Ruang Opini

Menumbuhkan Rasa Peduli melalui Berinfak

14
×

Menumbuhkan Rasa Peduli melalui Berinfak

Sebarkan artikel ini
Infak
Ilustrasi opini Menumbuhkan Rasa Peduli melalui Berinfak (Al)

Berinfak juga membantu membentuk konsep diri yang positif. Siswa yang terbiasa berbagi akan melihat dirinya sebagai pribadi yang peduli, penuh empati, dan berarti bagi lingkungan sekitar. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri.

Oleh Nur Eliza Feby Alfiandari, S.Psi., guru Bimbingan Konseling (BK) SMP Muhammadiyah 12 (Spemdalas) GKB Gresik

Selawe.com – Sebagian besar umat Islam sangat menantikan hadirnya bulan Ramadan, karena bulan ini dipercaya sebagai bulan suci yang penuh ampunan dan keberkahan.

Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lansia menyambut kedatangannya dengan penuh sukacita.

Ramadan bukan sekadar bulan untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjadi momen istimewa untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, serta meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

Salah satu bentuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama di bulan Ramadan adalah dengan berinfak. Infak menjadi sarana bagi setiap orang untuk berbagi rezeki dan membantu mereka yang membutuhkan.

Di sekolah kami, kegiatan infak harian sudah diterapkan sejak lama sebagai bagian dari pembiasaan karakter siswa. Khusus saat bulan Ramadan, siswa dihimbau untuk lebih memperbanyak infak sebagai bentuk rasa syukur sekaligus melatih siswa menumbuhkan jiwa dermawan.

Berinfak memberikan banyak manfaat bagi siswa, terutama dalam membentuk rasa empati pada siswa. Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar untuk lebih peka dan peduli terhadap kondisi orang lain yang membutuhkan.

Mereka tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga mulai memahami pentingnya berbagi. Selain itu, kebiasaan berinfak juga dapat menumbuhkan rasa syukur atas rezeki yang telah Allah berikan. Siswa menyadari bahwa di dalam rezeki yang dimiliki juga terdapat hak orang lain di dalamnya.

Manfaat berinfak tidak hanya pada sisi spiritual saja, tetapi juga memiliki kaitan yang erat dengan psikologi, terutama dalam perkembangan emosi dan kepribadian siswa.

Secara psikologis, tindakan memberi dapat menimbulkan perasaan bahagia karena seseorang merasa dirinya bermanfaat bagi orang lain.

Ketika siswa berinfak, mereka merasakan kebahagiaan batin yang muncul dari rasa empati dan kepedulian. Perasaan ini dapat meningkatkan suasana hati serta membantu mengurangi stres dan kecemasan.

Selain itu, berinfak juga membantu membentuk konsep diri yang positif. Siswa yang terbiasa berbagi akan melihat dirinya sebagai pribadi yang peduli, penuh empati, dan berarti bagi lingkungan sekitar. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri.

Dari sisi perkembangan sosial-emosional, kebiasaan berinfak melatih kemampuan memahami perasaan orang lain dan mengontrol dorongan untuk bersikap egois.

Dengan demikian, berinfak bukan hanya praktik ibadah, tetapi juga menjadi sarana pembentukan kesehatan mental dan karakter yang seimbang pada siswa. (*)

Editor Ichwan Arif.