Blog

Menjaga Stamina Ruhani

68
×

Menjaga Stamina Ruhani

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Opini Menjaga Stamina Ruhani
Ilustrasi Opini Menjaga Stamina Ruhani (AI)

Malam Qadar itu tidak datang dua kali dalam setahun. Jangan sampai kita menjadi orang yang paling menyesal di hari kemenangan nanti karena melewatkan malam keajaiban ini.

Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com – “Ketika sepuluh hari terakhir, Rasulullah SAW melipat tempat tidurnya, mengencangkan ikat pingganya, dan beribadah dengan sungguh-sungguh, dan beliau mendorong keluarganya melakukan hal yang sama.” Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I:305)

Sepertiga terakhir Ramadhan adalah zona merah secara spiritual. Sepuluh hari ke depan bukan lagi soal latihan, tapi soal pembuktian. Ibarat lari maraton, inilah kilometer-kilometer terakhir di mana banyak orang mulai tumbang, namun para pemenang justru baru saja mulai menambah kecepatan.

Mulai malam ke-21 terjadi fenomena umum. Di saat langit menjanjikan malam yang lebih baik dari seribu bulan, banyak dari kita justru sedang mengalami “kelelahan iman”.

Masjid-masjid mulai kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan. Diskusi di grup WA beralih dari kutipan ayat menjadi diskusi tentang rute mudik, baju, dan menu lebaran.

Pemikiran bahwa kita sudah cukup beribadah di 20 hari pertama, mungkin menjadi jebakan. Dalam logika spiritual, 20 hari pertama hanyalah pemanasan untuk menyambut jamuan utama.

Diibaratkan mendaki gunung, kita sedang berada di jalur menuju puncak, namun justru di sinilah kita sering tergoda untuk duduk bersantai dan melupakan tujuan utama karena merasa sudah terlalu lelah.

Membangunkan Singa di Dalam Jiwa

Jika ingin menerima salām dari malam yang lebih baik dari seribu bulan, stamina ruhani kita harus kita Kelola dengan baik. Imam al-Ghazali menekankan bahwa keberhasilan menjemput Lailatulqadar sangat bergantung pada kondisi hati yang telah dipersiapkan sejak hari pertama.

Umumnya hamba Allah berpuasa kemudian menghidupkan malam dengan paksaan fisik semata. Mereka terjaga semalam suntuk tapi hatinya masih tertambat pada urusan dunia. Ini menandakan adanya kelelahan tapi sedikit manfaatnya karena jasadnya bangun tapi ruhnya tertidur.

Di luar ini, ada sebagian yang mulai melakukan i’tikaf (isolasi diri). Mereka memutus hubungan sementara dengan makhluk untuk menyambung kabel yang putus dengan sang Khaliq. Mereka sadar bahwa Lailatulqadar adalah “frekuensi” yang hanya bisa ditangkap oleh hati yang sunyi dari kebisingan duniawi.

Sedangkan bagi sebagian kecil yang sudah bersih hati, mereka tidak lagi mencari malamnya, tapi mencari Pemilik malamnya. Pengetahuan mereka menangkap bahwa Lailatulqadar adalah saat di mana rahasia-rahasia ketuhanan disingkapkan ke dalam hati yang sudah benar-benar kosong dari ego diri.

Di sini, imam al-Ghazali ingin menegaskan Lailatulqadar bukanlah soal “keberuntungan” seperti menang undian, tapi soal kesiapan wadah. Jika gelas di hati masih penuh dengan lumpur duniawi, air hujan rahmat di malam Qadar tidak akan masuk menembus jiwa kita.

Strategi “Sprint” Terakhir

Dalam rangka menambah kecepatan di sepertiga akhir, manajemen stamina diri perlu dilakukan agar kita tidak kehilangan momentum di malam-malam krusial.

Pertama, di malam-malam ganjil (21, 23, 25, 27, 29), cobalah untuk benar-benar mematikan ponsel setelah isya hingga subuh. Gunakan waktu tanpa notifikasi ini untuk berbicara secara privat dengan Tuhan atau melalui i’tikaf jika mampu. Jangan sampai keberkahan Lailatulqadar lewat hanya karena kita sibuk membalas pesan yang tidak mendesak.

Kedua, kita perlu mengurangi porsi memikirkan persiapan lebaran secara berlebihan di malam hari. Kita bisa mengerjakan urusan teknis mudik atau belanja di siang hari. Simpan energi mental kita di malam hari hanya untuk satu hal, Taqarrub (mendekat) kepada Pemilik kehidupan kita.

Ketiga, sebagaimana saran imam al-Ghazali, kita dianjurkan untuk membersihkan fisik dengan mandi dan memakai wangi-wangian sebelum menghidupkan malam-malam terakhir. Ini bukan soal gaya, tapi soal menghargai tamu agung (Malaikat) yang turun memenuhi bumi.

Satu hal yang perlu kita renungkan bersama, mana yang lebih mendominasi pikiran kita malam ini, daftar belanjaan yang belum tuntas atau daftar dosa yang belum sempat kita mintakan ampunannya secara serius?

Malam Qadar itu tidak datang dua kali dalam setahun. Jangan sampai kita menjadi orang yang paling menyesal di hari kemenangan nanti karena melewatkan malam keajaiban ini. Minimal kita sudah berusaha menggapainya. (*)

Editor Ichwan Arif.