Ngilmui Siyam

Pahala Bocor tanpa Sadar

77
×

Pahala Bocor tanpa Sadar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi opini Pahala Bocor Tanpa Sadar
Ilustrasi opini Pahala Bocor tanpa Sadar (AI)

Kita ucapkan istighfar segera dan mendoakan kebaikan bagi orang yang mungkin telah tersakiti. Yakinilah itu sebagai “tambalan” darurat bagi pahala puasa kita yang bocor.

Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com – Lima hal yang membatalkan (pahala) orang yang berpuasa: berdusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu, dan memandang dengan syahwat Kitab Asrar al-Shaum (I: 306)

Seberapa sering kita melakukan dusta kecil dalam sehari? Ramadan ini momen yang tepat untuk kita bertanya ke diri sendiri sejujurnya.

Mungkin kita berbohong kepada atasan tentang alasan terlambat, memanipulasi harga saat berjualan, atau sekadar membuat janji palsu kepada teman.

Ironisnya kita sering menganggap ini hal sepele, bahkan semacam pemanis dalam interaksi sosial.

Kita kenal istilah seperti “roasting” yang dibungkus untuk memperhalus fenomena caci maki agar tampak keren.

Misalnya di media sosial atau WAG, kita mungkin pernah melontarkan kata-kata tajam yang sebenarnya menyakitkan hati orang lain, lalu berlindung di balik kalimat, “maaf cuma bercanda, jangan baper dong!”

Ini layaknya kita menahan diri dari makan, tapi lidah tetap lincah menyakiti perasaan seseorang. Kita menyangka status puasa kita aman-aman saja selama kerongkongan tidak kemasukan air, padahal batin kita baru saja melakukan “pembunuhan karakter” terhadap sesama.

Kebocoran Pahala yang Tak Disadari

Dari kutipan hadits riwayat sahabat Anas r.a. Imam al-Ghazali memperingatkan bahwa ruh dan pahala puasa kita berpotensi besar hancur, meskipun tidak secara legal (fiqh).

Minimal dusta dan caci maki adalah racun yang paling cepat merusak kejernihan hati. Bagi kebanyakan awam, menjaga diri dari tidak makan minum dilakukan dengan sangat hati-hati, tapi sama sekali tidak punya rem untuk berbohong atau mencela.

Tipe ini menurut al-Ghazali seperti orang yang lelah membawa wadah air, namun wadahnya bocor di sana-sini. Sampai di garis finish (gaghrib), airnya (pahalanya) sudah habis tak tersisa.

Bagi tipe khusus, kejujuran disadari sebagai bagian dari ibadah. Dalam keyakinan mereka, satu kebohongan—sekecil apa pun—adalah pengkhianatan terhadap “kejujuran” perutnya yang sedang lapar.

Ia juga menjaga lisannya dari kata-kata kasar karena ia tahu bahwa lisan yang digunakan untuk memuji Allah tidak pantas digunakan untuk merendahkan makhluk-Nya.

Sedang bagi tipe tertinggi, lisan benar-benar difungsikan sebagai cermin kebenaran mutlak. Mereka tidak hanya menghindari dusta kepada orang lain, tapi juga dusta kepada diri sendiri dan terkhusus kepada Allah.

Setiap kata yang keluar mencerminkan doa, kebenaran, dan kesejukan. Apa yang ditekankan al-Ghazali bahwa puasa adalah latihan untuk menjadi Siddiq (orang yang jujur). Jika kita masih berbohong saat berpuasa, dengan kata lain kita sebenarnya sedang memalsukan ibadah kita sendiri.

Menerapkan Zero Lie Challenge

Kita semua ingin pahala puasa kita tidak bocor alias berkurang. Latihan batin berikut ini perlu kita ikhtiarkan bersama agar puasa hari ini naik kelas.

Pertama, berani menantang diri sendiri 24 jam tanpa dusta. Hari ini bisa kita coba untuk benar-benar jujur dalam setiap ucapan, sekecil apa pun risikonya.

Jika kita merasa harus berbohong untuk menutupi kesalahan, lebih baik diam atau akui dengan jujur. Kita bisa merasakan betapa beratnya menjadi orang yang jujur saat perut sedang lapar, namun ini melegakan sebenarnya.

Kedua, jeda 1 detik. Setiap kali ingin mengkritik atau melontarkan sindiran, baik secara lisan maupun tulisan, kita berhenti sejenak beberapa detik.

Kita langsung interogasi diri, “Apakah kata-kataku ini membangun atau menghancurkan?”  Jika ia berpotensi menyakiti, kita tarik keinginan kita tersebut bersama rasa lapar dan haus yang ada.

Ketiga, menambal bocor dengan istighfar.  Jika tanpa sengaja lisan kita tergelincir melakukan ghibah atau dusta, jangan tunggu nanti.

Kita ucapkan istighfar segera dan mendoakan kebaikan bagi orang yang mungkin telah tersakiti. Yakinilah itu sebagai “tambalan” darurat bagi pahala puasa kita yang bocor. Istighfar adalah penambal mujarab bagi kebocoran pahala.

Jadi, lebih mudah mana menahan haus seharian atau menahan satu kalimat sarkas yang sudah di ujung lidah? Jika kita masih merasa sulit untuk jujur, mungkinkah ego kita masih jauh lebih kuat daripada iman kita? (*)

Editor Ichwan Arif