Ngilmui Siyam

Puasa Bicara tanpa Makna

68
×

Puasa Bicara tanpa Makna

Sebarkan artikel ini
Puasa Bicara tanpa Makna
Ilustrasi opini Puasa Bicara tanpa Makna (AI)

Sebagai evaluasi harian, dari seribu kata yang kita keluarkan hari ini berapa banyak yang benar-benar bermanfaat bagi orang lain atau bagi akhirat kita?

Oleh F. Risallah, Ph.D., Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com – “Menahan lisan dari menggerutu, dusta, ghibah, adu domba, kata-kata kotor, ucapan kasar, permusuhan, dan perdebatan, serta mengharuskannya untuk diam dan menyibukkannya dengan zikir kepada Allah Ta’ala dan membaca Al-Qur’an, adalah puasanya lisan.” Kitab Asrar al-Shaum (I: 306)

Di zaman media sosial saat ini, definisi bicara sudah meluas. Mengetik status, membalas tweet dengan nada sarkas, atau sekadar ikut-ikutan berkomentar di isu yang sebenarnya kita tidak paham, adalah bentuk lain dari “lisan” di zaman modern.

Ketika puasa, apakah kita pernah merasa lelah bukan karena menahan lapar, tapi karena terlalu banyak bicara atau “berkomentar” sepanjang hari?

Ada sebagian dari kita yang sering merasa terbebani jika tidak ikut berkomentar. Mereka sebenarnya takut dianggap tidak punya opini, sehingga memenuhi ruang obrolan dengan pembicaraan yang sebenarnya “kosong”.

Pembicaraan hanya untuk mengisi kesunyian, atau lebih buruk lagi hanya untuk menjatuhkan orang lain agar terlihat lebih tinggi. Padahal, saat puasa, energi diri sangat terbatas. Bukannya untuk hal positif, energi yang ada justru menguap habis bersama dengan sia-sianya kalimat yang keluar dari mulut dan ujung jari kita.

Diam adalah Tameng

Dalam tingkatan puasa khusus, Imam al-Ghazali menempatkan penjagaan lidah sebagai pilar penting. Ada istilah al-hadhayan, yang harus benar-benar diwaspadai terkhusus ketika puasa.

Bisa diartikan sebagai “bicara tanpa makna, menggerutu atau igauan duniawi.” Mengapa penting diwaspadai? Kita ketahui lidah adalah cerminan langsung dari kondisi hati. Hati yang tenang tidak akan menghasilkan lisan yang gaduh.

Lihah pada tingkatan puasa dasar biasanya tidak ikut berpuasa. Ia sanggup tidak makan 14 jam, tapi tidak sanggup berhenti mengeluh, menyindir, atau berbohong dalam 5 menit.

Puasa bagi jenis lidah ini sah secara hukum, tapi bagi al-Ghazali, ini seperti orang yang membangun istana di siang hari namun membakarnya di sore hari dengan kata-katanya sendiri.

Sedangkan lidah yang lebih khusus, mulai mempraktikkan “seni diam” (al-Samt). Ia hanya bicara jika ucapannya mengandung manfaat, doa, atau kebaikan. Ia sadar bahwa setiap kata yang keluar adalah “investasi.”

Ia akan selalu mempertimbangkan, apakah akan menambah pahala atau justru membangkrutkan tabungan amalnya kelak di hari kiamat.

Untuk lidah yang paling tinggi, ia benar-benar menjadi pelayan hati yang sedang asyik dengan Pencipta-nya. Ia merasa malu jika harus menggunakan lidahnya untuk membicarakan dunia, sementara hatinya sedang dalam jamuan Ilahi. Diamnya adalah tafakur, bicaranya adalah zikir.

Hal ini bisa menjadi pengingat kita bahwa banyak orang masuk neraka hanya karena “panen” dari lisan mereka. Puasa adalah momen terbaik untuk melakukan “gencatan senjata” pada lisan kita sendiri

Melatih Otot “Diam”

Untuk memperbaiki kualitas lisan kita agar benar-benar ikut berpuasa dan memberikan ketenangan pada jiwa, minimal langkah-langkah berikut ini perlu kita biasakan.

Pertama, terapkan filter T.H.I.N.K. Sebelum berucap atau mengetik komentar, tanyakan kepada diri apakah ini Benar (True), Membantu (Helpful), Penting (Important), Perlu (Necessary), dan Baik (Kind)? Jika tidak memenuhi syarat ini, lebih baik tekan tombol back atau kita tutup mulut.

Kedua, puasa komentar 24 jam. Hari ini, kita perlu menantang diri untuk tidak memberikan opini pada hal-hal yang tidak diminta atau tidak mendesak. Belajarlah untuk menjadi pendengar yang baik atau cukup tersenyum tanpa perlu menimpali obrolan yang sia-sia.

Ketiga, ganti “bisikan” dengan zikir. Setiap kali kita merasa ingin bicara hal yang tidak berguna (seperti mengeluh kepanasan atau lapar), segera ganti dengan istighfar atau sholawat dalam hati. Ubah kebisingan lisan menjadi melodi batin yang menenangkan.

Sebagai evaluasi harian, dari seribu kata yang kita keluarkan hari ini berapa banyak yang benar-benar bermanfaat bagi orang lain atau bagi akhirat kita?

Jika lidah kita masih lebih sibuk membicarakan kesalahan orang lain daripada memohon ampun atas kesalahan sendiri, mungkinkah puasa kita masih di level menunda makan-minum? (*)

Editor Ichwan Arif