Ngilmui Siyam

Puasa Ramadan Mendidik Manusia menjadi Pribadi Berdampak Sosial

35
×

Puasa Ramadan Mendidik Manusia menjadi Pribadi Berdampak Sosial

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Puasa Ramadan Mendidik Manusia menjadi Pribadi Berdampak Sosial
Ilustrasi opini Puasa Ramadan Mendidik Manusia menjadi Pribadi Berdampak Sosial (Al)

Kita muhasabah diri dan berusaha meraih derajat takwa untuk diri kita secara pribadi dan memberikan dampak positif untuk lingkungan kita dengan derajat takwa yang kita raih itu.

Oleh Khinanjar Widiartama, S.Pd., Waka. Kesiswaan SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik

Selawe.com –  Puasa Ramadan yang berhasil akan menjadikan pelakunya memperoleh derajat takwa disi Allah SWT.

Derajat takwa ini sering dipahami sebagai pencapaian individu semata, sehingga ibadah puasa juga dipahami sebagai ibadah yang hanya memberi manfaat untuk orang yang melakukannya saja, benarkah demikian?

Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 183,

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ‏

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Ayat di atas memberi penegasan bahwa syariat ibadah puasa yang kita lakukan sebulan penuh di bulan Ramadan diharapkan dapat membuat kita menjadi orang yang bertakwa, dan karena derajat takwa yang diperoleh itulah yang akan memberikan kenikmatan kepada kita ketika nanti dikehidupan akhirat. Sebagaimana firman Allah yang lain di surat Ali Imran ayat yang ke 133, yaitu:

وَسَارِعُوۡۤا اِلٰى مَغۡفِرَةٍ مِّنۡ رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالۡاَرۡضُۙ اُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِيۡنَۙ‏

Artinya: “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,”

Ayat ini menginformasikan bahwa bagi orang dengan derajat takwa kelak akan menempati surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Derajat takwa ini ternyata bukan hanya tentang tingkatan spiritualitas seseorang saja melainkan juga ada dampak sosial yang positif terhadap lingkungannya. Keterangan lebih lanjut tentang ciri orang yang bertakwa dijelaskan dalam firman Allah di surat Ali Imran ayat ke 134, yaitu:

الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالۡكٰظِمِيۡنَ الۡغَيۡظَ وَالۡعَافِيۡنَ عَنِ النَّاسِ​ؕ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الۡمُحۡسِنِيۡنَ​ۚ‏

Artinya: “(Orang yang bertakwa, yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,”

Ada 3 ciri orang bertakwa menurut ayat ini, pertama orang yang bertakwa memiliki ciri gemar berinfak, baik ketika dalam kondisi lapang maupun dalam kondisi sempit.

Berinfak adalah mengeluarkan harta yang kita miliki untuk dimanfaatkan kepada kemaslahatan masyarakat umum.

Contoh dari berinfak adalah mengeluarkan harta kita untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan fasiltas ibadah (masjid/musalla), pembangunan fasilitas lembaga pendidikan, pembangunan jalan, atau juga dapat berupa memberi bahan pangan atau uang kepada tetangga kita yang membutuhkan dan contoh lain yang semakna dengan pengertian infak tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa orang yang bertakwa akan memberikan kontribusi positif terhadap lingkungannya dengan banyaknya aktivitas sosial dari harta yang dia miliki baik dalam jumlah banyak maupun dalam jumlah sedikit sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.

Kedua, orang yag bertakwa memiliki ciri mampu menahan amarah. Bukan berati orang yang bertakwa tidak bisa marah atau tidak memiliki amarah, tetapi dia mampu mengatur dirinya sehingga tidak membuat amarah yang dirasakan meluap yang akhirnya menimbulkan masalah baru yang tidak diharapkan.

Betapa banyak masalah di lingkungan sosial kita yang muncul dari ketidakmampuan seseorang dalam menahan amarahnya sehingga memnimbulkan konflik yang melebar dan melibatkan banyak orang.

Orang dengan derajat takwa akan mampu mengontrol amarahnya sehingga membuat lingkungan sosial relatif tenang dan jauh dari konflik horizontal. Ketiga, orang yang bertakwa memiliki ciri mudah memberi maaf kepada kesalahan orang lain bahkan sebelum orang lain meminta maaf kepada dirinya.

Sikap pemaaf ini sebagai bentuk kesadaran bahwa setiap manusia termasuk dirinya sendiri tidak akan pernah bisa lepas dari salah, khilaf dan dosa.

Sikap pemaaf akan memberikan ruang interkasi sosial yang luas tidak tersekat karena rasa dendam karena kesalah orang lain, sehingga orang dengan derajat takwa akan memberikan vibes positif bagi lingkunagnnya karena sikap pemaafnya tersebut.

Ketiga ciri orang bertakwa diatas jika kita cermati dengan seksama ternyata tidak hanya membawa dampak secara individu kepada dirinya sendiri melainkan juga memiliki dampak besar terhadap lingkungan sosialnya.

Maka ketika ada kesempatan berinfak kita masih ragu berinfak, ketika merasa emosi kita masih mudah marah atau ketika ada masalah dengan orang lain kita masih mudah mendendam, maka mari kita tanyakan pada diri kita, apakah kita sudah menjadi orang yag bertakwa?

Jika memang belum muncul ciri-ciri orang yang bertakwa pada diri kita, apakah ada yang salah dengan puasa kita selama ini? Mari kita muhasabah diri dan berusaha meraih derajat takwa untuk diri kita secara pribadi dan memberikan dampak positif untuk lingkungan kita dengan derajat takwa yang kita raih itu. (*)

Editor Ichwan Arif