Ngilmui Siyam

Lapar dan Mengelola Nafsu

39
×

Lapar dan Mengelola Nafsu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Lapar dan Mengelola Nafsu
Ilustrasi opini Lapar dan Mengelola Nafsu (AI)

Hati yang kenyang akan cenderung keras dan gelap. Dengan lapar yang disadari, hati menjadi lembut, jernih, dan lebih peka untuk menangkap sinyal-sinyal ke-Tuhan-an yang selama ini tertutup oleh tebalnya lemak syahwat.

Oleh *F. Risallah, Ph.D.*, Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com“Sesungguhnya tujuan puasa adalah menundukkan musuh Allah (setan)…dan menundukkannya adalah dengan mematahkan syahwat” Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 302)

Memasuki hari kedua, tantangan biologis mulai terasa nyata. Jam-jam kritis antara dzuhur hingga ashar sering kali menjadi momen di mana energi merosot tajam.

Kerongkongan mulai terasa kering, dan konsentrasi perlahan memudar. Namun, perhatikan apa yang terjadi di kepala kita. Saat perut kita semakin kosong, pikiran kita justru menjadi sangat “penuh”.

Saat lapar, pikiran secara otomatis mulai menginventarisir menu berbuka dengan sangat detail; menghitung menit demi menit menuju Maghrib; atau bahkan menjadi lebih sensitif dan mudah marah kepada rekan kerja hanya karena masalah sepele.

Di sini kita terjebak dalam satu ironi. Kita merasa sudah berpuasa karena perut sudah perih, padahal kita hanya sedang memindahkan fokus dari “makan sekarang” menjadi “makan nanti”. Jika lapar hanya berakhir pada rasa lemas tanpa perubahan sikap, bukankah itu hanya “diet yang tertunda”?

Lapar sebagai Strategi Perang

Dalam Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali memberikan perspektif yang sangat tajam. Beliau memandang tubuh manusia sebagai medan pertempuran.

Setan, menurut beliau, masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah, dan “bahan bakar” utamanya adalah syahwat atau keinginan nafsu.

Bagi al-Ghazali, lapar bukanlah siksaan, melainkan senjata strategis. Mindset ilahiyah ini perlu dilatih oleh setiap hamba yang mengharapkan puasanya diterima Allah.

Beliau menjelaskan bahwa perut yang kenyang adalah tanah yang subur bagi tumbuhnya sifat-sifat kebinatangan. Sebaliknya, rasa lapar berfungsi untuk “mempersempit” jalan setan tersebut.

Berdasarkan klasifikasi puasa yang masyhur oleh beliau, untuk level awwam merasakan lapar hanya dirasakan sebagai penderitaan fisik. Seorang hamba di level ini hanya mendapat lapar dan haus saja, sementara egonya tetap menguasainya.

Pada level yang kedua, level Khusus, menggunakan lapar untuk menjinakkan pancaindera. Saat perut lapar, mata menjadi enggan melihat yang haram, dan lisan menjadi terlalu lemas untuk bergunjing.

Lapar mulai berubah menjadi “rem” bagi kemaksiatan. Level selanjutnya yaitu level Khusus al-Khusus, rasa lapar dipandang sebagai cara untuk “menipiskan” hijab antara hamba dan sang Pencipta.

Al-Ghazali menegaskan bahwa hati yang kenyang akan cenderung keras dan gelap. Dengan lapar yang disadari, hati menjadi lembut, jernih, dan lebih peka untuk menangkap sinyal-sinyal ke-Tuhan-an yang selama ini tertutup oleh tebalnya lemak syahwat.

Mengubah Keluhan Menjadi Kekuatan

Agar rasa lapar anda hari ini tidak terbuang percuma, cobalah lakukan tiga  langkah praktis berikut, pertama audit emosi saat lapar

Saat perut mulai perih dan kesabaran anda diuji, sadari bahwa itu adalah momen “ego” anda sedang sekarat. Alih-alih marah, katakan dalam hati: “rasa lapar ini adalah air untuk memadamkan api nafsuku;”

Kedua, latihan setengah kenyang.” Uji kualitas lapar Anda nanti saat berbuka. Berhentilah makan sebelum Anda merasa benar-benar kenyang.

Al-Ghazali memperingatkan bahwa jika kita “balas dendam” saat maghrib tiba, maka semua manfaat spiritual dari rasa lapar di siang hari akan musnah seketika.

Ketiga, visualisasi jalur setan. Bayangkan rasa haus dan lapar Anda sedang mempersempit ruang gerak sifat buruk (seperti sombong atau dengki) dalam diri. Jadikan lapar sebagai alat kontrol, bukan alasan untuk menjadi emosional.

Coba, ingat momen paling lapar Anda hari ini! Apakah saat itu Anda menjadi lebih lembut kepada orang di sekitar? Atau justru menjadi “monster” yang mudah tersinggung? Jika lapar membuat kita makin emosional, mungkinkah. (*)

Editor Ichwan Arif