
Mereka lebih memilih berbuka dengan sajian sederhana yang jelas asalnya daripada jamuan mewah yang status sumbernya tidak diketahui bahkan meragukan.
Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik
Selawe.com – “Bukanlah makna puasa menahan diri dari makanan halal kemudian berbuka dengan makanan haram…Sesungguhnya makanan halal bisa membahayakan diri jika berlebihan, bukan karena jenisnya, karena makna puasa adalah untuk menguranginya“ Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 306)
Setiap sore menjelang berbuka, kita disuguhi pemandangan luar biasa yaitu “War Takjil.” Kita semua berburu makanan paling enak, yang viral, dan menggugah selera untuk membalas dendam rasa lapar seharian.
Bahkan mungkin kita sangat teliti untuk mencari label halal di kemasannya, atau apakah ada kandungan bahan yang dilarang dalam komposisinya.
Namun, pernahkah kita seteliti itu pada sumber uang yang kita gunakan untuk membelinya? Di tengah gaya hidup yang serba cepat, kita sering terjebak dalam area abu-abu (syubhat).
Bisa jadi uang yang kita hasilkan ada unsur hasil kerja yang kita korupsi waktunya, komisi yang tidak transparan, atau keuntungan niaga yang diambil dengan cara yang sedikit mencurangi takaran.
Kita merasa aman karena yang kita makan adalah nasi dan sayur (yang jelas halal zatnya), padahal ruh dari makanan tersebut sudah tercemar oleh cara perolehannya. Kita berpuasa dari yang halal di siang hari, tapi berbuka dengan sesuatu yang dipertanyakan di malam hari.
Makanan Benih Perbuatan
Makanan bukan sekadar bahan bakar biologis. Makanan adalah benih dari perbuatan kita. Menurut imam al-Ghazali jika benihnya berasal dari sesuatu yang tidak bersih, maka pohon ibadah yang tumbuh darinya akan layu dan buahnya akan pahit.
Bagi orang kebanyakan, makanan untuk berbuka fokusnya hanya pada zat. Selama bukan babi, darah, atau bangkai, mereka merasa aman. Mereka tidak sadar bahwa makanan yang syubhat (ragu-ragu) bisa membuat hati menjadi keras dan malas bersujud.
Sedangkan bagi kalangan khusus, mereka berbuka sekaligus dengan mewaspadai sumbernya. Mereka mengerti bahwa puasa batin dimulai dari perut yang bersih dari harta orang lain.
Mereka lebih memilih berbuka dengan sajian sederhana yang jelas asalnya daripada jamuan mewah yang status sumbernya tidak diketahui bahkan meragukan.
Di kalangan yang lebih khusus lagi, status kehalalan adalah harga mati untuk menjaga cahaya hati. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa makanan haram atau syubhat adalah penghalang utama (hijab) antara hamba dan Tuhan.
Bagaimana doa bisa melesat ke langit jika di dalam tubuhnya mengalir darah yang tumbuh dari sesuatu yang batil yang belum dibersihkan?
Jangan sampai kita membangun bangunan pahala dengan menahan lapar seharian, tapi kita menghancurkan kota iman kita dengan memasukkan sesuatu yang tidak diridhai Allah saat berbuka.
Membersihkan Isi Piring
Dalam rangka membersihkan diri agar ibadah kita tidak terasa hambar dan berat, langkah pembersihan jalur berikut ini perlu diterapkan. Pertama, audit penghasilan. Apakah ada hak orang lain yang terselip dalam penghasilan kita?
Jika ada, kita wajib segera membersihkannya dengan sedekah atau mengembalikannya jika kita mengetahui dengan persis dari mana asalnya. Prinsipnya, sedikit yang bersih jauh lebih berkah daripada banyak yang membawa penyakit hati.
Kedua, memilih yang paling jelas. Seperti saat membeli menu berbuka, kita pilih tempat yang kita yakini kejujurannya. Jika ragu pada sebuah sumber, lebih baik ditinggalkan. Ada kaidah baku, “tinggalkan yang meragukanmu menuju yang tidak meragukanmu.”
Ketiga, doa sebelum suapan pertama. Saat adzan Maghrib tiba, tidak baik kita langsung melahap makanan yang ada. Kita tatap makanan dan minta dalam hati, “ya Allah, jadikanlah makanan ini kekuatan bagiku untuk lebih taat kepada-Mu, bukan justru menjadi penghalang doaku.”
Ini semua adalah ikhtiar kita mencari jawaban dari masalah klasik, mengapa kita tetap merasa sangat mengantuk saat shalat Tarawih padahal sudah tidur siang? Mungkinkah itu “sinyal” dari tubuh bahwa ada sesuatu yang kurang bersih dalam makanan yang kita konsumsi saat berbuka semalam? (*)
Editor Ichwan Arif.












