
Kita renungi, berapa jam waktu yang telah kita habiskan untuk melihat layar hari ini dibandingkan dengan melihat ke dalam diri sendiri? Introspeksi mata menjadi hal krusial bagi puasa kita.
Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik
Selawe.com – “Dan menundukkan pandangan dari segala hal yang tercela dan dibenci, serta dari segala hal yang menyibukkan hati dan melalaikan dari mengingat Allah Ta’ala.” Kitab Asrar al-Shaum (I: 305-6)
Di era digital, godaan puasa bukan lagi sekadar melihat warung makan yang buka namun tertutup tirai. Godaan terbesar justru ada dalam genggaman kita, layar smartphone. Kita mungkin kuat menahan haus, tapi tangan kita seolah tidak berdaya untuk tidak scrolling tanpa henti.
Realitanya, saat puasa, mata kita justru sering “makan” lebih banyak. Kita melihat konten kemewahan yang memicu rasa iri (hasad), cuplikan gosip yang mengumbar aib orang lain, atau sekadar terjebak dalam doomscrolling berjam-jam yang membuat hati terasa kosong dan gelisah.
Kita merasa puasa kita aman-aman saja selama tidak makan, padahal “racun visual” yang kita konsumsi lewat mata telah membuat batin kita mengalami infeksi spiritual. Mata kita kenyang dengan gambar, tapi jiwa kita kelaparan akan ketenangan.
Pintu Masuk ke Hati
Untuk meningkatkan level puasa kita menjadi level khusus, syarat pertama yang harus kita penuhi adalah menjaga pandangan (ghadhul bashar).
Menurut imam al-Ghazali, pandangan mata bukan sekadar indera penglihatan, melainkan saluran utama yang langsung bermuara ke hati.
Apa yang dilihat mata, akan menetap di pikiran dan akhirnya mengendap di dalam hati. Di level awam, puasa tidak melibatkan mata.
Baginya, melihat apa pun sah-sah saja selama tidak memasukkan sesuatu melewati kerongkongan yang dapat membatalkan puasa secara fiqh. Puasanya dimaklumi hanya menjadi ritual fisik yang melelahkan tanpa ada pembersihan karakter.
Di level khusus, seseorang mulai menyadari bahwa mata sebenarnya juga punya “mulut”. Maka, matanya mulai dilibatkan puasa dari hal-hal yang diharamkan atau dibenci oleh Allah.
Ia sadar bahwa satu pandangan yang salah bisa merusak pahala puasa yang ia bangun sejak fajar terbit. Sedangkan bagi yang sudah mengerti posisi mata ketika puasa, mata tidak hanya dijaga dari yang haram, tapi juga dari segala hal yang “sia-sia”.
Ia tidak ingin matanya menangkap gambar dunia yang bisa mengalihkan fokusnya dari mengingat Allah. Matanya hanya digunakan untuk melihat kebesaran Tuhan melalui ayat-ayat-Nya dan alam semesta. Inilah tingkatan puasa yang kita harapkan.
Bagi al-Ghazali, menjaga pandangan adalah bentuk kasih sayang pada diri sendiri. Jika kita membiarkan mata melihat segala hal, kita sebenarnya sedang membiarkan hati kita dipenuhi “sampah” visual yang akan membuat kita sulit khusyuk saat dzikir, shalat, dan tidak bisa menikmati kelezatan iman.
Diet Visual dan Detoks Layar
Sebagai langkah konkrit agar mata kita tidak menjadi pintu masuknya penyakit hati hari ini, minimal tiga hal di bawah ini bisa kita lakukan. Pertama, puasa digital.
Kita bisa menentukan jam-jam tertentu saja untuk dikompromikan sama sekali tidak menyentuh media sosial. Kita gunakan waktu “puasa digital” ini untuk mengistirahatkan saraf mata dan pikiran.
Kedua, aturan 3 detik. Jika tanpa sengaja kita melihat sesuatu yang memancing emosi negatif, hasad, atau nafsu di layar HP atau bahkan di dunia nyata, segera alihkan pandangan dalam hitungan ketiga. Kemudian paksa diri untuk mengatakan dalam hati, “mataku sedang berpuasa.”
Ketiga, menatap ketenangan. Kita gunakan penglihatan mata untuk sesuatu yang produktif bagi jiwa. Ini bisa dengan membaca beberapa ayat al-Qur’an dengan artinya, menatap wajah orang tua atau pasangan dengan kasih sayang, atau lihatlah langit sore ketika menunggu ifthor sambil merenungkan keagungan Sang Pencipta.
Untuk diri kita, perlu kita renungi berapa jam waktu yang telah kita habiskan untuk melihat layar hari ini dibandingkan dengan melihat ke dalam diri sendiri? Introspeksi mata menjadi hal krusial bagi puasa kita.
Jika mata kita masih terus “haus” akan informasi duniawi yang sia-sia, mungkinkah itu tanda bahwa hati kita belum benar-benar ikut berpuasa? (*)
Editor Ichwan Arif.












