Liputan

Pengusaha Batik Batik Pitutur Ajak Siswa Spemdalas Cintai Kearifan Lokal

70
×

Pengusaha Batik Batik Pitutur Ajak Siswa Spemdalas Cintai Kearifan Lokal

Sebarkan artikel ini
Siswa Spemdalas
Aneng Rose Widuriana saat mendampingi siswa Spemdalas dalam belajar membatik dalam kegiatan OTM, Selasa (12/11/2025).

Selawe.com – Program Orang Tua Mengajar (OTM) SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik menghadirkan pengalaman belajar bermakna tentang kearifan lokal, Selasa (12/11/2025).

Siswa Kelas VIII Erbium berkesempatan belajar langsung bersama pengusaha batik dari Batik Pitutur Aneng Rose Widuriana yang juga merupakan orang tua dari Mazaya Yuuko Abian (8E) dan Airana Haruko Abian (9F). Kegiatan berlangsung pukul 08.00–10.00 dan disambut antusias oleh seluruh siswa.

Dalam tema Mencintai Kearifan Lokal dengan Membatik, Aneng mengenalkan proses membatik menggunakan teknik Remasol, mulai dari peralatan, pembuatan pola, teknik malam, pewarnaan, fiksasi warna, hingga proses pelorodan.

Penjelasan yang runtut dan disertai contoh batik asli membuat siswa semakin memahami bahwa batik merupakan warisan budaya Indonesia yang bernilai tinggi.

Usai pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik membatik secara langsung. Sebanyak 31 siswa dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok putra dan kelompok putri. Masing-masing kelompok mengerjakan batik pada kain yang telah disiapkan dan nantinya akan dijadikan taplak meja batik.

Sesi praktik berlangsung meriah dan penuh semangat. Siswa terlihat antusias mencobakan canting, mengaplikasikan malam, serta mewarnai kain menggunakan teknik Remasol yang dipelajari hari itu.

Siswa VIII Farisa Azra Rahmania mengungkapkan rasa senangnya mengikuti kegiatan ini. “Saya senang sekali bisa praktik membatik. Saya juga diberi kesempatan untuk membuat batik dengan menggambar motif pudak. Ini pengalaman baru dan sangat seru,” ujarnya dengan wajah gembira.

Koordinator Kegiatan Fitri Wulandari, S.Pd. menyampaikan kegiatan orang tua mengajar kali ini memberikan ruang kreativitas bagi siswa. Selain belajar teknik membatik, mereka juga diberi kesempatan menuangkan ide dan simbol lokal seperti motif pudak, sehingga semakin dekat dengan budaya daerah.

“Kegiatan Orang Tua Mengajar ini tidak hanya menambah keterampilan seni siswa, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap kearifan lokal serta membangun kerja sama yang positif antara sekolah, orang tua, dan peserta didik,” katanya.

Dia berharap melalui pengalaman langsung seperti ini, siswa semakin menghargai proses dan nilai budaya yang ada dalam setiap lembar kain batik Indonesia. (*)

Penulis Ria Rizaniyah. Editor Ichwan Arif.