
Ketika ada kesempatan untuk berbuat curang, sekecil apa pun itu, kita bisa berkata, “Jika aku bisa setia pada puasaku saat sendiri, berarti aku juga harus jujur meski tidak ada orang yang melihatku.”
Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik
Selawe.com – “ Puasa itu tidak ada yang melihatnya kecuali Allah SWT, karena ia adalah amal batin yang dilakukan dengan kesabaran murni “ Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 302)
Hari ini kita memasuki paruh kedua Ramadan. Kita akan mulai membedah mengapa puasa disebut sebagai ibadah rahasia. Hakikatnya adalah ibarat tentang apa yang terjadi saat pintu kamar tertutup rapat dan hanya ada diri ini bersama Tuhan.
Orang lain bisa melihat shalat kita. Pun demikian dengan zakat, manusia bisa menghitungnya, bahkan haji bisa difoto untuk kenang-kenangan. Ada godaan halus di sana-sini untuk ingin dianggap “saleh” oleh lingkungan.
Namun itu tidak berlaku untuk puasa. Puasa adalah satu-satunya ibadah yang wujudnya sebenarnya tidak melakukan sesuatu.
Secara teknis, kita bisa saja masuk ke kamar mandi untuk meneguk air saat haus, lalu keluar dengan wajah lemas seolah masih berpuasa.
Bahkan yang lebih senyap saat berwudhu sebelum shalat, ketika berkumur dan airnya bersih sekaligus dingin, maka di situlah peluang besar untuk meneguknya dan tidak ada satu pun manusia di bumi yang tahu.
Tidak ada yang bisa membuktikan kita benar-benar berpuasa kecuali diri kita sendiri. Inilah ujian integritas tertinggi. Di era di mana semua hal harus di-posting agar dianggap ada, puasa menantang kita seolah-olah berkata, “sanggupkah kamu beribadah tanpa penonton?”
Antara Aku dan Dia
Dalam hadits Qudsi, Allah menyatakan bahwa “puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya (menanggungnya).”
Dari hadits ini imam al-Ghazali menegaskan bahwa puasa adalah benteng terakhir melawan riya’. Bagi kalangan umum, puasa baru dimaknai sekadar menjaga integritas fisik.
Mereka tidak makan karena takut berdosa, namun masih sering mengeluh atau “memperlihatkan” wajah lapar agar orang lain tahu mereka sedang berpuasa. Integritas di tingkat ini masih menampakkan kehausan akan pengakuan manusia.
Bagi kalangan lain, puasa adalah soal integritas batin. Mereka menjaga kualitas puasa bukan karena takut hukum fikih, tapi karena sadar sedang dalam “hubungan rahasia” dengan Allah. Bagi mereka, curang dalam puasa berarti mengkhianati hubungan cintanya dengan sang Pencipta.
Sedang di kalangan yang komitmen puasa dengan integritas tertinggi, mereka tidak hanya menjaga perutnya dari makanan, tapi juga menjaga hatinya dari berpaling kepada selain Allah. Integritasnya adalah tentang kejujuran total dalam setiap lintasan pikiran.
Hakikat puasa adalah latihan menjadi orang jujur saat tidak ada yang melihat. Jika kita bisa jujur pada Tuhan soal seteguk air di tengah siang yang terik, seharusnya kita juga bisa jujur soal urusan-urusan lain, termasuk jujur pada diri sendiri.
Membangun “Rahasia” dengan Tuhan
Untuk melatih integritas kita terutama ketika berpuasa, langkah-langkah senyap berikut ini sangat mungkin kita coba.
Pertama, hari ini perlu mencoba melakukan satu kebaikan yang benar-benar tidak diketahui siapa pun. Ini bisa berupa sedekah online secara anonim, mendoakan teman yang sedang kesulitan diam-diam, atau membersihkan tempat wudhu yang kotor.
Kemudian kita komunikasikan ke diri bahwa ini adalah “rahasia kecil” antara aku dan Engkau wahai Allah, sama seperti puasa ini.
Kedua, mulai berhenti sengaja menunjukkan wajah lemas, bibir kering, atau bahkan menghela napas panjang agar orang lain merasa iba atau kagum dengan puasa kita. Kita wajib berusaha tetap terlihat segar dan ceria. Biarkan Lelah kita hanya Allah yang tahu. Dan
ketiga, masuk ke alam diri sendiri. Saat kita ada momen sendirian hari ini, perhatikan lintasan pikiran kita masing-masing. Misal ketika ada kesempatan untuk berbuat curang, sekecil apa pun itu, kita bisa berkata, “Jika aku bisa setia pada puasaku saat sendiri, berarti aku juga harus jujur meski tidak ada orang yang melihatku.”
Ringkasnya, lebih baik mana terlihat puasa di mata manusia atau benar-benar berpuasa di mata Allah? Jika kita masih merasa butuh validasi atau pujian atas ibadah kita, mungkinkah kita sedang kehilangan esensi “rahasia” yang ditawarkan oleh puasa? (*)
Editor Ichwan Arif.












