
Berita yang biasa-biasa saja, ya dampaknya ya biasa-biasa saja. Maka, tidak sekadar rumus 5W+1H, tetapi tulisan harus mengandung sesuatu yang spesial, sehingga pembaca tergoda membaca
Selawe.com – Selama bertahun-tahun, formula 5W + 1H—what, who, when, where, why, dan how—dianggap sebagai fondasi utama dalam penulisan berita.
Rumus ini memang krusial untuk memastikan informasi tersaji lengkap, jelas, dan faktual. Namun dalam lanskap media yang semakin padat dan kompetitif, mengandalkan 5W + 1H saja sudah tidak cukup.
Pembaca saat ini tidak hanya mencari informasi; mereka mencari pengalaman, kejutan, dan kedalaman. Di sinilah unsur “wow” menjadi penting.
Unsur “wow” bukan berarti sensasi murahan atau dramatisasi berlebih. Justru, unsur ini hadir dari kemampuan jurnalis menggali keunikan suatu peristiwa dan menyajikannya dengan gaya yang membuat pembaca berhenti sejenak, tertarik, lalu terus membaca sampai akhir.
Keunikan bisa datang dari sudut pandang yang tidak biasa, detail kecil yang jarang diperhatikan, atau cara bercerita yang segar dan hidup.
Di era media sosial, ketika judul dan paragraf pertama menentukan apakah seseorang akan membaca atau menggulir layar, kemenarikan menjadi kunci.
Sebuah berita harus mampu memikat tanpa kehilangan integritas. Misalnya, berita tentang banjir bukan hanya soal ketinggian air atau jumlah korban.
Ada cerita tentang seorang anak yang menyelamatkan buku pelajarannya, atau pedagang kecil yang tetap membuka lapak demi pelanggan setia. Detail seperti ini memberi warna, kedalaman, dan daya tarik emosional.
Pada akhirnya, menulis berita adalah seni meramu fakta dengan cerita. 5W + 1H memastikan berita berdiri kokoh di atas dasar yang benar, tetapi unsur “wow” membuatnya hidup, bernapas, dan beresonansi dengan pembaca.
Tanpa itu, berita hanya menjadi rangkaian informasi; dengan itu, berita menjadi kisah yang layak untuk dicerna, diingat, dan dibagikan kembali.
Berita biasa (hanya 5W+1H), contohnya:
Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali erupsi pada Selasa (21/1) pukul 07.45 WIB. PVMBG melaporkan kolom abu setinggi sekitar 800 meter dari puncak mengarah ke barat daya. Letusan terjadi akibat peningkatan tekanan magma di kawah Jonggring Seloko.
Petugas menghimbau warga untuk tetap waspada dan menjauhi radius berbahaya 5 kilometer dari kawah. Hingga kini tidak ada laporan korban jiwa, namun aktivitas pendakian ditutup sementara.
Berita dengan unsur WOW, contohnya:
Letusan mengejutkan terjadi saat Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, mengeluarkan erupsi besar, Selasa (21/1) pagi. Dalam hitungan detik, langit yang semula cerah berubah gelap, tertutup kolom abu yang membumbung lebih dari 1 kilometer.
Suara gelegar keras terdengar hingga pemukiman, memicu kepanikan warga yang langsung keluar rumah dan menjauhi zona berbahaya.
Relawan dan tim PVMBG bergerak cepat memberikan masker dan mengarahkan warga ke titik aman. Meski dramatis, hingga kini belum ada laporan korban jiwa. Aktivitas pendakian ditutup total, sementara material vulkanik terus terbawa angin ke arah barat daya.
Maka, unsur WOW itu sangat penting. Kapan kita menemukan WOW tersebut? Ketika Anda menulis dan bukan sekadar angan-angan. Selamat mencoba! (*)
Penulis Ichwan Arif.












