Ngilmui Siyam

Sedih-Rindu Ramadhan

75
×

Sedih-Rindu Ramadhan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Sedih-Rindu Ramadhan
Ilustrasi opini Sedih-Rindu Ramadhan

Kebiasaan baik apa yang pasti kita ingin bawa ke bulan Syawal nanti? Tidak perlu muluk-muluk. Pilih satu saja misal, tetap rutin baca al-Quran meski seayat atau sehalaman tiap harinya.

Oleh *F. Risallah, Ph.D.*, Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com – “Ketika Ramadan tiba, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup dan syetan dirantai.” Kitab Asrar al-Shaum (I: 302)

Aroma masakan khas hari raya mungkin sudah mulai tercium dari dapur tetangga, dan rencana mudik sudah di depan mata.

Namun, di tengah kegembiraan menyambut lebaran, ada perasaan sesak yang halus bagi mereka yang benar-benar menikmati jamuan spiritual Ramadhan.

Bagi mayoritas, akhir Ramadan adalah berita gembira. Perasaan akan terbebas dari lapar, dari kantuk di jam kerja, atau bebas untuk kembali ke pola hidup sebelumnya. Ada rasa lega yang luar biasa seolah-olah baru saja keluar dari penjara.

Namun, bagi sebagian kecil orang, hari-hari terakhir ini adalah hari-hari yang mengharukan. Mereka merasa cemas diliputi berbagai pertanyaan, apakah aku bisa tetap bangun malam tanpa suasana Ramadan?

Apakah lisanku akan kembali tajam saat lapar tidak lagi menjagaku? Apakah aku akan bertemu lagi dengan bulan ini tahun depan?

Perasaan ini mirip dengan berpisah dengan seorang guru yang sangat sabar atau kekasih yang sangat perhatian.

Kita sadar bahwa lingkungan Ramadan yang protektif-kondusif di mana setan-setan dibelenggu dan pintu surga dibuka lebar-lebar akan segera berganti kembali menjadi dunia yang penuh godaan. Kita takut kembali menjadi diri kita yang lama yang penuh dengan debu dosa.

Ketakutan akan Penolakan

Imam al-Ghazali menekankan pentingnya perasaan antara Khauf (takut) dan Raja’ (harap) di setiap amal-ibadah. Dijelaskan bahwa kesedihan di akhir ibadah adalah tanda adanya iman yang hidup.

Umat Muslim pada umumnya merasa sedih hanya karena Ramadan berlalu cepat, tapi kesedihannya tertutupi oleh euforia belanja dan baju baru. Fokusnya adalah perayaan, bukan perenungan diri.

Namun begitu, ada yang sedih karena belum merasa maksimal dalam beribadah. Mereka merasa 26 hari ini berlalu tanpa ada ledakan spiritual yang berarti. Kesedihan mereka adalah bentuk penyesalan (taubat) atas waktu-waktu yang tersia-siakan untuk tidur atau hal tidak berguna.

Hal ini mulai tidak berlaku bagi para pendaki jalan keselamatan. Imam al-Ghazali menggambarkan mereka sebagai orang yang sangat takut amalannya tidak diterima (mardud).

Mereka tidak bangga dengan puasanya, sebaliknya selalu gemetar dalam hati, “Apakah puasaku ini sudah layak menurut Engkau ya Allaht?” Kesedihan mereka lahir dari rasa malu, bukan sekadar rasa kehilangan waktu.

Mereka tidak memuja Ramadan, tapi benar-benar mengerti yang dipuja hanyalah Allah. Jika Ramadan pergi, Allah tetap ada. Namun, hilangnya suasana yang mempermudah kita mendekat kepada-Nya memang layak untuk “ditangisi.”

Protokol Perpisahan

Kita tidak selayaknya kehilangan momentum spiritual di hari-hari terakhir ini. Sebagai bentuk penghormatan, kita mesti mempersiapan perpisahan yang elegan.

Pertama, lihat kembali catatan atau niat kita di awal Ramadan. Kebiasaan baik apa yang pasti kita ingin bawa ke bulan Syawal nanti? Tidak perlu muluk-muluk. Pilih satu saja misal, tetap rutin baca al-Quran meski seayat atau sehalaman tiap harinya. Kita niatkan ini sebagai “oleh-oleh” dari Ramadan.

Kedua, di sela-sela kesibukan persiapan lebaran, sisihkan waktu beberapa menit untuk “berpamitan” secara batin. Kita bisa sampaikan, “Ya Allah, terima kasih telah mengizinkanku berada di bulan-Mu. Ampuni segala kekuranganku. Jangan biarkan ini menjadi Ramadhan terakhirku.”

Ketiga, kita kurangi fokus pada pesta lebaran. Tidak perlu 3-4 hari terakhir ini habis hanya untuk urusan dapur dan penampilan luar. Kita tetap jaga kualitas shalat dan tilawah, seolah-olah ini adalah hari-hari penentuan nasib kita di akhirat. Jangan kita biarkan “penonton” pergi sebelum pertunjukan benar-benar selesai.

Jika kita tidak merasa sama sekali akan kehilangan momen-momen mudahnya beribadah di Ramadan yang segera pergi beberapa hari lagi, bisa jadi selama ini kita hanya “numpang lewat” tanpa benar-benar bertamu di dalam keberkahannya. (*)

Editor Ichwan Arif