Liputan

Prof. Syafiq A. Mughni: Internalisasi Nilai Jadi Kunci Jaga Keutuhan Muhammadiyah

12
×

Prof. Syafiq A. Mughni: Internalisasi Nilai Jadi Kunci Jaga Keutuhan Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Prof. Syafiq Muhni
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, MA. saat menyampaikan materi di Pengajian Ramadan 1447 H yang diadakan Majelis Dikdasmen dan PNF PCM GKB di Masjid Al Mizan SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik, Sabtu (28/2/2026)

Selawe.com – Dalam Pengajian Ramadan 1447 H Majelis Dikdasmen dan PNF PCM GKB di Masjid Al Mizan SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, MA. menegaskan kekuatan besar Muhammadiyah harus diiringi dengan internalisasi nilai agar tidak terjebak pada perpecahan, Sabtu (28/2/2026).

Dia menggambarkan Muhammadiyah sebagai organisasi global yang telah memiliki delapan organisasi otonom (sister organizations), jaringan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di berbagai negara, serta kerja sama bilateral di tingkat internasional.

“Kalau ingin melihat besarnya Muhammadiyah, lihatlah berapa banyak jamaah yang mengikuti shalat Idulfitri dengan keputusan Muhammadiyah, berapa siswa di sekolah Muhammadiyah, dan berapa mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah,” jelasnya.

Namun, menurutnya, besarnya Muhammadiyah tidak boleh menjadikan warganya tercerai-berai secara nilai. Ia mengingatkan dengan firman Allah dalam QS. Al-Hasyr ayat 14:

> تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ

“Kamu mengira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah-belah.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan struktural tidak cukup tanpa kesatuan nilai dan kesadaran.

Latar Belakang Beragam Warga Muhammadiyah

Prof. Syafiq menjelaskan bahwa warga Muhammadiyah lahir dari berbagai latar belakang. Mulai dari keluarga – lahir dari orang tua Muhammadiyah, lingkungan/pergaulan – ikut karena pertemanan, pekerjaan – masuk karena menjadi bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), dan ideologi – bergabung setelah memahami Muhammadiyah secara sadar.

Dia menyampaikan bahwa tidak semua kader lahir dari proses ideologis sejak awal. “Walaupun lahir dari keluarga Muhammadiyah, belum tentu menjadi kader terbaik. Yang terpenting adalah proses,” ungkapnya.

Dari Pengetahuan Menuju Kesadaran

Menurut Prof. Syafiq, proses internalisasi nilai Muhammadiyah bertumpu pada dua hal utama. Pertama pengetahuan. Pemahaman terhadap Muhammadiyah harus terus ditumbuhkan melalui proses belajar.

“Saat ini, akses informasi semakin mudah. Siapa pun dapat mempelajari Muhammadiyah melalui berbagai sumber digital sehingga wawasan tentang organisasi semakin terbuka,” jelasnya.

Kedua, kesadaran. Pengetahuan saja tidak cukup. Banyak pihak mengakui keunggulan Muhammadiyah sebagai organisasi modern dengan tata kelola yang rapi dan bahkan memiliki success story di tingkat global.

“Muhammadiyah juga dikenal memiliki jaringan amal usaha yang luas, hingga pernah menjadi mitra penyaluran bantuan kemanusiaan internasional, termasuk pada saat tragedi tsunami Aceh,” ungkapnya.

Namun demikian, tegasnya. pengakuan terhadap keunggulan Muhammadiyah tidak selalu diikuti dengan kesediaan untuk bergabung. Sebagian orang tetap menjaga jarak karena faktor kepentingan atau preferensi praktik keagamaan tertentu.

Tantangan Internal

Dia menyampaikan, di sinilah pentingnya internalisasi nilai. Pengetahuan harus ditingkatkan, tetapi lebih dari itu, kesadaran untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai pilihan ideologis perlu terus dibangun.

“Pengetahuan dan kesadaran ini harus terus ditingkatkan dan diinternalisasi,” tegasnya.

Dengan demikian, sambungnya, Muhammadiyah tidak hanya besar secara jumlah dan amal usaha, tetapi juga kuat dalam kesatuan nilai dan orientasi perjuangan. (*)

Penulis Ain Nurwindasari. Editor Ichwan Arif.