
Mulai sekarang kita perlu persiapkan pertanyaan untuk diri ketika Ramadan sudah berakhir. Apakah Ramadan tahun ini telah mentransformasi diri ini seketika kita keluar dari pintu masjid/lapangan di hari raya nanti?
Oleh *F. Risallah, Ph.D.*, Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik
Selawe.com – “Kegembiraan orang yang puasanya diterima akan mengalihkan perhatian mereka dari permainan (senda-gurau berlebih), sedangkan penyesalan orang yang puasanya ditolak akan menutup pintu tawa bagi mereka.” Kitab Asrar al-Shaum (I: 307)
Ramadan hampir usai dan sebentar lagi pengawasan ketat dari bulan suci ini akan ditarik. Ada satu hal yang paling ditakuti oleh para pendaki kebenaran, yaitu regresi.
Faktanya, kebanyakan dari kita tingkat spiritualnya mendadak merosot seketika Syawal tiba. Mengapa status kembali fitrah berubah menjadi bayi spiritual?
Sudah menjadi pemandangan umum adanya perubahan drastis pada hari kedua Lebaran. Masjid yang tadinya penuh mendadak kosong; lisan yang tadinya terjaga kembali penuh dengan gosip keluarga di meja makan; atau emosi yang tadinya terkontrol kembali mudah meledak hanya karena masalah-masalah sepele.
Catatan introspeksi diri ternyata tidak boleh berhenti seiring selesainya Ramadan. Mayoritas kita masih memperlakukan Ramadan seperti sebuah kamp pelatihan militer yang menyiksa.
Begitu kamp selesai, kita merasa berhak untuk balas dendam dengan melakukan semua hal yang dilarang. Kita kembali menjadi pribadi yang reaktif, manja secara mental, dan tidak mampu mengendalikan nafsu.
Secara biologis kita dewasa, namun secara mental-spiritual, kita sering kali mengalami stunting. Seolah kita hanya bisa shaleh jika ada atmosfernya, tapi lumpuh jika sendirian.
Menanam Benih, Bukan Sekadar Memajang Bunga
Ramadan adalah masa persemaian. Jika kita hanya memajang bunga keshalehan selama 30 hari tanpa menanam akarnya, maka saat matahari Syawal menyengat, bunga itu akan layu dalam sekejap. Pada umumnya, banyak yang menganggap puasa sebagai kewajiban yang melelahkan.
Begitu selesai, mereka merasa bebas tugas. Imam al-Ghazali menyebut yang demikian sebagai orang yang tertipu, karena menganggap ibadah memiliki waktu kedaluwarsa.
Namun ada juga yang sudah berusaha mempertahankan ritme, meski masih sering goyah karena tekanan lingkungan. Mereka mulai menyadari bahwa, syetan, musuh sebenarnya yang tadinya dibelenggu, kini telah dilepaskan kembali. Mereka merasa cemas akan kekuatan dirinya sendiri.
Bagi segelintir yang mengondisikan Ramadan sebagai titik awal keberangkatan (Starting Point), Syawal bukanlah garis finis.
Pemahaman mereka mengatakan bahwa puasa sebulan adalah cara Allah mendewasakan mental mereka agar mampu menjadi pemimpin bagi nafsunya sendiri di sebelas bulan berikutnya. Mereka tidak butuh suasana eksternal untuk menjadi baik, karena kebaikan timbul dari diri internal.
Menurut imam al-Ghazali, tanda puasa yang diterima adalah tumbuhnya ke-istiqamah-an. Jika karakter kita tidak berubah menjadi lebih tenang dan lebih sabar setelah ini, mungkin kita hanya sedang melakukan diet, bukan pendewasaan jiwa.
Membangun “Sistem Operasi” Baru
Sebagai ikhtiar agar kita tidak kembali ke setelan pabrik yang penuh bug setelah Ramadan berakhir, kita perlu memperhatikan langkah-langkah pendewasaan mental.
Pertama, pilih satu atau dua oleh-oleh permanen dari madrasah Ramadan. Kita tidak mungkin mempertahankan semua rutinitas Ramadan yang jika diterapkan di luarnya itu berat. Lakukan satu-dua saja yang paling ringan namun bisa konsisten, seperti shalat witir atau sedekah harian.
Dalam prosesnya kita selingin dengan janji ringan, “Apapun yang terjadi, aku coba membiasakannya meski tidak Ramadan.”
Kedua, latihan antisipasi godaan dengan mulai membayangkan situasi di hari raya yang biasanya memicu sifat buruk kita, misal jika ada pertanyaan yang menyebalkan dari kerabat atau yang pamer kekayaan.
Kita siapkan respon dewasa sejak sekarang. Kita katakan pada diri sendiri, “Ramadan kemarin aku bisa, aku tidak boleh terpancing oleh hal-hal kekanak-kanakan seperti ini.”
Ketiga, manfaatkan tiga hari terakhir ini untuk melihat ke dalam diri. Apakah kita sudah menjadi lebih jujur, lebih empati? Jika sudah, itu berarti modal kedewasaan kita yang perlu dijaga baik-baik. Jangan biarkan ia menguap saat kita nanti mulai mencicipi menu Lebaran.
Mulai sekarang kita perlu persiapkan pertanyaan untuk diri ketika Ramadan sudah berakhir. Apakah Ramadan tahun ini telah mentransformasi diri ini seketika kita keluar dari pintu masjid/lapangan di hari raya nanti? (*)
Editor Ichwan Arif.












