BlogNgilmui Siyam

I’tikaf Hati

85
×

I’tikaf Hati

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Opini Itikaf Hati 1
Ilustrasi Opini I’tikaf Hati (AI)

Jika i’tikaf adalah soal “pemutusan hubungan,” satu kesibukan duniawi apa yang paling berani kita putuskan hubungannya hari ini demi menyambung kembali hubungan dengan-Nya?

Oleh *F. Risallah, Ph.D.*, Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) dan Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) GKB Gresik

Selawe.com – “Keberlanjutan dalam i’tikaf lebih diutamakan…tidak boleh memutusnya untuk keperluan lain.” Imam al-Ghazali, Kitab Asrar al-Shaum (I: 305)

Kita sudah memasuki malam-malam awal di sepertiga terakhir. Tidak sedikit dari kita yang merasa sedih atau merasa gagal karena tidak bisa pergi ke masjid untuk ber-i’tikaf secara fisik.

Faktor-faktor seperti tuntutan pekerjaan, menjaga anak, atau kondisi kesehatan, seringkali belum mengizinkan diri menikmati I’tikaf di masjid.

Namun, hari ini kita akan belajar bahwa i’tikaf yang paling hakiki berkaitan dengan posisi hati, tidak tersekat oleh lokasi.

Di era digital ini, mungkin kita pernah menyaksikan orang sedang beri’tikaf di masjid, tapi larut dengan ponselnya memantau promo e-commerce. Bukannya memanfaatkan Qur’an digital, malah ada yang berani bermain game.

Bahkan ada pula yang mulutnya sibuk berbisik membicarakan urusan dunia dengan kawan di sebelahnya. Secara fisik ia ada di rumah Tuhan, namun hatinya sedang tawaf dan sa’i di pasar.

Di sisi lain, ada yang sedang bekerja di kantor dengan tuntutan sampai larut malam, atau seorang ibu RT yang sibuk di dapur menyiapkan sahur, namun di dalam dadanya, ia terus berdialog dengan Tuhannya.

Hatinya sunyi dari ambisi, mulutnya basah dengan zikir, dan jiwanya merasa sedang “berdiam diri” di hadapan Ilahi. Siapa yang sebenarnya sedang ber-i’tikaf?

Hati yang Menetap

Bagi imam al-Ghazali, meski secara bahasa i’tikaf berarti menetap atau berdiam diri, jika tubuh menetap di masjid tapi hati melanglang buana ke mana-mana, maka i’tikaf kehilangan nyawanya.

Pada umumnya, masih banyak yang menganggap i’tikaf hanyalah pindah tempat tidur. Mereka bangga bisa menginap di masjid, namun tidak ada perubahan kualitas batin. Fokusnya hanya pada durasi, bukan pada esensi.

Meskipun demikian, ada di antara mereka yang menjaga jasadnya di masjid sekaligus juga menjaga panca inderanya dari hal yang sia-sia. Mereka akhirnya mulai merasakan ketenangan karena berhasil memutus kontak dengan kebisingan sosial.

Bagi sebagian kecil, ada yang menjalankan i’tikaf hati. Imam al-Ghazali menekankan bahwa tujuan akhir dari ibadah ini adalah agar hati terbiasa “menetap” bersama Allah. Bahkan setelah ia keluar dari masjid nanti, hatinya tetap merasa dalam kondisi i’tikaf.

Mereka menemukan kesunyian batin di tengah hiruk-pikuk, bahkan keramaian pasar sekalipun. Menurut beliau, i’tikaf fisik adalah sarana untuk melatih i’tikaf hati. Jika kita tidak bisa melakukan sarananya, jangan sampai kita melewatkan tujuannya.

Membangun Kubah di Dalam Dada

Meskipun hari ini harus bekerja atau beraktivitas padat, kita tetap bisa menjemput keberkahan sepuluh malam terakhir dengan, pertama, menciptakan sesi hening mikro. Di sela kesibukan, kita bisa ambil waktu 5 menit setiap satu atau beberapa jam.

Matikan semua layar, tutup mata, dan bayangkan diri kita sedang bersimpuh di hadapan Allah. Kemudian dengan lirih mengatakan, “ya Allah, tubuhku sedang bekerja, tapi hatiku sedang beri’tikaf kepada-Mu.

Kedua, kita tetapkan untuk mengurangi berbicara yang tidak perlu hari ini. Kita mengkondisikan diri seolah sedang berada di dalam masjid yang tenang. Ini termasuk menghindari perdebatan atau drama di medsos. Dengan kata lain, kita lindungi “kesunyian” hati sedemikian rupa seperti sedang berada di ruang paling suci.

Ketiga, menata mindset bekerja sebagai ladang ibadah. Jika sedang memasak, mengemudi, atau mengetik, kita niatkan itu semua sebagai khidmah (pelayanan) liLlah, karena Allah. Saat tangan-kaki bekerja, biarkan hati tetap ber-i’tikaf dengan terus mengulang-ulang doa atau zikir.

Jika i’tikaf adalah soal “pemutusan hubungan,” satu kesibukan duniawi apa yang paling berani kita putuskan hubungannya hari ini demi menyambung kembali hubungan dengan-Nya?

Editor Ichwan Arif.