Ruang Opini

Penjaga Nilai Kepemimpinan Muhammadiyah

211
×

Penjaga Nilai Kepemimpinan Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Kader Muh
Penjaga Nilai Kepemimpinan Muhammadiyah

Kader muda yang energik dan mempunyai ketertarikan khusus dalam bidang keagamaan, maka akan banyak peluang Muhammadiyah untuk mencetak para kader ulama di Muhammadiyah.

Oleh Hudzaifaturrohman, Wakil kepala bidang Ismuba SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik

Selawe.com – SMA Muhammadiyah 10 (Smamio) GKB Gresik merupakan Sekolah Menengah Atas yang concern terhadap regenerasi kepemimpinan baik di kalangan Persyarikatan Muhammadiyah maupun di level nasional.

Hal tersebut diimplementasikan melalui pendampingan khusus terhadap organisasi-organisasi yang tumbuh dan berkembang di lingkungan sekolah yang di-handle langsung oleh siswa. Seperti Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), SMAMIOTIFO, grup supporter dalam berbagai event, Hizbul Wathan (HW), dan Kader Muballigh Muda Muhammadiyah (KM3).

KM3 merupakan organisasi yang fokus strukturalnya adalah mendevelop siswa yang memiliki kemampuan lebih dalam bidang keagamaan dan leadership.

Di dalamnya tertanam kuat militansi kader Muhammadiyah karena dalam organisasi tersebut pimpinan dan anggota didoktrin untuk selalu mengawal setiap putusan Muhammadiyah, khususnya dalam bidang keagamaan.

Nomenklatur KM3 mengacu pada istilah yang diinisiasi oleh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah yaitu Korps Muballigh Muhammadiyah. Namun di Smamio kita menggunakan akronim KM3 yang memiliki kepanjangan Kader Muballigh Muda Muhammadiyah.

Kenapa demikian? Karena memang anggota yang masuk dalam organisasi KM3 masih dalam masa pembelajaran.

Tentunya perkaderan ini ada dalam rangka mencetak kader-kader pemimpin yang tidak hanya cakap dalam urusan retorika dan public speaking saja.

Namun bagaimana setiap kader KM3 mampu dan layak untuk terjun di masyarakat untuk memberikan siraman-siraman rohani dan keagamaan dengan obyek dakwah yang multisegmentasi.

Dalam banyak hal KM3 menjadi solusi ampuh dalam upaya mendukung program besar Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mencetak kader ulama di Muhammadiyah. Karena dengan adanya kader-kader muda yang energik dan mempunyai ketertarikan khusus dalam bidang keagamaan, maka akan banyak peluang Muhammadiyah untuk mencetak para kader ulama di Muhammadiyah.

Namun demikian, tidak mudah dalam memberikan pendampingan bagi para kader muballigh muda. Perlu adanya prinsip leadership yang kuat yang tidak hanya bertumpu pada asas komando asal tunjuk atau asal mau. Namun perlu adanya prinsip leadership dengan asas keteladanan.

Karena di situlah nilai-nilai religiusitas dalam jiwa anggota akan selalu melakat. Sebagaimana yang di contohkan Nabi SAW. Uswah Hasanah. (*)

Editor Ichwan Arif