Ngilmui Siyam

Menganggap “Sah” tapi “Kosong”

44
×

Menganggap “Sah” tapi “Kosong”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Menganggap Sah tapi Kosong
Menganggap “Sah” tapi “Kosong”

Jika puasa diibaratkan sebagai sebuah paket kiriman untuk Tuhan, apakah Anda mengirimkan sebuah kotak yang indah tapi kosong, atau sebuah paket yang mungkin sederhana namun penuh dengan isi yang berharga?

Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga” Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 307)

Pernahkah Anda melihat orang yang menahan lapar dengan luar biasa, tapi jempolnya tidak berhenti mengetik komentar jahat di media sosial? Atau mereka yang menjaga tenggorokan dari setetes air, namun lisannya tetap “basah” menggunjingkan aib rekan kerja di kantor?

Inilah realita kita. Di masyarakat, kita sering sangat teliti pada hal-hal teknis sehingga muncul ungkapan yang menggelitik, “Tadi aku tertelan ludah, batal tidak ya?” atau “Aku pakai obat tetes mata, sah tidak ya puasaku?”

Tentu, mengerti dan menjaga batasan fiqh itu wajib dalam puasa. Namun, masalahnya adalah ketika kita merasa sudah “aman” hanya karena tidak makan dan minum. Kita sebenarnya terjebak dalam aspek administratif ibadah.

Kita merasa sudah beres dengan Tuhan begitu azan maghrib berkumandang, padahal selama belasan jam sebelumnya, jiwa kita tidak beranjak ke mana-mana. Jiwa diri sebenarnya tetap kerdil, penuh dendam, dan rakus akan perhatian manusia.

Ziarah (Batin) Jiwa

Puasa punya dua wajah yaitu wajah luar (dzohir) yang diatur oleh disiplin fiqh, dan wajah dalam (batin) yang diatur oleh ilmu tauhid. Ini yang menjadi sorotan utama oleh Imam al-Ghazali.

Dalam hal ini seperti orang yang puasa tapi tetap bermaksiat. Ibarat lain adalah orang yang mengusap anggota wudunya tiga kali secara sempurna (secara lahiriyah sah), tapi ia mengusapnya dengan air yang tidak suci.

Dalam klasifikasi beliau, puasanya level umum sah di atas kertas karena syarat dan rukun dzohir terpenuhi, apalagi perut telah kosong. Tapi, ini adalah puasa yang “mati” menurut pandangan al-Ghazali. Ia seperti sebuah badan tanpa nyawa, atau sebuah hadiah yang indah bungkusnya namun di dalamnya kosong melompong.

Pada level khusus, puasa mulai melampaui tataran jasadiyah. Seseorang mengerti bahwa puasa mata dari melihat konten toxic atau puasanya telinga dari mendengarkan hoaks adalah bagian dari “keabsahan” batiniah. Maksiat sudah cukup diyakini sebagai “pembatal” pahala, meskipun tidak membatalkan puasa secara hukum.

Puasa yang sampai pada kebebasan sejati adalah yang puasa level Istimewa. Orang di level ini tidak lagi bertanya “Apa yang membatalkan puasa?”, tapi “Apa yang menjauhkan hatiku dari Allah?” Baginya, puasa adalah proses detoksifikasi jiwa secara total.

Imam al-Ghazali ingin kita memahami agar jangan sampai kita sudah susah payah menanggung lapar, tapi di akhir hari, timbangan amal kita kosong karena semua pahalanya habis “dimakan” oleh lisan dan hati yang tidak ikut berpuasa.

Ngobrol dengan (Jiwa) Diri

Dalam praktiknya, agar puasa kita hari ini tidak sekadar menjadi catatan administratif malaikat, maka perlu kita ikhtiarkan untuk: (i) Detoks Notifikasi, dengan coba mengurangi konsumsi konten yang memicu emosi negatif (gosip artis, debat politik yang kasar, atau pamer kemewahan).

Anggaplah ini sebagai “syarat sah” batiniah puasa kita. (ii) Audit Lisan Spontan, sebelum berbicara, kita memberi jeda tiga detik. Tanyakan ke diri kita sendiri: “Apakah kata-kataku ini akan merusak pahala lapar yang sedang kujalani?” Jika ya, lebih baik diam.

Yang perlu kita ingat, diamnya orang puasa adalah tasbih, tapi hanya jika diamnya itu diniatkan untuk menjaga kesucian ibadah. (iii) Niat “Hidup,” saat merasa sangat lemas, kita segera mengatakan: “Ya Allah, aku tidak hanya sedang menahan lapar, aku sedang mengosongkan diri dari selain-Mu.”

Dari sini, akhirnya kita mampu merubah rasa lapar menjadi dialog batin dengan Tuhan.

Jika puasa diibaratkan sebagai sebuah paket kiriman untuk Tuhan, apakah Anda mengirimkan sebuah kotak yang indah tapi kosong, atau sebuah paket yang mungkin sederhana namun penuh dengan isi yang berharga?

Sudahkah puasa Anda hari ini melampaui sekadar urusan perut? (*)

Editor Ichwan Arif