu dan amarah adalah dua bersaudara yang saling menguatkan. Pada umumnya, seseorang puasa hanya menahan lapar secara fisik, tapi emosinya tetap liar.
Ia merasa “menderita” karena puasa, sehingga ia melampiaskan penderitaannya kepada orang di sekitarnya. Baginya, puasa adalah beban, dan amarah adalah cara ia melepaskan stres.
Ini mulai tidak berlaku bagi yang memahami bahwa puasa sebagai latihan menahan diri (al-Imshak) secara total. Ia sadar bahwa saat perut lemah, seharusnya ego juga melemah.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita teknik “Inni Sha-im” (aku sedang berpuasa). Kata-kata ini tidak boleh diucapkan sebagai pembenaran untuk menantang orang lain, tapi sebagai pengingat bagi diri sendiri agar “api” amarah tidak berkobar.
Bagi yang sudah terbiasa mengatur emosinya, ia telah mencapai ketenangan (sakinah). Rasa lapar baginya adalah air yang mendinginkan api amarah. Ia tidak lagi punya keinginan untuk menang sendiri atau membalas ejekan, karena hatinya terlalu sibuk merasakan kehadiran Tuhan.
Dalam pandangan imam al-Ghazali, jika kita sudah bisa menaklukkan keinginan makan yang sangat kuat, seharusnya hal ini lebih mudah membantu kita menaklukkan keinginan untuk membentak orang lain. Jika tidak, sebenarnya kita hanya “puasa makan,” tapi masih mudah dikuasai amarah.
Manajemen “Sumbu Pendek”
Untuk mengelola amarah kita yang sering datang tak diundang, mari kita manfaatkan momen puasa kita untuk tetap menjadi perisai yang kokoh mulai hari ini dan seterusnya.
Kita mulai, pertama, latihan “pendinginan” saat ada sesuatu yang memancing emosi hari ini. Misal, jika bertemu dengan kelakuan anak, omelan atasan, atau netizen yang menyebalkan, jangan langsung merespon. Kita coba diam selama 10 detik. Tarik napas dalam-dalam dan katakan dalam hati, “aku sedang puasa, jiwaku sedang belajar tenang.”
Kedua, meditasi fisik. Sesuai anjuran yang imam al-Ghazali, jika marah saat berdiri, kita langsung ambil posisi duduk. Jika marah saat duduk, maka kita pindah posisi berbaring. Kita gunakan kelemahan fisik saat lapar sebagai alasan untuk tidak bersikap agresif.
Ketiga, jika ada pesan yang memicu emosi, jangan dibalas saat itu juga. Tunggu sampai setelah berbuka dan shalat maghrib. Biasanya, setelah perut cukup terisi dan hati tenang, kita akan merasa bahwa masalah tersebut ternyata tidak layak untuk ditanggapi dengan amarah.
Prinsipnya, mana yang lebih melelahkan hari ini, menahan haus di bawah terik matahari, atau menahan keinginan untuk membalas ucapan orang yang menyakiti hati? Jika kita masih merasa “berhak” untuk marah-marah hanya karena sedang lapar, bisa jadi kita sedang gagal menangkap esensi puasa sebagai madrasah kesabaran. (*)
Editor Ichwan Arif












