
Jika doa-doa kita masih terasa kering, bisa jadi kita masih terlalu sibuk meminta dunia sehingga lupa untuk sekadar “hadir” di hadapan-Nya.
Oleh *F. Risallah, Ph.D.*, Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik
Selawe.com – “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (jihad) untuk mencari keridhaan kami, kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik ([29: 69]” Kitab Asrar al-Shaum (I: 303)
Di sepertiga malam terakhir Ramadan, ada frekuensi langit yang terbuka sangat lebar. Momen ini harus dimanfaatkan untuk memanjatkan harapan-harapan nasib kita, baik di akhirat maupun ketika masih di dunia ini.
Namun, pernahkah kita merasa doa-doa yang selama ini dipanjatkan terasa seperti transaksi di mesin otomatis? Kita datang dengan daftar berbagai keinginan, mulai dari minta rezeki, jodoh, bahkan sampai kesuksesan.
Lalu kita masukkan koin berupa beberapa rakaat shalat untuk berharap hasilnya segera keluar. Ironisnya dalam berdoa, bibir komat-kamit namun pikiran kita seringkali berkelana memikirkan hal remeh-temeh.
Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa doa tanpa kehadiran hati adalah seperti tubuh tanpa nyawa. Kita merasa sudah berdoa, padahal hakikatnya sedang berbicara sendiri.
Di malam-malam terakhir Ramadan, kita sering melihat orang-orang menangis saat imam melantunkan al-Qur’an atau berdoa di masjid. Benarkah tangisan itu terlahir dari rasa butuh yang amat sangat kepada Tuhan, atau sekadar terbawa suasana?
Kehancuran Hati sebagai Kunci
Syarat utama doa yang “menembus langit,” sebagaimana yang dijelaskan imam al-Ghazali, bukan pada kefasihan bahasanya, melainkan pada inkisar al-qalb atau hati yang sudah menjadi lembut dari yang sebelumnya keras.
Bagi kebanyakan manusia berdoa hanya sampai di kerongkongan. Mereka hafal doa-doa panjang dalam bahasa Arab tapi tidak mengerti apa yang sebenarnya diminta. Umumnya, doa dinilai sebagai ritual pelengkap setelah shalat.
Namun, banyak juga yang berdoa berangkat dari kebutuhan. Mereka tahu apa yang diminta, tetapi fokusnya masih pada “pemberian”, bukan pada “sang Pemberi”. Mereka menangis karena takut keinginannya tidak dikabulkan.
Hal ini mulai tidak berlaku bagi yang menjadikan doa sebagai obat. Seseorang berdoa karena ia merasa sangat fakir, kecil, dan tidak berdaya di hadapan Allah. Air matanya bukan air mata kesedihan duniawi, melainkan air mata kerinduan dan penyesalan.
Imam al-Ghazali menyebut tetesan air mata yang tulus ini bisa memadamkan api dosa yang membara di dalam hati.
Dalam konteks Ramadan, rasa lapar saat puasa berfungsi untuk menghancurkan ego yang sombong. Sehingga, saat kita mengangkat tangan di malam hari, hati kita sudah berada dalam posisi yang benar-benar “rendah”.
Di situlah menurut imam al-Ghazali doa menjadi sangat tajam yang mana frekuensinya sampai ke langit.
Mengadu di Ruang Privat
Dalam ruang pengaduan kepada Tuhan, kita perlu melakukan hal-hal berikut agar doa kita bernyawa dan mengenai frekuensi dengan kuat. Pertama, saat bangun sahur atau di tengah malam, kita ambil waktu sekitar 10 menit untuk menyendiri.
Tanpa perlu menggunakan doa-doa hafalan, dengan bahasa sendiri kita sampaikan semua lelah, takut, dan dosa kita seolah-olah sedang berbicara dengan sahabat yang paling mengerti. Jika akhirnya kita menangis, biarkan air mata itu mencuci beban yang menyesakkan dada.
Kedua, jangan sampai kita “memaksa” Tuhan seolah-olah “mendikte”-Nya dengan cara-cara yang kita inginkan, padahal pengetahuan kita setipis kertas.
Cobalah berdoa dengan sikap menyerah, seperti: “Ya Allah, inilah aku dengan segala kekuranganku. Aku tidak tahu apa yang terbaik untukku, tapi aku tahu Engkau sangat menyayangiku. Kuserahkan semuanya kepadaMu, aturlah hidupku.” Rasakan bagaimana beban yang ada di pundak perlahan menghilang.
Ketiga, imam al-Ghazali melatih kita untuk menyelipkan satu doa tulus untuk orang yang mungkin pernah menyakiti atau yang paling membuat kita kesal tahun ini. Jika kita bisa melakukannya dengan lepas, itu adalah tanda bahwa hati kita sudah mulai sembuh dari penyakit ego.
Hal yang perlu kita renungkan adalah kapan terakhir kali kita benar-benar “curhat” kepada Allah sampai dada kita terasa plong, seolah tidak ada lagi keluhan yang disembunyikan? Namun, jika doa-doa kita masih terasa kering, bisa jadi kita masih terlalu sibuk meminta dunia sehingga lupa untuk sekadar “hadir” di hadapan-Nya. (*)
Editor Ichwan Arif.










