
Sebelum masa audit sesungguhnya datang, kita perlu jujur ke diri sendiri. Ke mana saja kaki kita melangkah hari ini? Apa saja yang sudah dikerjakan oleh jemari kita di layar ponsel?
Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik
Selawe.com – “Menahan anggota tubuh dari dosa, seperti tangan dan kaki dari hal-hal yang dibenci (oleh Allah)“ Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 306)
Karena lapar dan ingin cepat sampai rumah untuk berbuka, kaki kita menginjak pedal atau menarik gas kendaraan lebih dalam, tangan kita memotong jalur orang lain secara kasar, atau menyerobot antrean tanpa rasa bersalah.
Apakah kita pernah melakukan yang demikian? Dengan kata lain, ketika puasa apakah tangan kita justru lebih aktif melakukan hal-hal yang merugikan orang lain?
Contoh lain di dunia digital, tangan kita mungkin begitu ringan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, menekan tombol send untuk pesan yang menyakitkan, atau sekadar menggunakan jari untuk scrolling hal-hal yang memancing syahwat.
Kita sering berpikir bahwa kedzaliman hanya terjadi jika kita memukul atau mencuri. Padahal, setiap gerakan tangan yang merampas hak orang lain atau kaki melangkah menuju kesia-siaan, sekecil apa pun itu, adalah bentuk “kebocoran” energi spiritual yang sangat fatal. Ujungnya, puasa hanya menyisakan lapar dan dahaga.
Anggota Tubuh Hamba Hati
Imam al-Ghazali mencatat bahwa tangan dan kaki bukan sekadar alat mekanis, melainkan “pelayan” bagi perintah hati. Jika hati benar-benar berpuasa, maka pelayan-pelayannya pun akan ikut beradab.
Di barisan umum, puasa tangan dan kaki itu opsional. Mereka merasa puasanya aman meskipun tangannya sibuk mengambil yang bukan haknya atau kakinya melangkah ke tempat-tempat yang melalaikan. Puasa demikian dinilai “cacat” meskipun tidak makan dan minum sampai maghrib.
Di barisan khusus, posisi tangan dan kaki ikut “disumpah” untuk setia pada nilai-nilai puasa. Tangan tidak menyentuh barang yang syubhat (halal-haramnya diragukan).
Kaki tidak melangkah ke kerumunan yang berpotensi maksiat atau terjebak ghibah. Mereka sadar bahwa setiap langkah selalu dicatat sebagai bagian dari rangkaian ibadah.
Pada barisan elit, seluruh gerak tubuh dinilai sebagai manifestasi dari kehadiran Tuhan. Mereka merasa malu jika tangan dan kakinya melakukan sesuatu yang tidak diridai-Nya.
Bahkan setiap gerakan anggota tubuh disadarkan untuk melakukan sujud batin dalam setiap pekerjaan yang dilakukan.
Kesadaran ini bukan tanpa alasan. Mengingat bahwa pada hari kiamat, mulut kita akan dikunci, namun tangan dan kakilah yang akan “berbicara” memberikan kesaksian. Maka, puasa adalah momen latihan terbaik agar catatan tangan dan kaki kita kelak adalah laporan yang indah.
Audit Gerak Seharian
Sebagai bentuk ikhtiar agar anggota tubuh kita kelak siap diaudit oleh Pemilik-nya, maka tangan dan kaki kita perlu dilatih untuk tidak merusak kualitas puasa kita hari ini dan seterusnya.
Kedisiplinan batin berikut ini bisa diterapkan. Pertama, tangan untuk memberi, bukan mengambil. Tangan kita diinstruksikan hanya untuk kebaikan.
Misal, gunakan untuk membantu membawakan belanjaan orang lain, mengetik pesan penyemangat bagi teman yang kesulitan, atau sekadar merapikan tempat shalat. Sederhananya, kita jadikan tangan kita sebagai “kurir” rahmat-Nya Allah.
Kedua, memfilter langkah. Semisal kaki, sebelum ia melangkah menuju suatu tempat, perlu ditanyakan, “Apakah langkah ini akan menambah timbangan pahalaku, atau justru membuang waktu dan energi puasaku?”
Jika tidak ada manfaatnya bagi akhirat atau kebutuhan dunia yang mendesak, lebih baik kita berdiam diri untuk sesuatu yang bermanfaat.
Ketiga, kesadaran di jalan raya. Saat berkendara semisal menjelang berbuka, ketika harus mengalah atau memberi jalan bagi orang lain, kita niatkan sebagai bentuk “sedekah” tangan dan kaki. Ubah rasa lelah kita menjadi kesabaran yang aktif.
Sebelum masa audit sesungguhnya datang, kita perlu jujur ke diri sendiri. Ke mana saja kaki kita melangkah hari ini? Apa saja yang sudah dikerjakan oleh jemari kita di layar ponsel?
Jika tangan dan kaki kita masih lebih sering melakukan hal-hal yang membuat orang lain tidak nyaman, jangan-jangan kita baru sekadar memuaskan keinginan tubuh, namun belum benar-benar “memerintahkan” tubuh untuk ikut berpuasa? (*)
Editor Ichwan Arif












