
Rasakan bagaimana zikir tersebut seolah-olah “mendinginkan” permukaan jalan darah kita yang sedang panas oleh rasa lapar.
Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik
Selawe.com – “Sesungguhnya setan itu berlari dalam diri anak Adam melalui aliran darah, maka persempitlah jalan alirannya dengan rasa lapar” Kitab Asrar al-Shaum (I: 302)
Satu hal yang selalu ditanyakan banyak orang tentang puasa adalah tentang realitas belenggu setan. Meskipun sudah berpuasa, mengapa dorongan untuk melakukan hal-hal yang “kurang baik” tetap saja muncul?
Misalnya, keinginan untuk melihat hal-hal yang tidak bermanfaat saat scrolling media sosial, perasaan ingin menang sendiri dalam debat di grup WhatsApp, atau sekadar keinginan untuk dipuji karena kita terlihat “sangat kuat” menjalani puasa.
“Katanya setan dibelenggu saat Ramadan, tapi kok dorongan buruk (syahwat) ini masih terasa nyata?”
Pertanyaan ini membingungkan. Masalahnya, kita sering lupa bahwa ada pintu-pintu di dalam diri kita yang masih terbuka lebar. Kita menahan lapar, tapi kita membiarkan ruangan spiritual kita penuh sesak dengan adrenalin dari emosi dan keinginan-keinginan duniawi yang tidak terkendali.
Kita berpuasa secara fisik, tapi “aliran darah” mental kita masih sangat lancar untuk dilewati oleh ego dan bisikan-bisikan yang merusaknya.
Mempersempit Jalur Tol Ego
Berangkat dari pesan Rasulullah SAW, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa setan itu tidak bekerja secara sihir dari luar, melainkan memanfaatkan sistem internal kita melalui aliran darah dan syahwat (nafsu).
Syahwat adalah “bahan bakar” sekaligus “jalan raya” bagi pengaruh buruk untuk menguasai hati. Di jalur tol yang sepi, kita berpuasa hanya dengan melakukan gencatan senjata sementara dengan makanan.
Tapi karena saat berbuka seringkali perut langsung diisi secara maksimal, jalur darah kita kembali lebar dan “setan” (dalam bentuk dorongan nafsu) kembali memiliki akses penuh. Ini yang membuat puasa kita terasa seperti roller coaster emosi. Maksudnya, tenang saat lapar tapi kembali liar setelah kenyang.
Di jalur yang mulai ramai, puasa ibarat upaya “penyempitan jalur”. Dengan rasa lapar yang konsisten dan terkendali, energi untuk marah, berbohong, atau pamer menjadi melemah.
Mereka sadar bahwa saat tubuh lemas, ego tidak punya daya untuk “berlari” kencang. Sedang di jalur tol yang tidak hanya dipersempit tapi “ditutup” bagi selain Allah, lapar bukan lagi alat pencegah, tapi cara untuk mengosongkan diri agar aliran darah kita hanya dipenuhi dengan zikir dan kesadaran akan Allah. Inilah bentuk detoksifikasi total dari puasa.
Ketika jalur aliran ego dipersempit, puasa adalah bentuk “sabotase” yang cerdas terhadap nafsu. Jika nafsu diibaratkan kendaraan, maka lapar adalah cara kita untuk mengosongkan tangki bensinnya. Tanpa bensin (syahwat), setan tidak akan bisa mengemudikan diri kita menuju keburukan.
“Maintenance” Jalur Darah
Agar puasa hari ini benar-benar efektif memutus rantai ego, kita bisa mencoba langkah konkret dalam membersihkan kualitas darah kita.
Pertama, sadari ajakan keinginan. Setiap kali muncul keinginan yang tidak perlu seperti ingin belanja barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, ingin berkomentar kasar, atau ingin divalidasi, maka berhentilah sejenak.
Perlulah kita tarik napas dan menyadari bahwa itu adalah ego yang sedang mencoba “balapan” di aliran darah kita.
Kedua, persempit dengan zikir. Saat rasa lapar memuncak, jangan sampai kita luapkan dengan mengeluh. Gunakan momen itu untuk berzikir dengan tenang.
Rasakan bagaimana zikir tersebut seolah-olah “mendinginkan” permukaan jalan darah kita yang sedang panas oleh rasa lapar.
Ketiga, latihan mental bertahap. Coba untuk tidak langsung memuaskan keinginan kecil kita hari ini. Misalnya, tahan keinginan untuk mengecek HP setiap 5 menit. Dengan menahan keinginan-keinginan kecil ini, kita sebenarnya sedang mempersempit jalur masuknya pengaruh buruk ke dalam hati.
Mana yang lebih mendominasi aliran darah kita hari ini? Apakah rasa syukur karena bisa mendekat pada Tuhan, atau rasa gelisah karena keinginan-keinginan yang belum terpenuhi? Jika kita masih merasa gelisah, jangan-jangan kita masih memberi “ruang” terlalu luas bagi ego untuk berlari di dalam diri kita. (*)
Editor Ichwan Arif.












