Blog

Ketepatan Menit dan Detik

21
×

Ketepatan Menit dan Detik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Opini Ketepatan Menit dan Detik
Ilustrasi Opini Ketepatan Menit dan Detik (AI)

Jika kita bisa menunggu makanan dengan sabar hingga menit terakhir, bisa dipastikan menghargai waktu orang lain dengan datang tepat waktu adalah suatu keniscayaan.

Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com – Dan di antara adab puasa adalah menyegerakan berbuka ketika telah yakin matahari terbenam, dan mengakhirkan sahur. Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 305)

Catatan puasa ke-17 ini, kita akan berbicara tentang sesuatu yang paling berharga namun paling sering kita sia-siakan, yaitu waktu.

Dalam puasa, satu menit saja bisa menentukan antara ketaatan dan pelanggaran. Coba kita perhatikan apa yang terjadi sepuluh menit menjelang Maghrib.

Mayoritas dari kita mendadak menjadi ahli astronomi dan pengamat jam yang paling akurat. Ada yang menatap layar televisi, mendengarkan radio, atau terus-menerus melakukan refresh pada aplikasi jadwal shalat di ponsel.

Ada ketegangan yang unik di sini. Kita tidak akan menyentuh setetes air pun pada pukul 17.48 jika azan dijadwalkan pukul 17.49.

Namun, ada paradoks yang menarik di sini. Kita sangat disiplin menjaga “batas” satu menit menjelang berbuka, tapi kita seringkali sangat longgar dalam disiplin waktu lainnya.

Sebagai bentuk introspeksi diri, kita bisa sangat tepat waktu saat urusan perut, tapi sering terlambat saat janji temu, menunda pekerjaan hingga deadline mencekik.

Bahkan, kita mudah membiarkan waktu produktif menguap begitu saja untuk hal yang sia-sia. Puasa hakikatnya melatih kita menjadi penjaga waktu yang presisi, namun sering kali kedisiplinan itu hanya berhenti di meja makan.

Melatih Kehendak di Atas Detik

Imam al-Ghazali melihat aturan menyegerakan berbuka (ta’jil) dan mengakhirkan sahur bukan sekadar soal teknis makan. Ini adalah latihan kepatuhan mutlak terhadap perintah Allah. Bagi orang awam, disiplin waktu dipandang sebagai aturan hukum semata.

Puasa ditakuti tidak sah jika mendahului azan. Ini adalah disiplin yang lahir dari rasa takut akan sanksi, bukan kesadaran jiwa.

Bagi yang di level khusus, kesadaran untuk tepat waktu adalah bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta waktu. Mengikuti sunnah untuk segera berbuka adalah tanda bahwa ia tidak berlebihan dalam beribadah, melainkan tunduk pada ritme yang telah ditetapkan-Nya.

Di level yang lebih tinggi lagi, waktu adalah ruang untuk bertemu Tuhan. Setiap detik puasa adalah detik pengabdian. Bagi mereka, disiplin waktu dalam puasa adalah miniatur dari disiplin hidup secara keseluruhan.

Jika mereka bisa setia pada satu menit berbuka, mereka harusnya bisa setia pada setiap menit kehidupan untuk tidak lalai dari mengingat Allah.

Inilah level yang dilalui para muqarrabun (yang selalu ikhtiar mendekat ke Allah). Puasa mengajarkan kita tentang batasan, limit.

Ada waktu untuk menahan dan ada waktu untuk melepaskan. Jiwa yang terlatih adalah jiwa yang tahu kapan harus berhenti dan kapan harus melangkah tepat pada waktunya.

Mewujudkan Akurasi Maghrib di Keseharian

Kedisiplinan merupakan hal sentral dalam Islam. Berat tapi harus dilatih. Agar kedisiplinan puasa tidak hanya berakhir saat azan berkumandang, maka kita perlu mengusahakannya.

Pertama, memilih salah satu aktivitas di hari ini untuk dilakukan tepat pada waktunya, misal sholat fardhu dilakukan seakurat kita menunggu waktu berbuka. Kita akan merasakan sensasi “kemenangan” saat berhasil menaklukkan penundaan.

Kedua, mengaudit waktu luang. Saat menunggu waktu berbuka (ngabuburit), perlu diperhatikan bagaimana kita menghabiskan waktu tersebut.

Jika hanya digunakan untuk scrolling tanpa tujuan, coba diganti 10 menit saja dengan membaca atau merenung. Jangan biarkan waktu lapar terbuang tanpa nilai spiritual.

Ketiga, belajar menghargai waktu orang lain. Kita jadikan puasa sebagai momentum untuk berhenti menjadi “tukang ngaret”.

Prinsipnya, jika kita bisa menunggu makanan dengan sabar hingga menit terakhir, bisa dipastikan menghargai waktu orang lain dengan datang tepat waktu adalah suatu keniscayaan.

Jika kita bisa begitu disiplin menjaga satu menit sebelum berbuka demi kesempurnaan puasa, mengapa kita masih sering membiarkan berjam-jam waktu hilang tanpa makna di luar urusan makan?

Apakah kedisiplinan hanya berlaku untuk urusan perut, atau sudah mulai menyentuh jiwa? waLlahu a’lam.  (*)

Editor Ichwan Arif.