Ngilmui Siyam

Ramadan dan Proses Mendidik Disiplin Anak

15
×

Ramadan dan Proses Mendidik Disiplin Anak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Ramadan dan Proses Mendidik Disiplin Anak
Ilustrasi opini Ramadan dan Proses Mendidik Disiplin Anak (Al)

Kebiasaan baik yang sederhana dapat membentuk karakter disiplin sejak dini ketika sekolah, keluarga, dan masjid berjalan seiring, pendekatan ini menekankan internalisasi nilai.

Oleh Waviq Amiqoh, M.Pd.I., Guru SD Muhammadiyah GKB 2 Gresik

Selawe.com –  Meskipun Masjid Al Mizan di SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik baru saja diresmikan, suasana setelah shalat tarawih terasa istimewa.

Usai melaksanakan shalat isya, tarawih, dan witir, sekelompok anak-anak sekolah dasar yang mengenakan peci dan kerudung berbaris memegang jurnal kecil.

Mereka tidak mengantre untuk berfoto dengan selebriti atau untuk menerima hadiah. Mereka menunggu untuk mendapatkan tanda tangan pada kolom kehadiran tarawih dari seorang imam.

Selama bulan Ramadan, jurnal tersebut menjadi simbol konsisten yang tak terlihat namun berhasil menumbuhkan kedisiplinan di dalam diri mereka.

Fenomena ini telah ada sejak tahun 1900-an, masih bertahan hingga kini. Namun ironisnya, nyaris terlupakan dalam diskusi pendidikan nasional.

Antrean yang tertib dan rapi di masjid, salah satu contoh nyata implementasi pendidikan karakter. Jurnal Ramadhan ini bukan hanya tugas sekolah, tapi cara sederhana mendidik anak agar mengenal disiplin beribadah.

Rayhan Syaddad Arrayyan siswa kelas lima SD Muhammadiyah GKB 2 Gresik menyampaikan, “Setelah saya diberikan jurnal oleh wali kelas, setiap malam saya ingin ke masjid. Seolah-olah ada misi yang harus diselesaikan.”

Jurnal itu menjadi lebih dari sekadar buku catatan. Ia berubah menjadi peta perjalanan iman, tempat tekad, dan rasa bangga tercatat secara nyata.

Transformasi Nyata Pendidikan Agama

Fenomena pembiasaan ibadah ini membuktikan bahwa kebiasaan baik yang sederhana dapat membentuk karakter disiplin sejak dini ketika sekolah, keluarga, dan masjid berjalan seiring, pendekatan ini menekankan internalisasi nilai.

Sesuai kritik Zulkarnain (2023) terhadap ketimpangan antara pengetahuan agama dan praktiknya. Studi Rahman dan Amalia (2024) menunjukkan bahwa integrasi sekolah, masjid dan keluarga meningkatkan ibadah anak.

Solusi yang bisa diambil dari fenomena ini adalah pengembangan Program “Istiqomah Harian” platform digital berbasis aplikasi atau Whatsapp Bot yang dikolaborasikan antara masjid dan sekolah. Saat siswa hadir shalat berjama’ah, imam memverifikasi kehadiran.

Orang tua mendapat notifikasi harian dan setiap bulan siswa diberi apresiasi layaknya berhasil memenangkan game.

Ketika dunia Pendidikan sibuk mencari formula instan untuk membangun karakter generasi muda, jawabannya mungkin sudah ada di depan mata: di antrean anak SD demi tanda tangan imam, di jurnal yang penuh coretan, dan di mata mereka yang berbinar saat menerima apresiasi atas konsistensi dan disiplin. Inilah bukti bahwa Pendidikan agama yang efektif adalah yang menyentuh hati. Sayangnya, sering kali terlupakan. (*)

Editor Ichwan Arif