
Jika niat kita berpuasa hanya karena Allah SWT, maka lapar bukanlah alasan. Allah SWT juga memerintahkan kita berpuasa untuk kebaikan kita sendiri, baik dari segi fisik maupun batin.
Oleh Mar’atus Sholichah, S.Pd., guru SD Muhammadiyah GKB 1 Gresik (Mugeb Primary School).
Selawe.com – Ramadhan. Bagi sebagian orang hanya bulan yang tak jauh beda dari bulan yang lain. Tetap bangun di pagi hari, bekerja dan beraktivitas seperti biasanya. Yang membedakan hanya tidak makan dan minum selama 12 jam.
Namun, bagi sebagian orang lainnya, Ramadan terasa sangat istimewa. Di sana banyak keutamaan yang hanya orang-orang tertentu saja yang berusaha keras ingin meraihnya.
Ramadan adalah sekolah karakter. Di bulan ini, kita berlatih menahan diri dan kejujuran. Sebagai pendidik, tentu kita mengajarkan nilai-nilai karakter dan kebaikan kepada siswa.
Sebagaimana kita mengajarkan murid untuk beribadah, berpuasa, bersedekah, dan menebar kebaikan lainnya. Sudahkah kita sebagai pendidik juga melakukannya?
Sebagai muslim, tentu kita sudah hafal bahwa puasa merupakan salah satu rukun islam yang wajib kita laksanakan.
Selama berpuasa, kita berkomitmen untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Komitmen itu harus dipegang teguh dan dilaksanakan dimanapun berada. Nilai kejujuran, keimanan, keikhlasan, ketaqwaan diuji bersamaan.
Bisakah kita membuktikan integritas diri kita di hadapan Allah?
Puasa adalah ibadah yang bersifat personal. Hanya kita dan Allah yang tau niat puasa kita apakah benar untuk Allah atau hanya sekadar formalitas hanya karena kita menganut agama islam, karena yang lain puasa jadi kita ikut-ikutan puasa, atau karena kita adalah guru sehingga malu jika tidak puasa (tanpa alasan) di depan murid.
Jika kita niatkan puasa karena Allah, maka kita akan bersungguh-sungguh melakukannya tanpa perlu berbangga diri, tanpa perlu pengakuan dari orang lain bahwa kita berpuasa.
Di bulan yang mulia ini, Allah telah memberikan fasilitas terbaik untuk meraih rahmat-Nya. Allah mengumbar pahala, ampunan, dan berkah-Nya secara unlimited. Tinggal kitanya saja bisa atau tidak memanfaatkan dengan baik fasilitas mewah yang sudah disediakan Sang Pencipta ini.
Meskipun Allah menjanjikan berbagai keutamaan di di bulan Ramadan, dalam kenyataannya, selama berpuasa manusia tetap diuji dengan godaan.
Warung-warung yang tetap buka dengan aroma masakan yang menyebar di udara, melihat anak-anak kecil makan dengan lahapnya di hadapan kita, atau bahkan kita berpuasa sambil menyuapi anak kita yang masih kecil.
Ternyata masih banyak pula orang yang kalah dengan sesuap nasi. Masih banyak yang rela menggugurkan niat puasanya hanya karena segelas es teh yang segar sehingga melupakan niat awalnya berpuasa. Siapapun bisa saja terseret godaan semacam ini, termasuk pendidik.
Karena itulah, sebagai pendidik, tentunya kita harus berbenah diri terlebih dahulu. Menata kembali niat puasa karena Allah SWT karena ada hadis yang mengatakan, “Sesungguhnya amal perbuatan bergantung pada niatnya”.
Sungguh kita adalah orang yang merugi jika hanya berpuasa dari lapar dan haus. Jika niat kita berpuasa hanya karena Allah SWT, maka lapar bukanlah alasan. Allah SWT juga memerintahkan kita berpuasa untuk kebaikan kita sendiri, baik dari segi fisik maupun batin.
Alangkah mulianya ibadah puasa kita jika diiringi dengan kejujuran menjaga puasa serta keikhlasan berpuasa sebagai bentuk ibadah.
Menjadi teladan bagi murid memang bukan perkara mudah. Keteladanan bukan hanya perilaku yang tampak di depan murid atau orang lain, tapi justru teladan sesungguhnya terlihat dari apa yang kita lakukan saat tidak ada yang melihat. (*)
Editor Ichwan Arif










