
Selawe.com – Menjadi kader IPM harus kreatif, kolaboratif, dan berkemajuan disampaikan Achmad Rosyidi, S.H.I. dalam Leadership PR IPM Spemdalas yang mengangkat tema Next Gen Leaders: Skill Up, Team Up, Level Up di Hotel Horison GKB, Jumat (23/1/2026).
Di hadapan Pimpina Ranting (PR) Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik, Bendahara Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) Periode 2022-2026 ini menyampaikan skill up: kapasitas individu (internal).
“Skill Up adalah fase fondasi. Sebelum seseorang mampu memimpin orang lain, ia harus mampu memimpin dirinya sendiri (Self-Leadership),” jelasnya.
Selain itu, lanjutnya, kader IPM juga harus memiliki team up: sinergi dan kolaborasi (eksternal). Team Up adalah fase koneksi. Seorang pemimpin bukanlah “pemain tunggal” (Solo Player), melainkan seorang “dirigen” dalam sebuah orkestra.
Ketiga, tegasnya, juga harus memiliki level up: dampak dan transformasi (output). Level Up adalah fase pencapaian. Ini adalah hasil dari kombinasi Skill Up dan Team Up yang bertujuan untuk membawa organisasi ke posisi yang lebih baik dari sebelumnya.
Who is a Leaders?
Achmad Rosyidi menjelaskan siapa pemimpin generasi mendatang? Pemimpin generasi mendatang itu adalah mereka yang menyadari bahwa kepemimpinan adalah perjalanan belajar yang tidak pernah putus untuk memberi manfaat bagi semesta (Rahmatan lil ‘Alamin).
Pemimpin itu bukan tentang “Jabatan”, tapi tentang “Aksi”. “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari & Muslim).
Skill up, untuk memimpin orang lain, maka kita harus selesai dengan diri kita sendiri. Skill up ini memiliki 4 karakter, yaitu critical thinking: berani bertanya “mengapa?” dan mencari solusi, bukan sekadar komplain.
“Kedua sampai keempat yaitu public speaking: cara menyampaikan ide agar didengar (communication is key!), digital literacy: memanfaatkan teknologi/ai untuk dakwah kreatif IPM, dan self-discipline: manajemen waktu antara sekolah, organisasi, dan ibadah,”
Team up, Fast alone, far together. Karakternya adalah trust (percaya): menghargai pembagian tugas di setiap bidang, empathy: mendengarkan pendapat teman sebelum memutuskan, dan conflict resolution: menghadapi perbedaan pendapat dengan kepala dingin (musyawarah).
Level up, dari ide menjadi karya. Karakternya innovative programs: jangan hanya “copas” program tahun lalu. buat kegiatan yang relate dengan anak smp jaman sekarang, productivity: eksekusi program kerja dengan tuntas dan rapi, dan legacy: tinggalkan jejak kebaikan yang akan diingat adik kelas.
“Prinsip, sedikit bicara, banyak bekerja, nyata hasilnya,” tegasnya.
Kepemimpinan ala Muhammadiyah
Achmad Rosyidi mengatakan, kepemimpinan ala Muhammadiyah harus memegang dan memiliki 4 karakter. Pertama sidiq yaitu jujur dalam kata dan perbuatan.
“Kedua, Amanah yaitu bertanggung jawab atas tugas di IPM, ketiga tabligh, berani menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun, dan fathonah yaitu cerdas dalam melihat peluang dan Solusi,” ungkapnya. (*)
Penulis Ichwan Arif.












