
Selawe.com – Menjadi anggota organisasi bukan sekadar hadir dalam kegiatan atau menjalankan tugas ketika mendapat amanah. Lebih dari itu, seorang kader perlu memiliki rasa peduli, tanggung jawab, dan kemauan untuk ikut menjaga serta mengembangkan organisasi.
Pesan inilah yang mengemuka dalam Cadre Development Program (CDP) 2026 Kader Mubaligh Muda Muhammadiyah (KM3) SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik yang disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik, Muhammad Thoha Mahsun, S.Ag., M.Pd.I., M.Hes.
Dalam materi kedua yang berlangsung Jumat (28/8/2026), di Masjid Al Mizan Smamio dengan tema Menumbuhkan Rasa Kepemilikan dalam Berorganisasi, Thoha mengajak peserta memahami makna sense of belonging atau rasa memiliki. Menurutnya, rasa memiliki terhadap organisasi bukan hanya tentang merasa menjadi bagian dari organisasi, tetapi juga muncul dalam bentuk kepedulian dan tanggung jawab.
Di hadapan 29 kader KM3 Smamio periode 2025–2026, dia menyampaikan rasa memiliki itu bukan hanya merasa menjadi bagian dari organisasi. “Rasa memiliki harus diwujudkan dengan kepedulian dan tanggung jawab terhadap organisasi,” pesannya.
Pesan tersebut menjadi penting bagi kader muda yang sedang belajar membangun karakter kepemimpinan. Sebab, organisasi membutuhkan anggota yang tidak hanya aktif ketika mendapat tugas, tetapi juga memiliki inisiatif untuk berkontribusi.
“Kalau kita merasa memiliki sebuah organisasi, maka ketika ada masalah kita tidak hanya melihat, tetapi ikut mencari solusi,” tuturnya.
Dalam materi yang disampaikan secara partisipatif, peserta juga diajak mengenali berbagai bentuk rasa kepemilikan.
Mulai dari aktif mengikuti kegiatan, menyelesaikan tugas, menaati aturan, menjaga fasilitas dan nama baik organisasi, hingga menunjukkan kepedulian kepada anggota lainnya. Hal tersebut sesuai dengan silabus yang menempatkan keaktifan, tanggung jawab, kepedulian, dan kontribusi sebagai bentuk konkret sense of belonging.
Apatis dan Individualis
Tak kalah penting, Thoha juga menyoroti sikap apatis dan individualis yang dapat menjadi penghambat dalam organisasi.
“Organisasi tidak akan berkembang kalau anggotanya hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Kita perlu membangun kepedulian, komunikasi, dan kerja sama,” jelasnya.
Menurutnya, setiap kader memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tidak harus selalu dalam bentuk gagasan besar. Waktu, tenaga, keterampilan, keaktifan, bahkan kesediaan membantu anggota lain juga merupakan bentuk kontribusi bagi organisasi.
“Tidak semua orang harus memberikan kontribusi dengan cara yang sama. Yang penting adalah mau mengambil bagian dan memberikan yang terbaik sesuai kemampuan,” jelasnya.
Selain berbicara tentang tanggung jawab individu, materi juga mengajak peserta membangun hubungan yang sehat antarkader. Saling membantu, menghargai pendapat, menjaga komunikasi, serta menciptakan lingkungan organisasi yang nyaman dan suportif menjadi bagian penting dalam menumbuhkan rasa memiliki.
Thoha kemudian memberikan penekanan bahwa rasa memiliki harus berujung pada tindakan nyata.
“Jangan berhenti pada rasa memiliki di dalam hati. Tunjukkan dengan tindakan: aktif dalam kegiatan, menjaga amanah, membantu teman, dan ikut memikirkan bagaimana organisasi ini bisa berkembang.”
Peserta pun mendapatkan pemahaman bahwa menjadi kader berarti siap mengambil peran. Ketika diberikan amanah, kader dituntut untuk menyelesaikannya dengan penuh tanggung jawab dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan maupun tindakan yang dilakukan.
Sesi materi kedua CDP 2026 ini diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam aktivitas KM3 sehari-hari. Para kader diharapkan mampu mengubah pola pikir dari “saya bagian dari organisasi” menjadi “organisasi ini juga menjadi tanggung jawab saya.”
Dengan demikian, tekannya, CDP bukan hanya menjadi ruang untuk menambah wawasan keorganisasian, tetapi juga menjadi proses menumbuhkan kader yang aktif, peduli, bertanggung jawab, dan siap memberikan kontribusi nyata.
Sebab, organisasi akan menjadi kuat bukan karena banyaknya anggota, melainkan karena anggotanya memiliki rasa memiliki dan kemauan untuk bergerak bersama. (*)
Penulis Bagus Rifani. Editor Ichwan Arif.












