Ngilmui Siyam

Kurikulum Ramadhan

43
×

Kurikulum Ramadhan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Kurikulum Ramadhan

Ilustrasi Opini Kurikulum Ramadhan (AI)

Nikmati setiap jam puasa sebagai waktu belajar. Saat merasa lelah atau lapar, diri perlu disugesti dengan, “ini adalah proses belajarku untuk menjadi pribadi yang tidak bergantung pada materi, tapi bergantung pada Ilahi.”

Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com – “Tujuan dari puasa adalah berakhlaq dengan salah satu akhlaq Allah Ta’ala, yaitu al-Shomadiyyah (Maha Dibutuhkan/Tidak Bergantung pada makan dan minum)” Kitab Asrar al-Shaum (I: 308)

Memasuki hari ketujuh, banyak dari kita yang mulai masuk ke dalam survival mode atau mode bertahan hidup.

Hitungan di atas kertasnya, fokus mulai bergeser dari yang awalnya ingin khatam al-Qur’an atau memperbaiki akhlak, menjadi sekadar bagaimana supaya hari ini cepat berlalu tanpa perlu lemas.

Ramadhan pun sering diperlakukan seperti terowongan gelap yang harus segera dilewati agar bisa kembali ke “kehidupan normal” saat Idul Fitri nanti.

Salah kaprah yang sudah berkembang adalah anggapan Ramadan sebagai interupsi tahunan, bukan sebuah transformasi. Akibatnya, setelah sebulan penuh berpuasa, karakter kita tetap sama.

Kita masih temperamental, masih gemar membuang waktu, dan masih sulit khusyuk dalam ibadah. Jika Ramadhan hanya dianggap sebagai perubahan jadwal makan, maka ia tak ubahnya seperti jet lag yang akan hilang begitu saja saat polanya kembali normal.

Puasa sebagai Proses “Menjadi”

Ramadan bukan sekadar jeda, tapi bulan madrasah (sekolah) perbaikan sifat sekaligus karakter. Imam al-Ghazali menawarkan perspektif yang revolusioner.

Dalam konteks puasa, Ramadan adalah bulan di mana manusia berupaya untuk “naik kelas” secara spiritual dengan berlandaskan akhlaq-Nya Sang Pencipta (al-Shomadiyah) yang tidak memerlukan makan dan minum.

Secara prosesnya meneladani apa yang dicontohkan para malaikat yang selalu mensucikanNya dengan menahan segala bentuk hawa nafsu. Karena manusia bukan malaikat, maka menahannya mulai terbit sampai terbenamnya matahari.

Untuk tingkatan dasar, kebanyakan orang hanya “numpang lewat” di madrasah ini. Mereka hadir secara fisik, tapi tidak belajar apa-apa.

Begitu Ramadan usai, mereka kembali ke kebiasaan lama tanpa ada kurikulum batin yang membekas. Di tingkatan selanjutnya, seseorang mulai menjadi “murid” yang serius.

Mereka belajar mendisiplinkan pancaindera. Setiap hari adalah latihan bagi diri untuk tidak berbohong dan tidak marah, serta untuk peduli kepada sesama. Ramadan bagi mereka adalah laboratorium penataan sifat dan karakter.

Baru pada tingkat atas, sebagai “mahasiswa tingkat akhir” dalam spiritualitas, mereka tidak lagi belajar cara menahan lapar, tapi belajar cara hidup “bersama” Tuhan.

Puasa bagi mereka adalah momen di mana jasad melemah agar ruh bisa belajar terbang menuju Tuhannya; menggapai kesadaran Tuhan hadir dalam setiap proses kehidupan.

Bagi al-Ghazali, keberhasilan puasa tidak dilihat dari seberapa kuat kita menahan haus, tapi seberapa banyak sifat-sifat kebinatangan (seperti rakus, marah, egois, dll) yang berhasil kita kikis dan digantikan dengan sifat-sifat “ketuhanan” (seperti penyabar, penyayang, pemaaf, dsb).

Menyusun Kurikulum Pribadi

Ramadan menyisakan 23 hari ke depan. Agar tidak menguap begitu saja, kesempatan yang ada dari Ramadhan kita seriusi sebagai madrasah diri dengan tiga aturan pokok.

Pertama, menentukan satu mapel utama. Pilih satu kelemahan karakter diri yang paling dominan (seperti: mudah marah di jalan raya atau hobi ghibah).

Dalam hal ini, kita tidak boleh mencoba mengubah segalanya sekaligus. Sehingga, sisa Ramadan ini bisa menjadi kelas intensif untuk menaklukkan kelemahan secara bertahap.

Kedua, mengevaluasi raport harian. Sebelum tidur, lakukan audit singkat semisal, “apakah hari ini aku lebih sabar dibanding kemarin? Apakah lisanku sudah lebih terjaga?” Jika belum ada kemajuan, jangan menyerah. Besok adalah hari “sekolah” puasa yang selanjutnya.

Ketiga, menghapus kebiasaan menunggu waktu berbuka. Nikmati setiap jam puasa sebagai waktu belajar. Saat merasa lelah atau lapar, diri perlu disugesti dengan, “ini adalah proses belajarku untuk menjadi pribadi yang tidak bergantung pada materi, tapi bergantung pada Ilahi.”

Andai esok adalah hari kelulusan Ramadhan, kira-kira nilai apa yang akan kita dapatkan di dalam raport khusus karakter? Apakah kita benar-benar sedang belajar menjadi pribadi yang lebih baik, atau kita hanya sedang menghitung mundur kalender? (*)

Editor Ichwan Arif.