Liputan

Siswa Spemdalas Amati Langsung Bahaya Rokok

43
×

Siswa Spemdalas Amati Langsung Bahaya Rokok

Sebarkan artikel ini
Spemdalas
Siswa VIII Erbium Spemdalas amati bahaya rokok melalui praktikum sederhana, Senin (19/1/26)

Selawe.com – Senin, 19 Januari 2026, halaman SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik, Jawa Timur, tampak lebih hidup dari biasanya. Di bawah langit mendung yang menyejukkan dan rindangnya pepohonan, sekelompok siswa berkumpul dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

Senyum ceria dan percakapan antusias menjadi penanda bahwa pagi itu bukan sekadar waktu belajar biasa. Siswa kelas 8 Erbium tengah melakukan percobaan sederhana untuk mengamati langsung bahaya asap rokok dan kandungan nikotin terhadap sistem pernapasan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran mendalam yang dirancang agar siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengalami proses belajar secara nyata.

Guru pengampu, Mochammad Nor Qomari, S.Si., menjelaskan bahwa praktik ini bertujuan menumbuhkan kesadaran siswa akan pentingnya menjaga kesehatan paru-paru sejak dini. “Pembelajaran ini saya rancang agar siswa bisa melihat dan merasakan langsung dampak asap rokok terhadap alat pernapasan,” ujarnya.

Menariknya, alat dan bahan yang digunakan sangat sederhana dan mudah ditemukan. Setiap kelompok hanya memanfaatkan botol air mineral bekas ukuran 1.500 ml, rokok konvensional, kertas tisu atau kapas, serta solder.

Dengan bimbingan guru, siswa melubangi tutup botol menggunakan solder panas sesuai diameter rokok, lalu meletakkan tisu di bagian dasar botol sebagai media pengamatan.

Dua botol disiapkan sebagai pembanding. Satu botol dipasangi rokok yang telah dinyalakan, sementara botol lainnya dibiarkan tanpa rokok. Selanjutnya, siswa menekan dan mengembangkan botol secara bergantian, menirukan cara kerja paru-paru saat bernapas.

Asap rokok pun perlahan masuk ke dalam botol. Sesekali terdengar batuk kecil, disertai refleks siswa menjauhkan botol berasap dari wajah mereka.

Pengalaman Berharga

Usai percobaan, perhatian siswa tertuju pada tisu di dasar botol. Mereka mengamati dengan saksama perubahan warna, bau yang tercium, serta kebersihan permukaan botol.

Perbedaan terlihat jelas. Tisu pada botol berasap berubah warna menjadi kuning kecokelatan dan berbau menyengat, sementara tisu pada botol tanpa rokok tetap bersih dan tidak berbau.

Hasil pengamatan tersebut kemudian dicatat dan dianalisis dalam lembar kerja peserta didik (LKPD). Setiap kelompok menyusun laporan dan mempresentasikan temuan mereka. Hanifa, salah satu siswa, mengungkapkan kesannya saat mempresentasikan hasil percobaan.

“Ketika asap rokok masuk ke botol, ruang yang awalnya bening berubah keruh dan bau. Berbeda dengan botol tanpa rokok yang tetap jernih dan tidak berbau,” tuturnya.

Pengalaman serupa disampaikan Aydin. Ia mengaku terkejut melihat perubahan pada tisu. “Kertas tisu yang semula bersih berubah menjadi kuning kecokelatan. Woow… bisa dibayangkan jika nikotin itu menempel di alveolus paru-paru kita. Asap rokok yang dihirup jelas bisa menimbulkan gangguan pernapasan,” katanya.

Dari hasil percobaan tersebut, Aydin mengajak teman-temannya untuk menjauhi rokok dan siap menyosialisasikan bahaya rokok kepada orang-orang terdekat.

“Sayangi paru-parumu. Mari kita kampanyekan bahaya rokok kepada keluarga dan teman, baik di rumah maupun di sekolah,” tambahnya penuh semangat.

Pembelajaran Bermakna

Apresiasi datang dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Ustadzah Jamilah, M.Pd. Ia menilai pembelajaran ini mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

“Pembelajaran disajikan secara mendalam sehingga siswa benar-benar memahami bahaya rokok melalui percobaan sederhana,” ujarnya.

Dia berharap kegiatan ini menjadi bekal bagi siswa untuk menjauhi rokok dan berani mengajak lingkungan sekitarnya hidup lebih sehat.

Melalui pembelajaran kontekstual seperti ini, Spemdalas tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian terhadap kesehatan diri dan lingkungan. Dari sebotol asap rokok, lahir kesadaran besar untuk menjaga paru-paru dan masa depan yang lebih sehat. (*)

Penulis M. Nur Qomari. Editor Ichwan Arif.