Ngilmui Siyam

Evaluasi Paruh Waktu

13
×

Evaluasi Paruh Waktu

Sebarkan artikel ini
Shalat jamaah
Ilustrasi Opini Evaluasi Paruh Waktu (AI)

Pertengahan bulan Ramadan adalah masa kritis, ujian paruh waktu. Di sinilah iman diuji konsistensinya.

Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com – “Tujuan puasa adalah meneladani sebagian dari akhlaq Allah (dalam hal ketidaktergantungan pada materi) Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 308)

Hari kelima belas Ramadan adalah garis khatulistiwa. Inilah momen titik balik. Biasanya, euforia awal bulan suci mulai memudar dan fokus kita perlahan bergeser dari ibadah batin ke persiapan lebaran sampai malam terakhir Ramadhan.

Ini mulai tampak dengan munculnya fenomena shaf terawih yang semakin maju. Coba perhatikan masjid-masjid di sekitar kita pada malam hari.

Sudah menjadi pemandangan tahunan biasanya mulai terjadi shaf-shaf shalat terawih yang awalnya meluap hingga ke teras, perlahan mulai berkurang ke depan alias perlahan sepi. Ironisnya di saat yang bersamaan, keramaian berpindah ke pusat perbelanjaan atau bahkan situs e-commerce.

Fokus kita yang tadinya berburu malam Lailatul Qadar, kini terdistraksi oleh urusan tiket mudik, baju baru, hingga menu hampers.

Kita mulai menghitung hari menuju kemenangan, namun seringkali lupa mengevaluasi apakah sudah ada “kemenangan” walaupun kecil di dalam diri kita selama 15 hari terakhir.

Kita mungkin sudah berhasil menurunkan berat badan beberapa kilogram, tapi apakah kita sudah berhasil menurunkan bobot “kesombongan” atau hasad di dalam hati?

Dari Menahan ke Menjadi

Imam al-Ghazali telah menegaskan bahwa puasa bukan sekadar “menahan” dari segala yang dilarang, tapi juga “menjadikan” diri lebih berkualitas.

Puasa adalah sarana manusia untuk naik kelas dari derajat kebinatangan menuju derajat malaikat bahkan lebih, karena mereka telah diperintah sujud menghormati Adam.

Jika setelah dua minggu berlalu, kita masih tetap menjadi pribadi yang mudah tersulut emosi, gemar memoles citra diri agar dipuji manusia, dan merasa enggan untuk berbagi, maka dalam pandangan al-Ghazali, ada yang salah dengan konsepsi puasa kita.

Menurut beliau, indikator keberhasilan dari puasa adalah sangat sederhana. Semua bisa merasakannya karena ia akan memberikan efek Tazkiyatun Nafs (pembersihan jiwa). Jika hati terasa lebih lembut, lisan lebih terjaga, dan keinginan duniawi tidak lagi terasa “menjerat”, itulah tanda puasa kita bernyawa.

Pertengahan bulan Ramadan adalah masa kritis, ujian paruh waktu. Di sinilah iman diuji konsistensinya. Apakah kita beribadah karena semangat musiman atau karena benar-benar butuh pada Allah Ta’ala?

Jika 15 hari ini belum mengubah cara kita memandang dunia, mungkin kita baru sekadar memindahkan jam makan, belum benar-benar berpuasa.

UTS Karakter

Dalam menghadapi Ujian Tengah Semester dari madrasah Ramadhan ini, kita harus berusaha agar 15 hari ke depan tidak berakhir dengan kesia-siaan.

Pertama, kita perlu menerapkan self-audit atau jujur pada diri sendiri dengan meluangkan waktu 15 menit malam ini setelah sholat Terawih. Diri kita berikan pertanyaan, “sifat buruk mana yang sudah berkurang selama dua minggu ini?” Jika jawabannya tidak ada, segera lakukan putar balik ke arah niat awal, karena tidak mungkin kita tidak memiliki keburukan.

Kedua, kita identifikasi distraksi apa yang terbesar di pertengahan bulan ini. Jika itu adalah media sosial atau ambisi belanja yang berlebihan, kita perlu lakukan “puasa tambahan” untuk hal tersebut agar fokus kembali ke jalur spiritual.

Ketiga, target 15 hari terakhir perlu direset. Kita wajib menghindarkan diri dari masuk ke dalam mode lemas. Kalau perlu, kita buat target baru yang lebih spesifik untuk sisa Ramadhan. Misalnya, akan lebih banyak mendengar daripada bicara atau akan memastikan tersenyum kepada setiap yang berpapasan.”

Tanpa terasa, dua minggu telah berlalu seperti kedipan mata. Jika Ramadan adalah sebuah sekolah, apakah kita sudah mulai memahami pelajaran yang Allah berikan, atau kita hanya sekadar hadir untuk diabsen tanpa membawa ilmu apa pun di hati? (*)

Editor Ichwan Arif.