
Selawe.com – Penguatan Sistem, Sumber Daya Manusia (SDM), dan budaya jadi kunci kokohnya Muhammadiyah berkhidmat disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. Dr. H. Syafiq A. Mughni, MA. dalam Pengajian Ramadan 1447 H, Sabtu (28/2/2026).
Dalam pengajian yang diselenggarakan Majelis Dikdasmen dan PNF PCM GKB, dia menegaskan bahwa tugas utama seluruh warga persyarikatan adalah menguatkan Muhammadiyah.
Dia menjelaskan bahwa seluruh amal usaha yang ada merupakan milik persyarikatan secara kolektif. “Di Muhammadiyah semua amal usaha adalah milik Muhammadiyah,” ungkapnya, seraya menegaskan pentingnya menjaga kesatuan sistem organisasi agar tetap kokoh.
Dia menuturkan, kuncinya pertama penguatan pertama terletak pada sistem organisasi. Struktur Muhammadiyah harus berjalan sesuai dengan kewenangan masing-masing tingkatan.
“Cabang, daerah, wilayah, hingga pusat memiliki peran yang berbeda dan tidak boleh saling melampaui,” jelasnya.
Kejelasan struktur dan wewenang ini menjadi penting agar Muhammadiyah mampu berfungsi sebagai holding system yang kuat dan tidak terjadi tumpang tindih peran di dalam organisasi.
Kedua, penguatan Sumber Daya Insani. Selain sistem, kualitas manusia menjadi faktor penentu kekuatan Muhammadiyah.
Prof. Syafiq menekankan pentingnya kaderisasi melalui program seperti Baitul Arqam dan Darul Arqam. Program tersebut berperan dalam membentuk sumber daya insani yang memiliki kapasitas ideologis dan profesional.
Ia mengutip pernyataan tokoh nasional Dahlan Iskan yang pernah menyampaikan bahwa Muhammadiyah memiliki begitu banyak orang berkualitas, sehingga bahkan jika salah memilih pemimpin pun, hasilnya masih tetap baik.
“Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pengembangan SDM yang berkelanjutan dalam persyarikatan,” tambahnya.
Ketiga, penguatan budaya organisasi. Penguatan berikutnya terletak pada budaya organisasi. Budaya Muhammadiyah sering kali tidak tertulis, tetapi hidup dalam kebiasaan sehari-hari. Budaya tersebut mencerminkan identitas Muhammadiyah, seperti: kerapian dalam penampilan,cara berkomunikasi, komitmen pada transparansi dan akuntabilitas, hingga ungkapan khas dalam pidato seperti Nasrun minallah wa fathun qariib.
“Budaya organisasi inilah yang menjaga soliditas Muhammadiyah dari waktu ke waktu. Melalui sistem yang kuat, sumber daya insani yang berkualitas, serta budaya organisasi yang hidup, Muhammadiyah diharapkan terus tumbuh sebagai gerakan Islam yang kokoh dan berkemajuan,” tandasnya. (*)
Penulis Ain Nurwindasari. Editor Ichwan Arif.












