Ngilmui Siyam

Perut Kenyang Hati Membatu

21
×

Perut Kenyang Hati Membatu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Perut Kenyang Hati Membatu
Ilustrasi opini Perut Kenyang Hati Membatu

Jika malam ini kita merasa malas bersujud, mungkinkah itu karena salah kita sendiri yang telah “menenggelamkan” tanaman hati dengan air siraman yang berlebihan?

Oleh *F. Risallah, Ph.D.*, Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com – “Hendaklah tidak memperbanyak makanan halal ketika waktu berbuka” Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 307)

Khusus dalam bulan Ramadhan ada fenomena yang aneh tapi seringkali berlaku, bahkan berulang. Kita bisa menyebutnya dengan fenomena jebakan food coma.

Hati sudah menyemangati diri untuk shalat terawih setelah Isya. Namun setelah berbuka puasa, justru sebaliknya tubuh mendadak terasa seberat gajah. Mata mulai sulit berkompromi, punggung terasa enggan untuk berdiri, dan lisan pun menggumam tanpa makna atas kekenyangan yang dirasa.

Masih banyak yang menjadikan momen berbuka puasa sebagai ajang “self-reward” yang berlebihan. Seolah-olah melahap apa saja dari gorengan yang menumpuk, minuman manis yang berliter-liter, hingga nasi porsi ganda, adalah hak atas jasa menahan lapar belasan jam.

Kita berpuasa di siang hari, tapi melakukan “balas dendam” di malam hari. Ironisnya, perut yang mengembang karena kekenyangan ini sering kali berbanding lurus dengan hati yang mendadak tumpul dan malas beribadah.

Mengapa Kenyang Mematikan Nurani?

Jawaban dari pertanyaan ini sudah disinggung oleh Imam al-Ghazali. Dalam Ihya’, beliau menjelaskan sebuah rahasia biologi spiritual yang mendalam.

Beliau menekankan bahwa tujuan utama puasa adalah untuk mematahkan syahwat agar hati memiliki ruang untuk bercahaya. Namun, rahasia ini akan sirna jika kita mengisi perut secara berlebihan saat berbuka.Umumnya, kita mengartikan puasa sebagai “pindah jam makan”. Sebagai akibat, volume makanan yang masuk ke perut dalam 24 jam tetap sama, hanya waktunya saja yang digeser.

Al-Ghazali menyebut ini sebagai puasa yang tidak memberikan manfaat batin, karena syahwat yang seharusnya berkurang atau layu justru dipupuk kembali hingga segar bugar saat malam hari.

Di luar yang umum ini, ada sebagian yang mampu memahami bahwa makan adalah sarana, bukan tujuan. Mereka berbuka secukupnya agar tubuh punya energi untuk berdiri menghadap Allah dalam shalat malam.

Mereka takut jika kekenyangan akan menumpulkan ketajaman mata batin mereka. Ada juga sebagian tapi sangat sedikit jumlahnya yang menjadikan rasa laparnya ia “cintai” sebagai bagian dari proses Ibadah puasa.

Mereka menjaga perut tetap ringan agar hati tetap terbang tinggi. Bagi mereka, perut yang kenyang adalah beban yang menghalangi komunikasi rahasia antara hamba dengan sang Pencipta.

Al-Ghazali memberi perumpamaan yang sangat indah dari tipe-tipe manusia yang melakukan ifthor puasa. Hatinya kita ibarat tanaman dan makanan adalah airnya.

Air memang menghidupkan, tapi jika airnya berlebihan sehingga meluap dan menggenang, tanaman itu justru akan busuk dan mati.

Demikian pula hati yang terlalu sering dimanjakan dengan kekenyangan konsumsi akan menjadi keras, tidak peka terhadap penderitaan orang lain, dan kehilangan kelezatan dalam berdoa.

Berbuka dengan Kesadaran

Paling tidak ada tiga strategi yang layak kita terapkan agar hati yang menjalani puasa ini tidak “membatu” setelah berbuka puasa.

Pertama, menerapkan sunnah sepertiga Nabi Muhammad SAW. Saat berbuka, jangan langsung makan besar. Berikan ruang yang adil bagi organ dalaman kita.

Sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air, dan sepertiga untuk napas (ruang kosong). Ruang kosong inilah yang sebenarnya akan menjaga hati tetap “hidup” saat terawih.

Kedua, menjaga kualitas di atas kuantitas. Pilih makanan yang memberikan nutrisi nyata, bukan sekadar memuaskan lidah dan tenggorokan. Kurangi konsumsi gula berlebih yang biasanya membuat kita cepat mengantuk dan malas.

Ketiga, mengevaluasi pasca-buka. Setelah makan, perhatikan kondisi batin kita. Jika kita merasa malas bergerak apalagi enggan berzikir, itu pertanda kita telah makan-minum melebihi kebutuhan jiwa. Sederhananya, jadikan rasa “berat” itu sebagai pengingat untuk memperbaiki porsi buka esok hari.

Dari kondisi ini, kita bisa merasakan ada perbedaan kualitas shalat saat perut terasa ringan dibandingkan saat perut terasa sesak. Jika malam ini kita merasa malas bersujud, mungkinkah itu karena salah kita sendiri yang telah “menenggelamkan” tanaman hati dengan air siraman yang berlebihan? (*)

Editor Ichwan Arif