Ngilmui Siyam

Ramadan Momentum Pembentukan Karakter

14
×

Ramadan Momentum Pembentukan Karakter

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Ramadan Momentum Pembentukan Karakter
Ilustrasi opini Ramadan Momentum Pembentukan Karakter (Al)

Program pendidikan Ramadan di sejumlah sekolah masih bersifat seremonial dan cenderung menggunakan pendekatan dengan cara yang klasik.

Oleh Rohimullah At-Thobroni, Pustakawan SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik

Selawe.com –  Bulan suci Ramadan tidak sekadar menjadi moment untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga merupakan momentum bagi umat Muslim untuk meningkatkan spiritualitas sekaligus membentuk karakter yang berilmu, berakal, dan berakhlak mulia.

Di balik praktik ibadah yang dilakukan selama bulan Ramadan, terdapat nilai pendidikan yang sangat kuat, terutama dalam pembentukan karakter.

Oleh karena itu, banyak lembaga pendidikan yang memanfaatkan momentum ini dengan menyelenggarakan berbagai program pendidikan Ramadan untuk membina para gen z.

Namun, tantangan yang di hadapi generasi muda saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi digital, yang telah memberikan dampak besar terhadap pola kehidupan remaja.

Survei nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 30% remaja Indonesia menghabiskan waktu lebih dari lima jam per hari di internet.

Kondisi ini tidak selalu diiringi dengan literasi digital dan kemampuan pengendalian diri yang memadai.

Akibatnya, berbagai persoalan seperti kecanduan gadget, menurunnya interaksi sosial, hingga perilaku kurang produktif semakin sering ditemukan. Situasi ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.

Di tengah kondisi tersebut, program pendidikan Ramadan sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi sarana pembentukan karakter siswa.

Sayangnya, pelaksanaan program pendidikan Ramadan di sejumlah sekolah masih bersifat seremonial dan cenderung menggunakan pendekatan dengan cara yang klasik.

Banyak sekolah yang hanya menyelenggarakan kegiatan ceramah atau pesantren kilat dalam waktu singkat tanpa menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan berkelanjutan. Akibatnya, kegiatan tersebut seringkali kurang memberikan dampak signifikan terhadap perubahan perilaku siswa.

Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pendidikan Ramadan memiliki pengaruh positif terhadap pembentukan karakter dan kebiasaan beribadah.

Penelitian mengenai kegiatan pesantren kilat menunjukkan bahwa program tersebut dapat meningkatkan karakter religius siswa serta membentuk kebiasaan beribadah apabila dilaksanakan secara terstruktur dan melibatkan dukungan orang tua di rumah.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa sebagian besar siswa merasakan peningkatan ketaatan saat beribadah setelah mengikuti kegiatan Ramadan, seperti melaksanakan shalat secara lebih disiplin, membaca Al-Qur’an, serta terlibat dalam kegiatan sosial dan sedekah.

Menyadari potensi tersebut, berbagai lembaga pendidikan dan organisasi keagamaan mulai mendorong inovasi dalam pelaksanaan program pendidikan Ramadan. Salah satunya adalah dorongan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar kegiatan pesantren kilat tidak hanya dilaksanakan dengan metode ceramah, tetapi juga dikembangkan melalui pendekatan yang lebih aplikatif dan relevan dengan kehidupan generasi muda.

Pendekatan tersebut dapat berupa diskusi studi kasus, pemanfaatan aplikasi digital, serta penguatan soft skill yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan perkembangan teknologi.

Inovasi semacam ini telah diimplementasikan oleh SMA Muhammadiyah 10 GKB melalui program pendidikan Ramadan yang terintegrasi dengan kegiatan pembiasaan Islami dalam kehidupan sehari-hari.

Program tersebut dirancang secara strategis dan didukung oleh sistem berbasis website yang dikelola dengan baik. Melalui media tersebut, siswa dapat melakukan presensi kegiatan pembiasaan Islami, seperti shalat berjamaah, membaca Al-Qur’an, maupun aktivitas keagamaan lainnya.

Sistem ini tidak hanya mempermudah pemantauan kegiatan para siswa, namun juga mendorong konsistensi mereka dalam membangun karakter religius.

Dengan perencanaan yang matang serta pengelolaan yang inovatif dan terintegrasi, program pendidikan Ramadhan dapat menjadi ruang pembelajaran karakter yang nyata bagi generasi muda.

Ramadan tidak hanya mengajarkan ibadah secara ritual, tetapi juga membentuk pribadi yang berintegritas, berempati, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial. Momentum Ramadan seharusnya dimanfaatkan secara optimal sebagai sarana pendidikan karakter yang mampu menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan di masa mendatang. (*)

Editor Ichwan Arif