
Tanpa disadari, sering kali kita menjalani puasa dalam mode auto-pilot. Kita menahan lapar karena memang jadwalnya lapar. Kita menahan haus karena semua orang di sekitar kita juga melakukannya.
Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik
Selawe.com – “Ketahuilah bahwa puasa itu ada tiga tingkatan: puasanya orang awam, puasanya orang khusus, dan puasanya orang yang lebih khusus dari yang khusus.” Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I:305).
Dalam bulan Ramadan tahun ini, perkenankan penulis menuangkan ikhtiyar mencari hikmah dari ibadah puasa selama sebulan ke depan.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, dengan kedatangan bulan Ramadan kita semua mendadak masuk ke dalam sebuah ritme massal. Alarm sahur berdering serentak, lini masa media sosial penuh dengan foto takjil, dan topik obrolan bergeser seputar menu berbuka atau rencana mudik di akhir bulan.
Namun, di tengah keriuhan itu, pernahkah kita bertanya: apakah puasa kita tahun ini benar-benar sebuah perjalanan spiritual, atau sekadar ritual “copy-paste” dari tahun lalu?
Tanpa disadari, sering kali kita menjalani puasa dalam mode auto-pilot. Kita menahan lapar karena memang jadwalnya lapar. Kita menahan haus karena semua orang di sekitar kita juga melakukannya.
Puasa akhirnya terjepit di antara tradisi dan tuntutan sosial, kehilangan daya pemaknaan untuk memperbaiki jiwa. Kita berhenti makan, tapi lupa berhenti mengejar dunia dalam pikiran kita.
Menakar Kedalaman “Niat”
Dalam mahakaryanya Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali tidak membiarkan kita nyaman dengan puasa yang sekadar “sah” secara administrative (fiqh).
Beliau mengajak untuk meningkatkan kualitas puasa kita ke dalam tiga level yang menantang kejujuran diri.
Pertama, Puasa Awwam (umum). Ini adalah level dasar, di mana fokus utama kita hanya menjaga perut dan kemaluan.
Selama tidak makan dan minum, kita merasa sudah “lulus”. Bagi al-Ghazali, ini barulah kulit luar. Jika niat kita berhenti di sini, puasa hanya akan terasa sebagai beban biologis yang melelahkan.
Kedua, Puasa Khusus (spesial). Di sini, niat kita naik kelas. Kita mulai menyadari bahwa perut yang kosong adalah pintu masuk untuk mendisiplinkan panca indera.
Indera penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman mulai ikut “puasa” dari hal-hal yang tidak berguna. Niatnya bukan lagi sekadar menggugurkan kewajiban, tapi melakukan pembersihan diri secara menyeluruh.
Ketiga, Puasa Khusus al-Khusus (istimewa). Inilah puncak tertinggi. Niat di level ini sudah melampaui urusan pahala atau surga. Fokusnya adalah “puasa hati” (shaum al-qalb) dari segala pikiran rendahan dan duniawi.
Di level ini, seseorang dianggap “batal” puasanya jika hatinya berpaling sedetik saja dari mengingat Allah. Al-Ghazali ingin kita mengerti bahwa niat adalah filter. Ia menyaring mana puasa yang hanya sampai di kerongkongan dan mana puasa yang menembus hingga ke Arsy-Nya.
Melakukan “Hard-Reset” Niat
Agar puasa kita tidak terjebak menjadi sekadar menahan lapar-dahaga atau mungkin diet medis yang dibalut label agama, mari lakukan langkah konkret di hari ini juga.
(1) Hening Sejenak (5-Minute Silent), sebelum memasuki waktu berbuka atau saat sahur, matikan ponsel anda. Duduklah dengan tenang dan tanyakan pada batin diri: “ya Allah, apakah lapar ini benar-benar untuk-Mu, atau aku hanya mengikuti tradisi puasa tahunan?”
(2) Pembaruan Niat Setiap Waktu, jangan hanya berniat sekali di awal bulan. Setiap kali rasa haus menyengat di siang hari, anda wajib memperbarui niat. Katakan dalam hati bahwa rasa tidak nyaman ini adalah bukti cinta diri pada perintah-Nya, bukan sekadar penderitaan fisik.
(3) Audit Pikiran, sadari apa yang paling banyak mengisi pikiran anda pada hari ini. Jika 90% isinya adalah urusan pekerjaan, uang, atau konflik sosial, tandanya niat kita perlu “diservis” kembali agar lebih condong ke arah Ilahi.
Hari ini adalah lembaran pertama dari tiga puluh hari perjalanan Ramadhan tahun ini. Di tingkat manakah posisi puasa kita saat ini? Apakah kita sudah merasa cukup dengan sekadar “tidak makan-minum,” atau kita mulai merasa rindu untuk membawa hati kita ikut berpuasa? (*)
Editor Ichwan Arif





