Ngilmui Siyam

Membersihkan Indera Pendengaran

76
×

Membersihkan Indera Pendengaran

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Opini Membersihkan Indera Pendengaran
Ilustrasi Opini Membersihkan Indera Pendengaran (AI)

Dalam rangka membersihkan indera pendengaran, kita berkewajiban melibatkan telinga untuk ikut berpuasa. Langkah pertama yang perlu kita tempuh adalah 5-Minute Exit.

Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com – “Menahan diri dari mendengarkan dari segala hal yang tidak pantas; karena segala sesuatu yang dilarang untuk diucapkan juga dilarang untuk didengarkan” Kitab Asrar al-Shaum (I: 306)

Kita mungkin merasa aman karena selama berpuasa kita berhasil menahan diri untuk tidak mencaci orang atau memulai gosip. Kita merasa sudah cukup sholih hanya dengan diam. Namun, kenyataan di sekitar kita berkata lain.

Misal di kantor, saat rekan kerja mulai spill the tea (membicarakan keburukan seseorang), kita tetap duduk di sana menyimak dengan saksama. Mungkin juga kita sesekali mengangguk setuju. Di dunia digital pun demikian.

Bisa jadi kita sengaja mendengarkan podcast yang isinya hanya membongkar aib orang lain atau menonton video drama yang penuh dengan caci maki.

Dalam bisikan pembenaran, mungkin terbersit, “kan bukan saya yang ngomong, saya cuma terikut mendengar.”

Padahal, secara ekosistem spiritual, pendengar adalah partner aktif dari pembicara. Telinga kita sedang “memakan” bangkai saudara kita sendiri melalui suara-suara tersebut.

Kita tidak memasukkan air ke kerongkongan, tapi kita memasukkan polusi suara ke dalam hati yang sedang kita bersihkan. Fenomena asap “perokok pasif” sudah bertransformasi menjadi “pendengar pasif.”

Telinga sebagai Penyuplai Hati

Hal ini telah ditegaskan oleh Imam al-Ghazali. Hukum mendengar itu sama dengan hukum berucap. Mengapa demikian? Karena apa yang masuk melalui telinga akan langsung diolah oleh pikiran dan menetap di hati.

Bagi mereka yang puasa di maqam dasar, urusan telinga bukanlah perhatian utama. Mereka tetap mendengarkan apa saja termasuk musik yang melalaikan atau obrolan kosong. Dengan catatan asal perut tetap kosong. Mereka tidak sadar bahwa suara yang buruk bisa merusak keabsahan ibadah.

Bagi yang berada di maqam pertengahan, telinga harus “dikunci”. Mereka tahu bahwa mendengar ghibah (gunjingan) membuat mereka menjadi “sekutu” si penggunjing.

Menurut al-Ghazali, seorang pendengar adalah salah satu dari dua orang yang melakukan ghibah. Mereka yang di maqam ini akan menghindar atau bahkan menegur jika ada suara-suara yang merusak pahala puasanya.

Sedangkan di maqam atas, telinga benar-benar hanya diperuntukkan bagi suara-suara yang membawa kedekatan kepada Allah. Mereka hanya ingin mendengar lantunan al-Qur’an, zikir, atau ilmu yang bermanfaat.

Suara duniawi yang sia-sia dianggap sebagai kebisingan yang mengganggu frekuensi hubungan mereka dengan Sang Pencipta. Pesan utamanya adalah telinga yang bocor akan membuat hati bocor juga.

Bagaimana kita bisa fokus mengingat Allah jika telinga kita masih penuh dengan rekaman aib orang lain dan narasi kebencian.

Menapis Suara Sekitar

Dalam rangka membersihkan indera pendengaran, kita berkewajiban melibatkan telinga untuk ikut berpuasa. Langkah pertama yang perlu kita tempuh adalah 5-Minute Exit.

Jika kita terjebak dalam lingkaran obrolan yang mulai menjurus ke arah ghibah atau hal negatif, kita anggarkan waktu 5 menit. Jika tidak bisa mengubah topik pembicaraan, kita bisa cari alasan yang sopan untuk menghindar.

Bisa kita sampaikan, “maaf, saya harus menyelesaikan sesuatu.” Prinsipnya, kita wajib melindungi telingamu sebagaimana kamu melindungi mulutmu dari air.

Langkah selanjutnya, Diet Audio dengan mengganti daftar putar (playlist) audio kita hari ini. Kita alihkan dari musik/obrolan yang melalaikan ke murottal al-Qur’an, kajian singkat, atau bahkan keheningan total.

Rasakan bagaimana keheningan bisa memberikan kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh kebisingan dunia. Langkah pamungkas adalah Active Silence. Saat mendengarkan orang lain bicara, kita saring informasinya.

Jika isinya tidak bermanfaat, jangan biarkan ia mengendap. Segera timpa dengan zikir dalam hati agar “suara buruk” itu tidak sempat meracuni hati diri kita.

Yang perlu kita tanyakan pada diri adalah, suara apa yang paling banyak masuk ke telinga kita sejak pagi tadi? Apakah suara-suara itu membuat semakin ingat kepada Tuhan, atau justru membuat pikiran menjadi negatif tentang orang lain? Ingat, telinga yang berpuasa adalah telinga yang hanya rindu pada kebenaran ilahi. (*)

Editor Ichwan Arif.