
Kita tidak perlu berdalih puasa menjadi penghambat kerja. Jika kita masih merasa demikian, mungkinkah kita selama ini terlalu mengandalkan kekuatan fisik dan lupa akan kekuatan dahsyat yang ada dalam kejernihan batin?
Oleh *F. Risallah, Ph.D.*, Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik
Selawe.com – “Kosongnya perut belum cukup untuk membuka tabir (hijab) selagi diri belum dikosongkan dari selain Allah.” Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 307)
Dua pertiga perjalanan Ramadan hari akan berakhir. Biasanya di titik ini tubuh mulai merasa loyo dan motivasi mulai melandai. Namun, ada rahasia besar yang perlu untuk diungkap. Rasa lapar sebenarnya adalah bahan bakar terbaik bagi ketajaman pikiran kita.
Di antara kita mungkin pernah mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat permisif, “Maaf ya, agak lemot, soalnya lagi puasa,” atau “Mending tidur dulu sampai Maghrib, kan sama saja ibadah.” Sehingga, kerapkali puasa dijadikan alasan untuk menurunkan standar produktivitas.
Kita menganggap rasa lemas sebagai musuh, lalu kita melarikan diri ke dalam tidur yang berlebihan atau scrolling tanpa henti untuk “membunuh waktu”. Ironisnya, semakin kita memanjakan rasa lemas itu, semakin tumpul pikiran kita.
Kita lupa bahwa dalam sejarah, kemenangan-kemenangan besar justru sering terjadi di bulan Ramadan saat perut sedang kosong. Sebenarnya mental kita sedang melakukan hibernasi (tidur panjang) yang sia-sia, meski berpuasa secara fisik.
Kabut Perut yang Menghilang
Perut yang kenyang itu seperti mendung yang menutupi matahari akal. Imam al-Ghazali menjelaskan hal ini karena uap dari makanan yang berlebihan akan naik dan mengaburkan kejernihan berpikir.
Kebanyakan manusia merasakan lemas sebagai penderitaan yang harus dihindari dengan tidur. Akibatnya, mereka kehilangan momen di mana otak sebenarnya sedang berada dalam kondisi paling “murni” karena tidak disibukkan oleh proses pencernaan yang berat.
Namun sedikit yang menyadari bahwa saat lapar, fokusnya justru meningkat. Imam al-Ghazali menekankan bahwa rasa lapar adalah pembersih karat pada cermin hati.
Bagi kalangan mereka, waktu puasa harus digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas sulit atau merenungkan solusi atas masalah hidup karena pikirannya sedang tajam-tajamnya.
Sedangkan bagi yang sudah terbiasa dengan puasa, lapar bukan lagi soal produktivitas duniawi, tapi ketajaman menangkap isyarat Ilahi. Mereka menemukan bahwa inspirasi dan hikmah lebih mudah datang saat tubuh tidak dibebani oleh makanan.
Pesan moralnya, di balik rasa lemas itu, ada kekuatan fokus yang luar biasa jika kita berani menggunakannya, bukan justru menidurkannya. Kita berusaha untuk tidak tertipu oleh lemasnya fisik.
Mengelola Energi, Bukan Sekadar Waktu
Dalam rangka mengoptimalkan sepuluh hari terakhir Ramadhan, strategi untuk tetap produktif harus diusahakan agar waktu kita tidak habis hanya untuk tidur.
Pertama, kita manfaatkan golden hour pagi hari hingga siang untuk pekerjaan yang paling membutuhkan otak, seperti belajar, menulis, atau menyusun strategi untuk peningkatan kerja. Ini adalah waktu di mana perut belum terlalu perih dan pikiran masih segar.
Kedua, saat kita mulai merasa pening atau lemas di siang hari, jangan langsung katakan “aku ingin tidur,” tapi kita berani ubah narasi dengan mengatakan “aku harus bersihkan pikiranku dari kabut malas.” Kemudian, perlu dicoba meditasi ringan atau zikir selama 5-10 menit, lalu kembali bekerja. Maka, kita akan bisa merasakan fokus yang kembali tajam.
Ketiga, kita tidak boleh tertipu dengan jargon “membunuh waktu.” Waktu tidak perlu dibunuh, tapi perlu diisi. Jika pekerjaan kantor sudah selesai, kita gunakan waktu menunggu berbuka, seperti membaca satu bab buku atau melakukan suatu hobi yang bermanfaat. Jangan biarkan waktu kita menguap begitu saja terutama di medsos.
Kita tidak perlu berdalih puasa menjadi penghambat kerja. Jika kita masih merasa demikian, mungkinkah kita selama ini terlalu mengandalkan kekuatan fisik dan lupa akan kekuatan dahsyat yang ada dalam kejernihan batin? (*)
Editor Ichwan Arif












