Liputan

Siswa Mugeb Primary School Latih Kesabaran lewat Hias Tumpeng

29
×

Siswa Mugeb Primary School Latih Kesabaran lewat Hias Tumpeng

Sebarkan artikel ini
Siswa Mugeb Primary School antusias menghias tumpeng. (Sayyidah Nuriyah)

Selawe.com — Siswa SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) melatih ketelatenan dan kesabaran melalui kegiatan ekstrakurikuler Cooking Class dengan praktik menghias tumpeng menggunakan garnish, Jumat (30/1/2026). Kegiatan ini bertujuan mengenalkan nilai seni dan potensi ekonomi dari sajian kuliner tradisional.

Kegiatan dilaksanakan selepas jam pelajaran berakhir. Meski bel sekolah telah berbunyi dan waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB, sejumlah siswa kelas III hingga V memilih tetap berada di sekolah dan berkumpul di kantin untuk mengikuti sesi praktik menghias tumpeng.

Para siswa datang membawa perlengkapan masing-masing berupa tepak makan berisi lauk-pauk seperti ayam goreng, nugget, kering tempe, dan telur rebus. Sementara itu, nasi kuning telah disiapkan oleh guru pembina Cooking Class, Rina Ariani, S.Pd. Sebelum praktik dimulai, Rina memastikan area kerja dalam kondisi bersih dan rapi.

“Kalau bekerja harus bersih supaya fokus dan hasilnya bagus,” ujar Rina saat memberikan arahan awal kepada siswa

Garnish

Rina menjelaskan bahwa garnish menjadi elemen penting yang menentukan nilai estetika dan harga jual tumpeng. Ia juga memperagakan beberapa teknik dasar, mulai dari mencetak nasi kuning menjadi tumpeng bertingkat hingga cara mengupas telur rebus dengan cepat untuk efisiensi waktu saat jumlah pesanan banyak.

Memasuki tahap inti, siswa dibimbing memasang garnish berbahan sayuran seperti mentimun, lobak, cabai merah, dan sawi yang telah dibentuk menyerupai bunga dan daun. “Kita tusuk menggunakan tusuk gigi untuk menempelkannya,” terangnya.

Hiasan tersebut diberi warna menggunakan pewarna makanan, lalu dipasang ke badan tumpeng dengan bantuan tusuk gigi.

Proses menghias membutuhkan waktu cukup lama dan menuntut konsentrasi tinggi. Beberapa siswa sempat terlihat lelah dan kehilangan fokus, namun kembali bersemangat setelah melihat hasil kerja teman-temannya dan variasi garnish warna-warni yang tersedia.

Rina menekankan, pembuatan tumpeng tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Menurutnya, setiap detail membutuhkan persiapan matang, termasuk wadah piring lebar berupa tempeh yang memerlukan waktu tersendiri. Ia juga memperkenalkan aspek penjenamaan dengan mencontohkan pemasangan stiker logo usaha pada bagian atas tumpeng.

Kegiatan ditutup dengan pemasangan mahkota daun pisang berbentuk corong di puncak tumpeng. Setelah selesai, para siswa berfoto bersama dan menikmati tumpeng hasil karya mereka. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar keterampilan memasak, tetapi juga nilai kesabaran, ketekunan, dan kerja sama. (*)

Penulis Sayyidah Nuriyah